PERKARA NAMA PENA

PERKARA NAMA PENA
Apakah Ini Kualat?


__ADS_3

Aku terkekeh kecil sambil menutup mulut dengan tangan. Ya Allah, aku lupa kalau tangan ini habis pegang tulang-tulang sapi. Segera aku mengusapi mulut dengan lengan baju.


"Percuma sepeda motor gede, kalau jalannya kayak sepeda onthel," cibirku saat menyadari motor ini berjalan begitu pelan.


Ngueeeeng! 


Tanpa aba-aba, Aril menaikkan kecepatan, membuatku refleks pegangan pada bagian belakang kerah baju miliknya. Untungnya refleksku bagus. Kalau refleksku meluk, bisa berabe. 


"Woy Ril! Kalau aku jatuh gimana?!" 


"Tadi yang minta dicepetin siapa?" 


Ya kan harusnya ngasih aba-aba dulu. Aku komat-kamit menyumpahi Aril. 


"Singkirkan tanganmu, jangan pegang-pegang. Kamu kan tadi habis pegang tulang sapi. Dan juga, nggak usah komat-kamit baca mantra pelet, nggak mempan, aku rajin sholat." 


Sialan nih Aril. Rupanya kaca spion kiri mengarah padaku. Jadi, dia melihat semua ekspresi wajahku yang memelototinya dari belakang. 


"Enaknya beli baju di mana? Di pasar atau di butik?" tanyanya.


"Siapa yang mau beli baju? Nggak ada, aku mau pulang."


"Lah, bukannya tadi kamu bilang–"


"Lain tadi, lain sekarang," potongku.


"Oh, yaudah, kalau gitu aku putar balik ke warung lagi aja. Supaya kamu lanjutin motong iga-iga tadi." 


"Eh, jangan dong!" seruku saat Aril hendak membelokkan stir motornya, tanganku juga refleks memegang pundaknya. 


"Dibilang jangan pegang-pegang! Tanganmu itu kotor!" Aril menjauhkan pundaknya dari tanganku. 


"Iya deh, kita beli baju, tapi pulang dulu. Aku mau cuci muka sama cuci tangan, bau darah sapi ini," ujarku pasrah.  


"Mandi dong. Jangan cuma cuci muka aja." 


"Bodo amat, ya terserah aku dong."


Motor Aril kembali berjalan. Ketika sampai di jalan turunan yang lumayan sepi, aku melihat Puput sedang tarik-menarik helm dengan Vino, pacarannya. 


"Ril, itu Puput kan?" 


"Kayaknya iya."


Terlihat Vino membanting helm yang mereka rebutkan tadi, setelah itu Vino mengendarai sepedanya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Puput yang tiba-tiba berjongkok. Pundaknya bergetar, tampaknya dia menangis.


"Put," panggilku saat motor Aril sampai di depannya.


Begitu Puput mengangkat wajahnya, aku terkejut melihat sudut bibirnya lebam, seperti habis dipukul.

__ADS_1


"Wajah kamu kenapa Put?" Aku langsung turun dari sepeda. 


"Ah, i-ini … ta-tadi habis jatuh, jatuh dari sepeda." 


Jelas-jelas lebam itu bukan karena jatuh, itu seperti dipukul. 


"Jelas-jelas ini bekas dipukul! Bukan karena jatuh!" seruku kesal. "Vino kan? Kau dipukul dia kan? Sudah aku bilang untuk putus dengan si br3ngsek itu!"


"Bu-bukan." 


"Kenapa kau menutupi–"


"Yas." Aril menarik lengan bajuku dan berbisik, "biarkan, jangan mendesaknya. Biarkan dia bercerita dengan sendirinya."


"Tapi–" Ucapanku tertahan melihat Aril menggelengkan kepalanya perlahan. 


"Sepedaku nggak muat untuk tiga orang. Jadi, aku akan nganterin Puput dulu." Aku hanya mengangguk menjawab ucapan Aril.


Motor Aril mulai menjauh meninggalkanku.


Lah, kenapa tadi aku cuma ngangguk-ngangguk aja? Harusnya aku nanya sama Aril. Habis ini dia jemput aku atau nggak? Mana ini jalannya sepi lagi. Aku berada di jalanan yang pinggirnya nggak ada rumah sama sekali. Cuma ada pepohonan sengon dan semak belukar.


Mau minta jemput Dika, dia sekolah. Masa aku jalan kaki sih? Apa aku tunggu Aril aja? Iya kalau dia menjemputku, kalau nggak? 


Aku tolah toleh menatap semak-semak di pinggir jalan. Mampus, tiba-tiba saja ada anjing hitam keluar dari sana. Jaraknya lima meter dari tempatku berdiri. Kenapa juga anjing itu muncul di saat yang seperti ini?


"Grrrrr." Anjing itu menggeram melihatku.


"Anjing baik, aku nggak mau nganggu kok. Anggap aja kamu nggak liat aku ya." Aku mencoba berjalan menjauh dari anjing itu dengan gerakan perlahan.


"Grrrrrr." 


Kenapa dia terus saja menggeram sih? Tenggorokanku mendadak terasa sulit menelan saliva. 


"Anjing baik, diam di situ ya." Selangkah, dua langkah, aku berjalan perlahan.


"Grrrrr. Guk guk!" 


"Aarrrgggg!" Akhirnya aku berlari setelah sepuluh langkah berjalan pelan di jalan turunan ini. 


Omong kosong soal jangan lari kalau ada anjing. Kalau nggak lari, yang ada aku bakalan digigit.


"Guk guk guk!" Anjing itu terus saja menggonggong. 


Gubrag! 


"Aarg!" Daguku terasa ngilu karena nyungsep dan bergesekan dengan aspal. Perih rasanya saat kuraba. 


"Guk guk guk!" Gonggongan itu memaksaku untuk kembali berdiri dan berlari. 

__ADS_1


Kenapa aku sial banget hari ini? Apa aku kualat gara-gara nggak mau motong iga dan kabur? 


Huaaaa. Aku nggak kuat! Dengkulku rasanya linu! Kebiasaan bertapa di dalam kamar, giliran keluar rumah langsung lari maraton.


Mataku berbinar saat melihat sepeda motor mendekat dari kejauhan. Apalagi melihat siapa yang mengendarai motor itu. Ini kedua kalinya aku merasa senang akan kedatangan Aril. 


"Cepetan Ril!" teriakku.


Begitu Aril sudah sampai di depanku, aku segera naik ke motornya yang tinggi dengan susah payah. Lagian kenapa dia pakek motor ini, sih? Biasanya juga pakek matic.


"Ngapain lari-lari di jalan turunan?"


"Lomba lari! Pakek nanya lagi! Ayo buruan jalan! Kamu nggak liat ada anjing yang ngejar aku?!" 


Aril terkekeh dan mulai menancap gas. Aku menoleh melihat anjing yang masih mengejar dan terus menggonggong.


"Dadah, anjing. Aku duluan ya, weeek." Kupeletkan lidah ke arah anjing itu. 


Namun, tiba-tiba saja motor Aril mulai melambat dan berhenti. 


"Ril, kenapa malah berhenti?!" 


"Nggak tau, ini motornya berhenti sendiri." Aril berusaha menghidupkan mesin motornya. Aku semakin panik karena anjing tadi masih saja mengejar kami dan semakin dekat dengan kami.


"Astaga, bensinnya habis Yas!" 


"Guk guk guk!"


"Lari Ril, lari!" Aku segera turun dan meninggalkan Aril. 


"Tunggu Yas! Motorku gimana?!" 


Aku menoleh ke Aril yang berlari di belakangku. 


"Kunci stang motornya Ril!" 


"Mana sempat, anjingnya keburu dekat! Aku cuma sempat mencabut kunci motornya doang!" Aril menunjukkan kunci motornya di tangannya. 


"Pikirkan itu nanti saja! Yang jelas sekarang, kita harus lari!"


"Kita harus menghadapi anjing itu!"


"Hah? Apa maksud--" Ketika aku menoleh kebelakang, kulihat Aril malah berhenti lari. "Ril, kamu malah berhenti?!" Aril membungkuk dan mengambil batu sebesar genggaman tangan.


"Anjing biasanya takut kalau dilempar batu!"


Aku berhenti berlari dan melihat Aril melempar batu itu.


Wuuush!

__ADS_1


Celaka, si anjing tidak takut dan lemparan batu tadi meleset.


"Bod0h! Lari Ril! Anjingnya nggak takut sama batu!" Aku kembali ngibrit lari.


__ADS_2