
Esok paginya ketika sarapan, bapak negara tidak hadir di meja makan.
"Bapak ke mana Bu?" tanyaku setelah menelan kangkung. Ya, kangkungnya masih belum habis gaes.
"Ke Wonoasih, ngambil tulangan sama iga."
"Apa bedanya sih tulangan sama iga. Orang sama-sama tulang."
"Ya bedalah. Tulangan itu, sembarang tulang. Kalau iga itu, rusuk sapi, rusuk!"
"Bukannya rusuk sapi juga tulang ya Bu?"
"Kalau dibilang beda ya beda! Ngeyel amat sih! Nanti kamu ikut ke warung, belajar motong iga!"
Duh, akibat terlalu banyak nanya ini.
"Aku nggak bis–"
"Harus ikut! Kamu harus bisa motong iga. Masa anak pemilik warung bakso iga nggak bisa motong iga."
"Emang harus bisa Bu?"
"Ya haruslah! Nanti warung itu kan bakal jadi milik kamu. Dan sebagai bosnya, harus bisa motong iga, buat bakso, semuanya harus bisa! Biar jadi contoh buat karyawannya!"
"Buat Dika aja deh Bu, warungnya."
Nggak kebayang kalau aku disuruh ngehandle warung.
"Dika juga bakal kebagian."
"Yaudah, kalau gitu ajak Dika juga buat belajar motong iga."
"Dika kan sekolah Yas. Udah, nggak usah na ni nu ne no. Kalau disuruh ikut ya ikut!"
Dika cengengesan melihatku tidak bisa membantah lagi.
Duh, males rasanya harus pegang-pegang tulang yang banyak darahnya. Belum lagi baunya.
Sampai di warung, aku langsung disuruh siap-siap. Memakai celemek merah dengan polkadot hitam. Setelah itu, aku dan ibu gotongan mengeluarkan sebuah meja yang besarnya seperti bangku sekolah dari gudang warung yang letaknya ada di samping warung pas.
Di tengah meja tadi terdapat lempengan tipis berbentuk bulat. Ini adalah mesin yang akan menjadi partnerku dalam memotong iga yang dijemput bapak.
Aish, manja banget sih tuh iga. Pakek acara dijemput segala. Nggak mandiri sama sekali.
"Nih, asah g0loknya. Nanti kamu pisahin iganya pakek ini, setelah itu kamu potong pakek mesinnya." Ibu menyerahkan g0lok dan asahan.
Aku menerima dua benda itu dengan rasa malas yang luar biasa. Kuhempaskan bok0ng di kursi plastik kecil dan mulai mengasah gol0k.
__ADS_1
"Ini, kapaknya juga diasah " Ibu menyodorkan sebuah kapak padaku.
"Udah kayak mau motong kayu aja, pakek kapak segala," gerutuku.
"Nanti, selain tulang iga, kamu motongnya pakek kapak ini," ucap ibu, yang kujawab dengan helaan napas panjang.
"Nanti kalau tanganku kena g0lok gimana Bu?" Aku mencoba beralasan agar terhindar dari tugas bertempur dengan tulang-tulang.
"Emangnya kamu anak kecil? Yang nggak tau cara makek g0lok? Alasan aja kamu itu!"
Aku hanya bisa manyun mendengar jawaban ibu.
"Nggak usah manyun-manyun. Tambah jelek!"
Aish, ibu!
"Sini kamu, ibu ajarin cara nyalain mesinnya."
Aku berdiri memenuhi panggilan ibu yang sedari tadi mengelap meja mesin.
"Setelah kabelnya dicolokin, tekan tombol yang ini." Ibu menunjuk tombol yang ada di bagian samping meja. "Cara matiinnya tinggal tekan lagi tombolnya. Coba kamu tekan."
Aku maju selangkah, mendekat ke meja yang berwarna cokelat itu. Setelah kutekan tombol yang ibu tunjuk, lempengan tipis berbentuk bulat yang ada di tengah meja tadi langsung berputar dan mengeluarkan bunyi yang memekakkan telinga. Segera aku menekan tombol tadi agar mesinnya mati, menyelamatkan telingaku dari kebudekan.
"Bu, telingaku bisa budek dengerin suara mesinnya," keluhku.
"Aku udah nyaut kok Bu. Ibu aja yang nggak deng–" Ucapanku tertahan karena mobil pick up milik bapak sudah datang. Di bak belakang terlihat tulang-belulang yang terlihat sangat merah.
Aku tertegun melihat enam keranjang besar yang berisi tulang-tulang itu.
"Semua tulang itu aku sendiri yang motong Bu?" Aku menoleh ke ibu.
"Iyalah, siapa lagi?"
Aku menarik napas dalam-dalam. Semua tulang-tulang itu sudah diturunkan dari bak mobil.
"Kamu pisahin dulu iga-iganya pakek g0lok tadi, baru setelah itu dipotong pakek mesin. Ini, ibu contohin." Ibu mengiris daging yang menyatukan antara iga satu dan yang lainnya.
Suara yang memekakkan telinga kembali terdengar saat ibu menghidupkan mesin pemotong iga.
"Kamu liat garis ini." Ibu menunjuk tanda garis yang ada di samping lempengan bulat yang sedang berputar. "Ini ukurannya, kamu potong panjangnya segini." Mungkin ukurannya sekitar tujuh centimeter.
Nyiiiieeeet!
Sangat tidak aesthetic sekali bunyi yang dihasilkan ketika iga terpotong oleh mesin itu.
"Nah, sekarang, coba kamu."
__ADS_1
Aku mengambil alih iga yang ada di tangan ibu. Agak deg-degan ketika aku mendekatkan iga ke mesin.
Nyiiiieeeet!
Serbuk tulang iganya bertebaran ke mukaku ketika iganya terpotong.
Haaah … lega setelah berhasil. Ets, jangan senang dulu, perjalanan masih panjang. Ini baru sepotong, sementara yang harus aku potong ada enam keranjang.
"Nah, bisa kan. Ibu ke warung dulu." Setelah kepergian ibu, muncullah bapak.
"Nah, gitu dong. Sekali-sekali bantuin orang tua."
Aku hanya mencebik, tidak ada rasa senang sama sekali mendapat pujian dari bapak.
Apalagi aku menjadi bahan tontonan orang yang lewat, karena aku berada di depan gudang warung yang ada di pinggir jalan raya. Apalagi pas ada anak TK lewat, beeh, berasa jadi badut yang ditonton. Entah apa yang menarik sehingga mereka berhenti berjalan dan menontonku.
Bau tulang yang digergaji sangatlah aneh. Mukaku rasanya penuh dengan serbuk tulang.
Aku rasa pulang dari sini aku udah bisa jadi tukang.
"Ternyata kamu ada di sini." Aku menoleh mendengar suara laki-laki. Ada Aril dengan motor gedenya.
Baru kali ini aku merasa terselamatkan akan kedatangan Aril. Aku langsung mematikan mesin dan mencabut colokannya.
"Pak, aku pergi dulu ya. Udah dijemput sama Aril tuh!" Bapak yang sedari tadi duduk di kuris kecil untuk mengawasiku mengernyit.
Mumpung ibu masih ada di warung, aku harus pergi dari sini.
"Terus ini siapa yang ngerjain?"
"Bapak aja yang ngerjain. Aku ada urusan Pak, penting."
Belum juga bapak menjawab, aku langsung ngibrit menghampiri Aril.
"Ayo Ril, cepetan." Aku menyuruh Aril menghidupkan mesin motor, takutnya ibu keburu keluar dari warung, bisa gagal rencana kaburku.
"Lah, siapa yang mau ngajak kamu pergi?"
"Kamu ke sini mau jemput aku buat beli baju kan?"
"Nggak jadi. Kamu kan sibuk."
"Kata siapa aku sibuk? Nggak kok. Yuklah berangkat!" Aku melepaskan celemek dan melemparkannya ke meja mesin. "Ayo Ril, buruan!" Aku segera naik ke motor Aril yang menurutku sangat tinggi.
Aku tersenyum senang saat Aril mulai menjalankan motornya.
"Loh Pak, itu si Diyas mau ke mana?!" Terdengar teriakan ibu yang membuatku menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Dadah Bu, aku pergi dulu ya!" Aku melambaikan tangan dengan senyum lebar.