
"Iya. Kamu pasti tidak akan keguguran." Mas Bayu menggenggam erat jemari ini, seolah sedang menyalurkan kekuatan. "Tapi kamu harus segera diperiksa."
Aku kembali menggeleng. Bukan ini yang aku maksud. Tenggorokanku rasanya tecekat untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Aku nggak keguguran, Mas, karena aku nggak hamil." Tidak ada yang bisa kulakukan selain memberitahunya.
"Apa maksud kamu?" Mas Bayu terlihat terkejut.
"Aku nggak hamil, Mas." Kuulang kembali ucapanku. Dokter Lukman terlihat bingung dengan situasi ini.
"Tapi, darah itu?" Mas Bayu menatapku dengan tatapan tidak percaya.
"Itu bukan darah keguguran, Mas. Aku datang bulan." Malu sebenarnya mengakui ini di depan Mas Bayu, serta dokter dan suster.
"Tolong jangan kasih tahu hal ini ke ibuku, Mas." Semoga Mas Bayu mau memenuhi permintaanku.
Tiba-tiba Mas Bayu melepaskan tanganku dengan sedikit kasar. "Jadi kamu menipu mereka semua?" Aku mengangguk. "Termasuk Aril?"
Aku menggeleng. "Nggak, Aril juga tahu tentang ini. Aku mohon, Mas. Jangan katakan ini pada ibuku." Aku mengiba.
Mas Bayu menatap Dokter Lukman. Meminta waktu dan ruang untuk kami yang ingin berbicara empat mata. Dokter Lukman mengangguk mengerti, tapi dia tidak benar-benar keluar dari ruangan ini, mereka masih ada di dalam ruangan ini, tapi sedikit menjauh dariku dan juga Mas Bayu. Karena kalau keluar, ibu akan curiga. Masa ada pasien gawat darurat malah ditinggal pergi.
"Aku tidak akan membohongi ibumu." Napasku tercekat saat Mas Bayu membuka suara.
"Aku mohon, Mas."
"Ceritakan padaku yang sebenarnya. Baru aku akan merahasiakan ini dari ibumu. Kasih aku alasan kenapa aku harus merahasiakan kebohongan ini."
Aku memejamkan mata sejenak mendengar syarat dari Mas Bayu. Kutatap mata Mas Bayu yang dari kemarin terlihat begitu teduh, tapi kini mata itu berubah tajam seolah ingin mengulitiku.
"Baiklah, sepertinya tidak ada alasan penting kenapa aku harus merahasiakan ini." Mas Bayu beranjak dari sisiku.
__ADS_1
"Tunggu, Mas!" seruku. "Aku akan menceritakan semuanya!" Mas Bayu berbalik lagi setelah mendengar seruanku.
Aku menghirup udara sebagai pasokan sebelum menceritakan semuanya pada Mas Bayu. Aku tidak punya pilihan lagi. Semoga Mas Bayu memenuhi janjinya setelah aku menceritakan yang sebenarnya.
Mas Bayu menjadi pendengar setia selama aku membuka rahasia yang selama ini hanya diketahui oleh tiga orang. Aku menceritakannya secara detail tanpa ada yang terlewat.
"Jadi, kamu dan Aril …." Aku mengangguk mantap menjawab Mas Bayu.
"Sekarang Mas Bayu adalah orang ke empat yang mengetahui rahasia ini, dan Mas harus merahasiakannya. Mas sudah janji."
***
Pintu ruanganku dirawat terbuka secara tiba-tiba dari luar. Sosok tinggi yang membukanya berhambur memelukku yang sedang makan bubur dari rumah sakit.
Aroma yang tak asing memasuki rongga hidungku. Meskipun ini hanya sandiwara, kunikmati pelukan hangat ini.
Nyaman. Itulah yang kurasakan. Aku sampai memejamkan mata, tanganku ikut membalas pelukan Aril.
Rasa khawatir yang sedari tadi memenuhi rongga dada rasanya hilang saat orang ini datang. Tubuhku sepenuhnya bersandar pada tubuh Aril.
Aish! Ada apa denganku? Kenapa malah menikmati pelukannya?
Alasan Aril memelukku selain untuk bersandiwara, adalah supaya dia bisa bertanya seperti barusan.
Kutenggelamkan wajah ini pada d*da bidang Aril yang terasa hangat, kemudian berbisik menjawab pertanyaannya barusan.
"Nanti saja, setelah Ibu dan Bunda keluar dari ruangan ini," bisikku.
Seolah mengerti, ibu dan mertuaku itu keluar dari ruangan di mana aku sedang dirawat, memberikan ruang untuk pasangan yang sedang berpura-pura baru saja kehilangan buah hati mereka.
Ya. Mas Bayu meminta tolong pada Dokter Lukman untuk ikut dalam sandiwara kami dan menyampaikan pada ibuku bahwa aku keguguran.
__ADS_1
Semua berkas hasil pemeriksaan dipalsukan, itu tidaklah sulit, karena ternyata rumah sakit ini milik orang tua Mas Bayu.
Mas Bayu awalnya diam tidak ingin meninggalkan ruangan ini, tapi saat ibu memanggilnya untuk keluar, terlihat laki-laki dengan rambut model tentara itu keluar ruangan dengan ekspresi terpaksa.
"Apa yang terjadi, Yas?" tanya Aril setelah hanya tinggal kami berdua di ruangan ini.
"Kamu tidak hamil, bagaimana bisa kita tidak ketahuan? Dan lagi, apa ini? Infus?" Aril memandang infus yang ada punggung tanganku.
Aku menatap kesal infus itu. Demi mempermulus akting ini, aku sampai rela tanganku benar-benar dipasangi infus. Akting ini benar-benar menyiksa. Meskipun ini hanya vitamin biasa, tapi tetap saja sakit. Kulitku dimasuki jarum, jelas saja sakit!
"Aakh! Jangan dipegang, Dodol! Sakit!" Kupukul tangan Aril yang memegang infus yang terpasang di punggung tangan karena ingin memeriksa keasliannya.
"Ini asli?"
"Iyalah!" sahutku kesal.
"Tapi ini rumah sakit besar, bagaimana mungkin mereka tidak tahu kalau kamu …."
"Mereka tahu," potongku. "Bahkan mereka juga membantu sandiwara kita."
"Hah?"
"Iya. Dokter yang tadi menanganiku adalah saudaranya Mas Bayu, dan rumah sakit ini juga adalah milik orang tua Mas Bayu."
Aku menceritakan pada Aril bahwa aku sudah mengatakan yang sebenarnya pada Mas Bayu agar dia mengunci rapat rahasia ini dari ibu dan juga yang lain.
"Jadi si Bayu itu juga sudah tahu semuanya?" tanya Aril setelah aku selesai bercerita, yang kujawab dengan menganggukkan kepala.
"Kenapa kamu ngasih tahu dia?"
"Aku nggak ada pilihan lain lagi, Ril. Ketimbang semuanya terbongkar. Gimana nasib Puput nanti?"
__ADS_1
Kami terkejut dan langsung berhenti berbicara saat tiba-tiba pintu dibuka dari luar, tapi sedetik kemudian kami bernapas lega saat yang masuk adalah Puput.
"Diyas!"