
Manik hitamnya menatapku. Aku menunduk melihat tangannya yang sedang menahan lenganku. Seketika dia langsung melepasnya dan berdehem.
"Aku nggak lama kok di sini. Bentar lagi juga pulang," ucap Aril. "Masuk dulu bentar."
Aku sedikit meragu. Setelah aku mengucapkan akan naik kuda lumping, gengsi dong kalau aku masuk ke kafenya.
Namun belum juga memutuskan mau masuk atau nggak, tanganku udah ditarik sama Aril.
"Aku bisa jalan sendiri." Aku melepas tangannya dan mengikutinya masuk kafe.
Ini pertama kalinya aku masuk ke kafe milik Aril.
Dari berdirinya kafe ini, aku belum pernah menginjakkan kaki di sini. Karena setelah lulus sekolah, aku langsung memutuskan bertapa di dalam gua alias kamar. Ya, aku fokus menulis.
Karyawan di sini aku lihat laki-laki semua.
"Wah, Mas Aril tumben bawa pacar," ucap Toni.
Kenapa aku tahu namanya, karena di dada kirinya ada sebuah nama di sana. Nggak mungkin kan itu nama bapaknya.
"Bukan!" sahutku dan Aril bersamaan.
"Dia bukan pacarku," tambah Aril.
"Kalau begitu calon istri?" tebak karyawan lain yang bernama Yono.
Nggak usah tanya aku tau namanya dari mana. Kan udah aku jelasin tadi tau dari mana.
Kayaknya karyawan sama bosnya sama aja. Nebaknya nggak ngotak.
"Bukan," sanggah Aril lagi. "Tadi nemu di jalan. Karena kasihan aku bawa."
Aku melotot ke Aril, tapi dia cuma liat aku dengan ekspresi cuek.
"Wah, kok aku nggak pernah nemu yang seperti ini di jalan ya?" ucap Toni.
"Bener nih bukan pacar Mas?" tanya Yono.
"Bukan," sahut Aril.
"Kalau gitu aku pepet nih ya?"
"Pepet aja. Itu pun kalau kamu kuat sama dia."
Aku tambah membulatkan mata ke Aril. Emangnya aku kenapa sampai orang nggak kuat sama aku?
"Nih bakso. Yuk makan dulu, panggil juga yang lain." Aril menyerahkan kresek hitam berisi bakso ke Toni.
"Wah, makasih Mas!" Toni girang.
Saat Aril hendak berlalu, aku mencegahnya.
"Ril, katanya mau pulang?"
"Aku mau makan dululah. Aku juga lapar."
Yah ….
"Kamu duduk dulu aja di sana." Aril menunjuk salah satu meja.
Dengan malas aku berjalan ke salah satu meja yang ada di pojokan.
"Nih buat basahin tenggorokan." Aril menghampirku dengan sebuah cangkir di tangannya.
Aku mengernyit menatapnya. Terakhir kali aku minum minuman yang dikasih olehnya, aku langsung men to the cret. Alias mencret.
Waktu itu kami masih duduk di bangku SMP. Dia ngasih minuman buat perdamaian katanya. Biar nggak musuhan lagi.
Setelah minum aku langsung sakit perut. Aku pikir aku diracun olehnya, tapi setelah periksa ke bidan, ternyata lambungku kemenyek, nggak bisa minum kopi.
__ADS_1
"Tenang, nggak ada racunnya. Ini juga bukan kopi," ucap Aril karena aku tetap bergeming.
"Kalau nggak percaya, biar aku dulu yang minum."
"Eh jangan!" Aku mencegah Aril yang mendekatkan cangkir tadi ke mulutnya. "Masa kamu ngasih minum orang bekas kamu!"
Aku lihat bibir Aril tersenyum tipis, tapi cuma sekilas.
Wah, mataku bermasalah kayaknya. Harus periksa ini. Nggak mungkin Aril senyum kayak tadi. Pasalnya, aku belum pernah lihat Aril senyum kayak gitu.
Senyum Aril yang pernah aku lihat adalah, senyum mengejek dan senyum merendahkan.
"Aku mau makan dulu," ucapnya lalu pergi.
Aku beralih menatap cangkir di depanku. Warna cokelat. Aku hirup asapnya yang mengepul.
Hemm, dari baunya enak.
Aku menempelkan cangkir tadi ke bibir dan mulai menyesapnya.
Mataku langsung membulat begitu minuman ini menyentuh lidah.
Asin!
"Huek! ARIILL!"
Rasanya seperti minum air laut. Ya, ini bukan manis, tapi asin. Dia mengerjaiku.
"Hahahaha!" Tawa Aril nyembur di belakangku.
Ingin aku membanting cangkir ke lantai, tapi dia mengatakan cangkir ini harganya lima puluh ribu.
Cangkir apa yang harganya lima puluh ribu?!
Dengan kesal aku menaruh cangkir yang hendak kubanting ke meja.
Lidahku seperti habis minum air laut waktu main di pantai dan nggak sengaja menelan air laut pas rekreasi SMP dulu. Asin pakek banget.
"Ini minum, biar ilang asinnya." Aril menggeser cangkir yang dibawanya ke arahku.
"Tenang, ini rasanya manis kok," tambahnya lagi karena aku tak kunjung menyentuh cangkir itu.
Dipikirnya aku bakal percaya setelah apa yang dia perbuat?
"Nih kalau nggak percaya, aku minum." Dia menyeruput minuman itu. "Hem, aman kan?"
Aku yang sudah tak tahan dengan rasa asin di lidah langsung menyambar minuman itu.
Aku nggak tau namanya apa. Warnanya cokelat dan rasanya manis.
Bisa-bisanya dia mengerjaiku.
Dengan santai, Aril melahap pentol bakso di depanku, tanpa menawariku.
"Aku tidak menawarimu karena kamu pasti udah sering makan bakso. Kan kamu yang punya," ucapnya seakan mengerti tatapanku.
Padahal aku sendiri udah lupa kapan terakhir kali makan bakso.
Dulu pas SMA aku setiap hari makan bakso, tapi setelah lulus dan jarang main ke warung, aku tak pernah lagi makan bakso.
"Jadi, alasanku ngajak kamu ke nikahan Ira, karena dulu Ira itu mantan gebetan aku."
"Apa?" Aku baru tahu.
"Iya. Sewaktu SMA aku sempet deket sama dia, tapi nggak jadian. Aku nggak mau datang ke nikahan dia sendirian dan dituduh belum move on dari dia," ungkapnya.
"Jadi dulu kalian deket?" Aku sebenarnya tak terlalu peduli. Aku cuma ingin cepet-cepet pulang.
"Bahkan kami dulu digosipin udah pacaran. Masa kamu nggak tau sih?"
__ADS_1
Aku menggeleng.
"Ya ampun, selama sekolah kamu dulu ngapain aja sampai nggak tau gosip besar kayak gitu?"
Aku menatap Aril dengan alis menyatu.
"Emang siapa sih yang buat gosip nggak mutu kayak gitu. Emang ada yang peduli ya?"
"Ada lah, banyak! Adek kelas juga banyak yang patah hati waktu itu!" sungut Aril.
"Nggak ada kerjaan," cibirku.
"Halah! Palingan kamu waktu itu juga patah hati kan? Waktu tengah semester, kamu kelihatan banget patah hati. Tiap hari ngumpet di perpus supaya nggak ketemu sama aku. Ya kan?"
"Apa?!"
Waktu itu aku memang lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan, tapi bukan ngumpet, aku belajar mati-matian buat ngalahin Aril. Aku ingin merebut posisi nomor satu darinya.
"Sembarangan aja kalau ngomong! Waktu itu ak--"
"Tapi itu nggak penting sekarang," potong Aril. "Yang penting sekarang adalah, aku ngajak kamu bareng ke sana biar Ira tahu kalau aku juga bahagia."
"Kamu bahagia, aku mah enggak. Malu aku Ril!"
"Lah, kenapa? Apa yang kamu maluin jalan sama orang ganteng?"
"Hah? Ini mah namanya over PD Ril!"
"Aku yang harusnya malu jalan sama kamu! Nanti dikira aku bawa mayat hidup lagi! Mata udah kayak gitu, bukan Doraemon tapi ada kantungnya!"
"Heh! Malah menghina! Yaudah kalau malu! Kenapa kamu nggak jalan sama gebetan kamu aja? Katanya punya gebetan!"
"Dia sibuk. Lagian kan kamu punya utang sama aku! Mau, aku beberin rahasia kamu ke pembaca kamu? Nanti mereka turun gunung kayaknya mampir ke kafe aku deh."
"Cih! Beraninya cuma ngancam!"
"Nih pakai!" Aril mengeluarkan sesuatu dari kantong ajaibnya.
"Apa ini?" Aku membuka kresek putih itu, yang ternyata isinya masker dan sesuatu yang entah namanya apa. Yang biasanya ditaruh di bawah mata itu lho. Buat menghilangkan lingkaran hitam di bawah mata.
"Kamu sekarang jualan ginian?" Aku menatap Aril. "Maaf, aku nggak tertarik beli."
"Bukan Markonah! Ini gratis dari aku! Pakek itu biar kinclong nanti pas ke nikahan Ira. Masa iya aku ke sana bareng sama Maham Anga!"
"Aish! Dari tadi menghina mulu!" Aku pukul lengannya, tapi dia menghindar.
"Intinya, aku nggak mau kamu malu-maluin aku."
Geregetan sebenarnya aku dibilang malu-maluin, tapi benar juga kata Aril. Aku harus merawat diri. Biar pas ketemu sama pembaca kayak tadi, aku nggak malu menyapa mereka.
Ah, lumayan. Masker gratis!
Aku mengambil pemberian Aril tanpa bilang terimakasih. Ya ini kan bayaranku karena bantuin dia nanti.
"Tapi Ril, aku punya permintaan sama kamu." Aku bicara agak serius.
"Apa?"
"Tolong jangan komen-komen lagi di novel yang aku posting. Kamu sebenarnya juga nggak suka baca novel kan? Pasti postingan aku cuma nggak sengaja lewat di beranda kamu kan?"
"Kata siapa? Aku suka baca novel kok."
"Apa iya?" Aku meragukan jawaban Aril.
"Bahkan aku sekarang download aplikasi buat baca kelanjutan novel kamu."
Aku benar-benar tak percaya mendengar ucapan Aril.
"Novel kamu banyak peminatnya itu, karena ada nama aku di sana." Mulai kumat lagi sifat percaya dirinya itu.
__ADS_1