
Mataku membulat saat organ pencernaan yang pertama milik kami saling menyatu. Organ pencernaan yang pertama? Apa itu? Tentu saja mulut.
"Hmph!" Aril membuatku kehabisan oksigen. Aku berusaha melepaskan tangannya yang menahan tengkukku.
Segera aku berdiri saat tidak berhasil melepaskan tangan Aril. Membuatnya mengaduh sakit karena jatuh ke lantai.
"Kamu udah gila ya, Ril! Aku hampir saja kehabisan napas! Kalau aku metong gimana?!" Kuusap bibirku, mukaku rasanya panas. Jantungku rasanya seperti akan meledak saking cepatnya memompa aliran darah.
"Kamu nggak mungkin metong, karena separuh jiwamu adalah aku."
Padahal itu adalah dialog yang aku karang di dalam novelku, tapi mukaku rasanya tambah panas sehingga membuatku memalingkan wajah saking malunya.
"Dasar mesum!"
"Mesum sama istri sendiri dapat pahala." Aku mendelik ke Aril mendengar jawabannya.
Kuhempas kaki ini keluar dari kamar. Jantungku benar-benar akan meledak jika terus berada di dalam sana.
Aku bersandar pada dinding di luar kamar dengan mata terpejam. Berusaha menetralkan detak jantung.
Bayangan apa yang dilakukan Aril barusan kembali terlintas meskipun aku sudah menggeleng-gelengkan kepala. Kuraba bibir ini.
Aaaa. Aril kupreet!
"Yas, kamu kenapa senyum-senyum sendiri?"
__ADS_1
Astaga!
Aku sampai terjingkat gara-gara bunda yang tiba-tiba muncul dari arah dapur..
"Muka kamu juga merah. Kamu sakit?" Bunda menempelkan punggung tangannya ke dahiku.
"Nggak, Bun. Diyas nggak sakit." Aku menurunkan tangan Bunda.
"Aneh, kenapa muka kamu merah padahal badannya nggak panas. Mending kamu istirahat aja di kamar, sore ini nggak usah bantuin masak."
Justru sumber masalahnya ada di dalam kamar, Bun!
***
"Emm, tumis kangkung udangnya enak!" Mati-matian aku menyembunyikan senyum mendengar Aril mengatakan masakan yang aku buat enak.
Duuh, bunda, kenapa malah bilang. Aku tak berani melirik Aril meskipun dia duduk di sampingku, karena jika aku melihatnya, maka aku akan kembali terbayang kejadian di kamar tadi.
Tiba-tiba saja aku merasakan genggaman pada tangan kiriku yang berada di bawah meja. Sontak aku menoleh ke Aril.
"Suapin," bisiknya, saat bunda bangkit menuju ke arah kulkas untuk mengambil air dingin.
"Ogah!" Kutarik tanganku dari genggamannya, tapi segera diraihnya kembali.
"Satu kali aja."
__ADS_1
"Gunanya tanganmu itu apa?" Aku sedikit menggeser kursiku menjauh darinya. Namun dalam sekali tarikan, kursiku kembali dekat dengan kursi Aril.
"Aku cium lagi nih!"
Mataku membulat saat wajah Aril mendekat. Tanganku refleks mendorong wajahnya, langsung kujejalkan dua udang ke dalam mulutnya.
"Ril, enak sih enak. Tapi jangan maruk juga kali. Sampai penuh gitu mulutnya," ujar bunda saat kembali ke meja makan. Aku hanya bisa memalingkan wajah menahan senyum melihat mulut Aril yang penuh.
"Bun, Bunda pingin segera dapat cucu kan?"
Nasi yang baru saja kumasukkan langsung tersembur keluar mendengar ucapan Aril yang tiba-tiba.
Kupukul-pukul dada ini karena keselek. Kusambut gelas berisi air yang disodorkan oleh Aril.
"Pelan-pelan, Ma."
Air yang baru saja kutenggak, kembali tersembur keluar gara-gara Aril memanggilku mama.
"Ih, Mama jorok." Kutanggapi ucapan Aril dengan pelototan mata.
"Mama?" tanya bunda.
"Iya, membiasakan diri dari sekarang, biar nanti kalau punya anak nggak kaget," jawab Aril, kemudian dia memekik kecil saat pinggulnya aku cubit.
"Maka dari itu, Bun, biar cepet dapat momongan, Aril mau minta izin sama Bunda untuk pergi bulan madu," tambahnya.
__ADS_1
Apa? Bulan madu?