
Siapa sangka kepulanganku dari tukang pijat ternyata membawa kabar baik. Ya, ibu memaafkanku.
Ternyata jatuhku membawa berkah. Ibu memaafkanku dan juga meminta maaf, mengatakan harusnya dia mendukungku. Karena pasti ini semua juga terasa berat bagiku.
Ya, meskipun ibu merasa kecewa padaku, tapi setidaknya ibu sudah memaafkanku.
Suasana rumah sudah kembali seperti semula sekarang. Ibu, bapak, dan Dika, sikap mereka kembali seperti biasanya.
"Ada bagusnya juga kamu jatuh ya, Yas," ucap Aril.
"Iya, eh?" Aku yang sedang duduk di kasur menghadap laptop langsung menoleh ke Aril yang duduk di kursi. "Jadi kamu seneng aku jatuh?" selidikku.
Ya, nggak heran sih. Aku yang notabene adalah musuhnya dari dulu, pasti dia senang melihatku menderita.
"Bukan gitu maksud aku. Lihat sisi baiknya. Ibu sudah memaafkanmu, bundaku juga sudah memaafkanku."
Halah! Aku rasa itu cuma alasan aja. Palingan aslinya dia senang melihatku menderita gini.
"Tapi Ril, kalau bundamu sudah maafin kamu, kok kamu nggak pulang?"
Aril berdecak. "Meskipun aku sudah dimaafkan, tapi tetep nggak boleh pulang kalau nggak sama kamu. Emangnya masuk akal, kita pacaran sampai hamil di luar nikah, eh, pas udah nikah malah nggak serumah?"
"Iya juga sih," gumamku lirih, tapi masa iya Aril harus tidur di kamarku terus. Sampai kapan? Sampai masalah ini selesai dan sampai pisah? Haaah.
"Makanya, kalau ngomong itu dipikir dulu!"
Aku hanya mencebikkan bibir menanggapi ucapan Aril. Kututup laptop karena tidak ada ide yang keluar dari kepala. Beralih membuka Facebook dari ponsel. Membaca komentar pembaca di cuplikan bab novel yang kuposting untuk promosi.
Tak sengaja sudut mataku menangkap Aril sedang mesam-mesem sambil menatap ponsel di tangannya. Jarang-jarang aku melihat ekspresi wajahnya yang seperti ini.
Dipikir-pikir, Aril tidak terlalu menyebalkan, tapi kok aku nggak suka banget sama dia ya? Ah, kenapa mesti dipikir? Sudah jelas alasannya karena dia adalah sainganku. Ditambah lagi ekspresi mengejeknya ketika selalu menang dariku.
Kulirik lagi Aril yang masih tersenyum sambil menatap layar ponsel.
Sebenarnya apa sih yang membuatnya tersenyum seperti itu? Apa dia lagi chatan sama gebetannya?
Ah, bodo amatlah. Aku kembali membaca satu persatu komentar para pembaca. Bibirku senyum-senyum sendiri membaca komentar mereka. Sesekali aku juga membalasnya. Rasanya seperti membalas pesan pacar.
Ah, andai saja di aplikasi novel like dan komennya sebanyak ini.
__ADS_1
***
Aku terbangun begitu mendengar suara merdu yang sedang membaca Al-Qur'an.
"Aargh!" Badanku terasa kaku dan begitu digerakkan malah sakit. Sepertinya ini efek dari jatuh kemarin.
"Sakit ya? Kalau habis jatuh emang gitu." Suara laki-laki mendekat ke arah ranjang. "Mau ke mana? Ke kamar mandi? Ayo aku bantu."
Aku melongo menatap laki-laki yang memakai baju koko warna coklat dan peci warna hitam di depanku.
Buset! Ganteng amat! Datang dari mana pangeran ini?
Aku duduk dibantu olehnya. Kusipitkan mata yang masih buram karena baru bangun tidur. Setelah mengucek mata, kutatap lekat laki-laki yang duduk di bibir ranjang.
Tunggu! Ini mah Aril, Yas! Bisa-bisanya baju koko dan peci yang dipakainya membuatku jadi pangling! Aish, mana pakek muji ganteng lagi!
"Yas, kok malah bengong?"
"Eh, eng-nggak kok." Aku segera memalingkan wajah ke arah lain.
"Kalau mau ke kamar mandi, ayo aku anterin. Kakimu pasti kaku semua dan susah dibuat jalan."
Wangi tubuhnya memenuhi indra penciumanku karena tubuh kami yang begitu dekat.
"Ssh, aduh …." Pahaku rasanya kaku saat dibuat jalan.
"Aku gendong aja ya?"
"E-eh!?" Tanpa persetujuanku, tiba-tiba Aril menggendongku. "Turunin Ril. Aku masih bisa jalan!"
"Udah, diem." Aril mulai berjalan keluar kamar, melewati ruang TV untuk sampai ke kamar mandi yang berada di sebelah dapur.
Keluar dari kamar mandi aku kembali digendongnya menuju kamar.
Hembusan napasnya menerpa wajah ketika dia membaringkanku di ranjang.
Bukannya langsung beranjak, Aril malah duduk di sampingku yang sedang rebahan.
Aku sedikit terkejut ketika tiba-tiba tangannya menyelipkan anak rambut ke belakang telinga.
__ADS_1
Jantungku mendadak dangdutan di dalam sana.
Oy jantung! Jangan seenaknya dangdutan dong! Bisa diem nggak?!
Dari rambut, tangan Aril turun ke pipi dan mengusapnya pelan.
Jangan sentuh pipiku! Pasti sangat berminyak karena baru bangun tidur!
Kutepis tangan Aril. "Apaan sih, Ril? Kamu kerasukan apa?"
Wajahnya terus mengulum senyum sejak tadi.
Nggak! Ini bukan Aril! Aril nggak akan senyum kayak gini!
Aril menangkap tanganku yang tadi menepis usapannya di pipi.
"Yas … sebenarnya, aku suka sama kamu."
Apa?!
Mataku terbelalak mendengar pengakuan Aril.
"Selama ini aku nggak tahu gimana cara ngungkapinnya. Apalagi kamu selalu menganggapku sebagai musuh."
Aku sampai menahan napas mendengar apa yang diucapkan Aril.
"Meskipun pernikahan ini terjadi karena kesalahpahaman, tapi aku senang."
Aku tak bisa berkata-kata lagi, lidahku kelu. Apalagi sekarang kedua tanganku digenggamnya.
"Bolehkah aku …." Aril tak melanjutkan ucapannya, hanya wajahnya yang tiba-tiba mendekat.
Dia mau apa?! Kenapa aku tak mampu menolak dan malah memejamkan mata?!
Kurasakan napas Aril begitu dekat.
Apa yang kau tunggu Yas?! Buka matamu dan dorong dia!
Kurasakan tangan Aril menahan kepalaku. Kemudian setelah itu ….
__ADS_1