PERKARA NAMA PENA

PERKARA NAMA PENA
Cemburu


__ADS_3

Perjalanan pulang ke rumah hanya diisi suara musik yang diputar oleh Aril. Sejak keluar dari rumah sakit tadi dia tidak bicara sama sekali. Hingga sampai di rumah pun, dia tetap tidak membuka suara. 


Entah kenapa aku merasa dia seperti marah padaku, tapi apa salahku? Aku tidak merasa sudah berbuat salah. 


"Ril, kamu marah?" 


Aril yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya mendongak. "Marah? Marah kenapa?" tanyanya datar.


Aku jadi bingung sendiri harus menjawab apa. Kugaruk kepala meskipun tidak terasa gatal.


"Emm kamu daritadi diem terus, aku pikir kamu marah," ucapku sambil nyengir.


Dia tak menjawab, kembali sibuk menatap ponsel. 


Tuh kan, kayaknya dia marah, tapi marah kenapa? 


"Kamu kenapa sih, Ril?" 


Aril mendongak lagi. "Memangnya aku kenapa?" 


"Kamu nggak kayak biasanya. Aku merasa kamu marah sama aku. Ngomong dong kalau aku ada buat salah." 


"Aku nggak marah, perasaan kamu aja kali." Aril kembali menatap layar ponsel. "Novel kamu kapan lanjutnya? Banyak yang nanyain tuh." Aril berbicara tanpa menatapku.


"Iya, soalnya lagi buntu ini. Apalagi beberapa hari di rumah sakit terus."


"Kenapa buntu? Bukannya setiap hari ketemu sama Bayu terus ya? Kan enak, bisa tanya-tanya sama dia. Kalian sama-sama penulis kan."


"Eh?" Kenapa malah jadi bahas Mas Bayu. 

__ADS_1


"Beberapa hari lagi acara nikahannya Ira. Aku udah beli bajunya, ada di lemari. Coba pakai, takutnya ukurannya nggak pas. Aku mau keluar dulu." Aril keluar dari kamar tanpa menunggu jawabanku.


Kusingkirkan bantal yang sedari tadi kupangku dan berjalan ke arah lemari. 


Aku tersenyum menatap kebaya warna coklat susu terlipat rapi di atas susunan bajuku yang lain. 


Segera aku membuka kaos untuk mencoba kebaya ini. Namun, baru saja selesai membuka kaos dan belum sempat memakai kebayanya, tiba-tiba pintu terbuka. 


Aril berdiri di sana dengan ekspresi terkejut. Bukannya langsung keluar, dia malah mematung di sana. Kami saling berpandangan beberapa detik sebelum akhirnya dia gelagapan setelah mendengar seruanku.


"Aril! Kalau masuk ketuk pintu dulu dong!" seruku setelah tersadar.


"M-maaf!" Aril tergagap dan segera menutup pintu.


Aaa. Harusnya tadi ganti di dalam toilet saja! 


***


Bukannya dia tidak bicara sama sekali, bukan. Namun dia hanya berbicara seperlunya saja. 


"Yas, kalian bertengkar?" 


"Hah?" Aku yang sedang membereskan meja makan ketika baru saja selesai makan malam mendongak ke bunda yang sedang mencuci piring.


"Bunda perhatikan, ada yang aneh dengan sikap kalian. Apa kalian bertengkar?" 


Aku bahkan nggak tau di mana letak salahku, Bun. Anakmu yang aneh!


"Ah, nggak kok, Bun. Kami nggak bertengkar." Aku memberikan senyum palsu. 

__ADS_1


Dasar Aril. Gara-gara dia ibunya sampai mengira kami bertengkar. Lagian, kalau dia nggak marah, kenapa sikapnya aneh dan mendadak jadi pendiam?


Setelah beberes di meja makan, aku gegas kembali ke kamar. Sebaiknya aku tanyakan saja ada apa dengannya. 


Namun, ketika aku membuka kamar, tidak ada Aril di sana. Ke mana dia? 


Baru saja aku akan mencarinya di teras depan, ponselku yang tergeletak di atas ranjang berdering. Panggilan masuk di Messenger dari Mas Bayu. 


Baru juga aku mengangkatnya, Aril masuk ke dalam kamar. 


"Mas, nanti aku hubungi lagi ya." Segera kumatikan sambungan telpon tanpa menunggu jawaban dari Mas Bayu. Entahlah, aku merasa seperti istri yang ketahuan sedang bertelpon dengan laki-laki lain.


"Kenapa dimatikan? Ngobrol saja sama Bayu. Aku tidak akan menganggu." Nada bicaranya terdengar ketus. 


"Aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia, Ril." Padahal dia tidak bertanya, tapi entah kenapa aku merasa perlu mengatakan itu.


"Ayolah, kamu jangan kayak gini."


Aril mengernyit. "Kayak gini gimana? Emangnya aku kenapa?" 


"Sikap kamu aneh. Kamu kayak marah sama aku!" 


Aril diam tak menjawab. Membuatku jadi kesal. Apa dia tuli?


"Kamu sebenarnya kenapa? Kalau aku ada salah, ngomong dong," lanjutku. "Bunda tadi sampai mengira kita bertengkar tau." 


Bukannya menjawab, Aril malah menjatuhkan bobotnya di sofa dan rebahan di sana. Seolah apa yang aku ucapkan barusan hanya angin lalu dan tidak perlu dijawab. Membuatku jadi tambah kesal.


Apa-apaan dia? Aku dicueki?

__ADS_1


"Kamu kenapa sih, Ril?! Kamu cemburu sama Mas Bayu?" Akhirnya keluar juga praduga-praduga yang selama ini kutekan karena mengira kalau pradugaku salah. Mana mungkin Aril cemburu. 


"Iya. Aku cemburu!" Jawaban yang sungguh tidak terduga membuatku menatapnya terkejut. Aku bahkan sampai menahan napas beberapa detik. 


__ADS_2