PERKARA NAMA PENA

PERKARA NAMA PENA
Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Tidak ada yang bisa kulakukan selain berpura-pura merasa sakit. Bukankah perempuan yang mengalami keguguran akan merasakan sakit?


Aku berpura-pura merintih layaknya orang yang merasakan sakit teramat sangat. Perut yang sedari awal memang sakit kupegang dengan kedua tangan. 


Entah kebetulan atau apa, Mas Bayu yang selama ini selalu membawa sepeda motor saat datang ke rumah, hari dia datang dengan mobil berwarna abu-abu. 


Aku diboyongnya ke dalam mobil bagian penumpang, dibaringkan di sana dengan berbantalkan p*ha ibu. 


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi atas permintaan ibu. 


Ya Allah, bagaimana ini?


Aku sampai berkeringat dingin. Ibu sedari tadi terus saja mengatakan agar mempercepat laju kendaraan. Padahal ini sudah cepat, kurang cepat apalagi? 


Aril … aku harus bagaimana? Kamu ada di mana? 


Tanpa sadar bibirku bergumam, mengucapkan nama Aril dengan lirih, dan ternyata ibu mendengarnya.


"Iya, Diyas. Ibu sudah menghubungi Aril, tapi ponselnya tidak aktif," terang ibu. Kemudian terdengar kalau ibu menghubungi mertuaku, memintanya menyusul ke rumah sakit, setelah sebelumnya bertanya kepada Mas Bayu, rumah sakit mana yang hendak kita tuju.


Aku tambah ketar-ketir mendengar penjelasan Mas Bayu bahwa ada saudaranya yang berkerja di sana. Dan dia yakin saudaranya pasti bisa menyelamatkanku dan bayi, yang sebenarnya tidak ada. 

__ADS_1


Keringat dingin terasa semakin bercucuran. Ibu mengusapinya dengan penuh kehati-hatian, seakan-akan diri ini akan koyak bila ibu mengusapnya dengan penuh tenaga. Ah, padahal kemarin-kemarin kepala ini selalu digetoknya dengan centong sayur. 


Diusapnya kepala ini dengan rasa kasih sayang. Wajahnya menunjukkan gurat khawatir. Berkali-kali mengatakan kata penenang untukku, mengatakan sebentar lagi kami akan segera sampai ke rumah sakit. 


Padahal, semakin kita mendekati rumah sakit, bukan tenang yang kurasa. Bayangan Puput yang akan ketahuan oleh orang tuanya menari-nari di kepalaku.


"Tenang, Diyas. Kamu jangan khawatir, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit," ucap ibu. 


Justru aku semakin khawatir kalau kita sampai di rumah sakit! 


Bukan cuma ibu yang menunjukkan ekspresi cemas, laki-laki yang duduk di balik kemudi itu juga menunjukkan ekspresi yang sama seperti ibu. 


Sesekali kudapati dirinya melihatku dari kaca spion mobil yang berada di atasnya. 


Jelas tidak ada yang bisa kulakukan untuk mencegah ke rumah sakit. Apalagi laju mobil sudah seperti di film Fast Furious. 


Aku harap ban mobil bocor atau macet, atau meteor jatuh sekalipun tidak apa-apa. Yang terpenting bisa menghambat perjalanan ke rumah sakit.


Sayangnya harapanku tidak terkabulkan. Begitu sampai di rumah sakit, aku langsung digendong Mas Bayu keluar dari mobil.


Selanjutnya, persis seperti adegan di sinetron-sinetron. Mas Bayu berteriak meminta pertolongan pada perawat yang ada di sana. 

__ADS_1


Ril, kamu ada di mana? 


Aku berteriak memanggil nama Aril di dalam hati.


Secepat kilat aku sampai di sebuah ruangan, yang jelas aku sudah bukan ketar-ketir lagi, tapi sudah senam jantung. Apalagi melihat Dokter laki-laki yang akan menanganiku. 


"Luk, tolong selamatkan Diyas dan bayinya," ucap Mas Bayu pada dokter yang kuduga adalah saudaranya yang dia ceritakan di mobil tadi.


Aku menahan lengan Mas Bayu yang hendak keluar dari ruangan. Mas Bayu menatapku dengan tatapan yang … entahlah, aku tidak bisa menjabarkannya. Sorot matanya tampak begitu khawatir. 


Bagaimana aku harus menjelaskannya? Semua akan berakhir saat dokter ini tahu bahwa aku tidak hamil. 


Apa yang akan terjadi? Bagaimana dengan Puput?


"Tenang, Yas. Kamu dan bayimu akan selamat.* Mas Bayu melepaskan tanganku dari lengannya. Segera kuraih lengan itu kembali. Aku menggeleng menatap Mas Bayu. Kutatap Mas Bayu dan Dokter laki-laki yang bernama Lukman secara bergantian.


"Jangan takut, Yas." Mas Bayu menggenggam tanganku.


Aku takut ketahuan, Mas! 


Ketika Mas Bayu kembali melepaskan tanganku yang menahan kepergiannya, aku yang sedari tadi berbaring langsung bangkit duduk.

__ADS_1


"Aku nggak keguguran, Mas!"


__ADS_2