
Belum juga aku menjawab, ponsel Mas Bayu berdering. Setelah menutup sambungan telpon, dia mengatakan ada urusan mendadak dan harus pergi.
"Siapa laki-laki barusan?"
Aku menoleh menatap Aril yang tau-tau sudah berdiri di sampingku. Matanya mengekori kepergian Mas Bayu.
"Kepo," jawabku seraya menutup laptop.
"Dia pacar kamu?"
Aku tak menggubris pertanyaannya dan memilih menyesap minuman gratis yang tinggal setengah cangkir. Kuminum hingga tandas.
Aril duduk di depanku, matanya mengawasi setiap gerak-gerikku.
"Bukannya dia laki-laki yang beberapa hari lalu menabrak kamu dan Puput, ya?" tanyanya lagi. "Masa baru kenal sudah pacaran?"
Aku menghela napas pelan, lalu menatapnya. "Kamu kepo banget sih, Ril? Terserah aku dong, mau pacaran sama orang yang baru kenal atau sudah lama kenal."
"Nggak kepo kok," tukasnya. "Terserah kamu juga mau pacaran sama siapa. Asalkan jangan sampai keluar kita tahu." Setelah mengatakan itu, Aril beranjak meninggalkanku.
Dia kenapa, sih?
***
Dua hari sudah aku selalu bertemu dengan Mas Bayu di kafe Aril. Kami menulis bersama. Bertukar ide, kadang lebih banyak aku yang bertanya tentang naskah yang kutulis.
Tak sedikit dia memberi masukan untuk novel yang sedang kutulis. Sifatnya yang rendah hati dan mau berbagi ilmu, itu yang membuatku tambah ngefans padanya.
__ADS_1
"Ril, aku bareng ke kafe kamu, ya?" ucapku saat selesai sarapan.
Tangannya yang hendak meraih kunci motor urung. "Ngapain ke kafeku?"
"Mau nulis," jawabku sembari memasukkan laptop ke dalam tas.
"Nulis di rumah aja. Biasanya juga nulis di kamar. Kenapa sekarang kamu jadi lebih sering ke kafeku? Apa sekarang kamu sudah nggak bisa jauh dariku?"
Jiah, PD bener!
"Aku janjian nulis di kafe sama Mas Bayu."
"Mas Bayu?" Aril mengerutkan keningnya. "Jadi nama laki-laki itu Bayu? Dia penulis juga?"
"Iya. Dia penulis terkenal tau, tapi orangnya nggak sombong. Enak, bisa tanya-tanya sama dia kalau otak lagi buntu nggak ada ide untuk nulis." Kugendong tas ke punggung. "Yuk, berangkat."
"Kalau gitu anterin aku ke kafe dulu aja."
"Nggak bisa, aku buru-buru. Hari ini kamu nulis di rumah aja."
"Tapi aku udah janji sama Mas Bayu."
"Ya udah, berangkat aja ke kafe sendiri." Setelah itu Aril keluar dari kamar. Kemudian, terdengar suara sepeda motornya meninggalkan rumah.
Dasar pelit! Cuma nganterin ke kafe sebentar aja nggak mau.
***
__ADS_1
"Rumah kamu ada di dekat sini?" tanya Mas Bayu setelah beberapa lama kami saling menatap laptop masih-masing, merangkai kata yang tersimpan di kepala.
"Iya."
"Kapan-kapan aku boleh nggak main ke rumah kamu?"
"Boleh."
"Mau kenalan juga sama orang orang tua kamu. Sekalian mau minta anaknya."
"Hah?" Aku yang sedari tadi menatap laptop langsung beralih menatap Mas Bayu.
"Canda, Yas." Mas Bayu terkekeh, membuat keterkejutanku sirna. Aku juga ikut terkekeh. "Kamu punya pacar?" Mas Bayu mengulang pertanyaannya beberapa hari yang lalu yang belum sempat kujawab.
"Pacar nggak punya, tapi aku punya su–"
"Sama dong," potong Mas Bayu. "Aku juga nggak punya pacar. Jangan-jangan kita berjodoh?"
"Hah?" Aku kembali terkejut.
"Ahaha, canda lagi."
"Aish, dasar! Bercanda muiu dari tadi."
"Tapi aku beneran suka sama kamu, Yas."
Senyumku lenyap seketika begitu mendengar ucapan Mas Bayu.
__ADS_1