PERKARA NAMA PENA

PERKARA NAMA PENA
Jatuh


__ADS_3

Memang ya, dimana-mana itu utamakan ketawa dulu baru menolong.


Aku jatuh dari sepeda motor Aril yang sedang melaju pelan. Tawa langsung menyambutku begitu aku jatuh. Sialnya aku jatuh di depan tongkrongan para cowok. 


Bukan cuma Aril yang tertawa, tapi cowok yang ada di tongkrongan itu juga ikut tertawa melihat aku jatuh dengan posisi yang tidak aesthetic sama sekali. 


"Hahahaha!" Bahagia sekali mereka tertawa di atas penderita orang lain. 


Ingin rasanya melebur menjadi tanah saja, atau pingsan aja gitu kek.


Jika dipikir-pikir, seumur-umur aku belum pernah mengalami pingsan. Hal yang sangat aku nantikan ketika upacara hari Senin pas SD dulu. 


Dengan berbekal sinetron azab yang sering ditonton ibu, aku pun merem pura-pura pingsan. 


"Bangun Yas. Nggak usah pura-pura pingsan," ucap Aril datar.


Aish! Aril! Nggak ada simpatinya sama sekali. Tolongin kek! Malah ngejogrok aja dia di atas motornya.


Dengan kesal aku langsung membuka mata dan berdiri. Ucapan Aril sungguh membuat aktingku gatot, gagal total. 


Aku berjalan meninggalkannya.


"Yas! Kamu mau ke mana?" seru Aril.


"Pulang!" jawabku tanpa menoleh padanya.


"Ayo naik!" 


"Nggak. Aku jalan kaki aja!" 


Brrrmmm!


Motor Aril ninggalin aku gitu aja gaes. Keterlaluan!


Harusnya dia paksa aku naik lagi kek. Dibujuk gitu. Ini nggak, sekali nolak langsung ditinggal. Dahlah, sekali musuh memang tetap musuh. 


Dengan pasrah aku jalan kaki. Motor Aril sudah tak terlihat setelah berbelok di tikungan. 


Tiba-tiba saja, ada motor yang berhenti di sampingku.


"Yas!" Suara perempuan menyerukan namaku. 


Saat menoleh, aku melihat seseorang yang suka memaksaku jalan-jalan, tapi selalu aku tolak. 


"Puput?" 


Namanya aslinya Putri, tapi aku lebih suka memanggilnya Puput.


Jika Aril adalah musuh sejak bayi, Puput adalah temanku sejak TK. 


"Aku butuh penjelasan tentang apa yang aku lihat barusan!" 


"Hah? Penjelasan apa?" Aku bingung. 


"Sejak kapan kamu pacaran sama Aril?" 


"Apa? Gosip dari mana itu? Siapa yang buat gosip kayak gitu? Kamu denger dari siapa?" 

__ADS_1


"Bukan dari siapa-siapa. Aku liat dengan mata kepalaku sendiri. Kamu boncengan mesra sama Aril." 


Aku menatapnya gemas. Bagian mana yang dia bilang mesra?! 


"Kamu liat aku jatuh barusan kan?" 


Puput mengangguk. 


"Terus kamu liat Aril nolongin aku nggak?"


Puput menggeleng. 


"Terus mananya yang kamu bilang mesra Maisaroh?!"


Puput tampak berpikir. "Iya juga sih. Terus kalau nggak pacaran, ngapain kamu boncengan sama dia?" 


"Nggak ada pilihan lain."


"Kalian udah damai ya?" 


"Damai? Nggak ada itu di kamusku!" sanggahku cepat. "Sebelum lawan yang mengibarkan bendera putih, aku tak akan pernah menurunkan bendera perang." 


Dari arah berlawanan tiba-tiba motor Aril balik lagi. Apa dia mau menjemputku? Mungkin dia merasa bersalah karena sudah ninggalin aku.


Hemh! Dikira aku bakalan ikut dia? 


"Ngapain kamu balik lagi ke si ... ni ...." 


Ngeenggg!


Motor Aril ngelewatin aku gitu aja gaes. Kirain tadi mau jemput aku. Kresek, mana kresek. Mau nutupin kepala. Malu coy! 


"Hahaha!" Puput tertawa keras melihatku GR. 


"Puas ketawanya? Kalau udah, anterin aku pulang!" ucapku sinis. 


"Kok ada ya orang minta anterin pulang nadanya gitu," sahut Puput sambil terus tertawa tapi tetap menyalakan mesin motor.


Begitu sampai di rumah, motor ninja Dika sudah terparkir indah di halaman rumah. 


Baru juga mau masuk rumah, Puput mencegahku.


"Aku nggak ditawarin masuk?" tanyanya. 


"Biasanya nggak usah ditawarin juga masuk!" cibirku, yang membuat Puput hanya nyengir. 


Di ruang tamu, duduklah Dika dengan ponselnya.


"Kak, hotspot dong! Kuota aku habis nih!" 


"Dih, masih nganggap aku Kakak rupanya setelah tadi berhasil membuatku malu!" 


"Ayo lah Kak, jangan gitu. Masa cuma karena iri nggak dibeliin motor sama Bapak, Kakak jadi gini sih?" 


"Siapa juga yang iri!"


"Kakak ingat nggak, pernah jatuh dari motor pas belajar naik motor dulu dan akhirnya tulang retak dan nggak bisa jalan?"

__ADS_1


Aku berusaha mengingat-ingat.


"Karena itulah Bapak nggak pernah mau beliin Kakak motor! Bapak nggak mau Kakak jatuh lagi." 


Masa sih?


Waktu itu motor bebeknya Bapak yang masih baru jadi nggak bisa dipakek lagi, rusak gara-gara aku.


"Kelamaan mikirnya, mana ponselnya Kak?" desak Dika. 


"Ponselku ketinggalan di warung. Ambil sana kalau kamu mau hotspot!" jawabku yang baru ingat kalau ponselkuku belum kuambil.


Dika berdecak kesal. Dia berjalan keluar rumah. Tak berapa lama, terdengar suara motornya yang mulai menjauh. 


"Yas," panggil Puput.


"Hm?"


"Itu poni kamu lama amat panjangnya. Jelek tau pendek kayak gitu."


"Aish Puput!" Aku memelototinya. "Nggak usah dikasih tau, aku juga udah tau kalau poni aku jelek! Kamu itu sama ya kayak Aril! Demen banget ngejek orang!" 


"Ya lagian kamunya aneh. Masa potong poni nyuruh anak laki-laki."


"Kan di salon juga banyak tuh pegawai laki-laki. Apa bedanya? Harusnya Dika bisa dong kalau cuma motor poni doang! Lagian aku request-nya nggak aneh-aneh kok! Aku cuma minta potong lurus di bawah alis, bukan poni model orang Korea!"


"Kamu kalau dibilangin gitu! Yaudah, tanggung sendiri akibatnya!"


"Ini udah aku tanggung sendiri kali! Kalau bisa aku pindahin, udah aku pindahin ke kamu aja supaya pendek poninya!" 


Tulit! Tulit!


"Cilok! Cilok!" 


Suara Pak Ribut bak wasit yang membuat kami langsung terdiam. 


"Yas! Beli cilok sana!" suruh Puput.


Aku menyodorkan tanganku. 


"Apa?" tanya Puput pura-pura tak tahu.


"Duitlah, masa sertifikat rumah!" 


"Traktir dong! Kan kamu baru gajian!"


Ingin mengelak, tapi Puput tahu betul tanggal berapa aku gajian. Akhirnya aku mengalah dan bergegas keluar rumah setelah ngambil duit di kamar.


"Mau beli apa cuma mau ribut?" tanya Pak Ribut memastikan.


"Ya mau beli lah Pak. Kalau aku mau 'Ribut' ntar yang ada aku digebukin sama istri Bapak!" Aku berseloroh. 


Pak Ribut tertawa kecil. "Mbak Diyas bisa aja bercandanya."


"Baru kemarin aku tolak, eh sekarang godain Pak Ribut. Cepet banget move onnya."


Kepalaku refleks menoleh. Aril udah kayak jelangkung aja. Datang tak diundang, pulang tak diantar. Tau-tau dia udah ada di sampingku.

__ADS_1


__ADS_2