
Beberapa detik kemudian aku tersenyum ke Aril meski terkesan memaksa.
*Kamu jangan bercanda ya, Ril. Nggak lucu."
Aril menatapku serius, kemudian bangkit, berjalan maju ke arahku.
"Apa wajahku terlihat seperti orang yang sedang bercanda?" Saat Aril berjalan maju semakin mendekat ke arahku berdiri, aku justru semakin mundur.
Hingga akhirnya sampai di bibir ranjang, aku jatuh terduduk. Sementara Aril terus mendekat hingga dia berdiri tepat di depanku.
Gleg.
Entah kenapa aku jadi tidak berani mendongak menatapnya. Padahal aku dulu selalu menatap mata itu dengan nyalang saat kami sering berdebat.
"Aku cemburu saat kamu berdekatan dengan si Bayu itu. Apa bagusnya dia? Sampai kamu selalu tertawa saat bersamanya? Kamu bahkan tidak pernah menunjukkan tawa itu kepadaku."
"Cemburu?" Aku refleks mendongak, hingga tanpa sadar mataku sudah terkunci dan tak bisa membuang muka lagi.
"Iya. Aku cemburu. Aku tidak suka laki-laki itu terus datang ke kafe dan menanyakanmu."
Cemburu? Bukankah kalau cemburu berarti suka?
"Aku suka sama kamu, Yas."
Kuharap detak jantungku tidak terdengar sampai keluar.
"Kamu selalu terlihat bahagia saat bersama laki-laki itu. Apa kamu menyukainya?" Aril menatapku lekat.
Tidak, aku tidak menyukai Mas Bayu. Aku memang nge-fans padanya, tapi aku tidak menyukainya layaknya perasaan cinta. Hanya perasaan suka karena kagum pada karya-karyanya. Sayangnya kata-kata ini tidak bisa keluar, hanya tertahan di pikiran.
Tatapan mata Aril membuatku tak bisa berkutik. Jangankan berbicara, bernapas saja aku hampir lupa.
"Apa seleramu adalah sama-sama penulis? Kalau begitu, aku akan menulis juga."
***
__ADS_1
Setelah Aril menyatakan perasaannya beberapa hari yang lalu, sikapnya menjadi berubah drastis.
Namun, meskipun dia menyatakan perasaannya, dia tidak menanyakan jawabanku. Membuatku bingung harus bagaimana.
Dia serius atau cuma pura-pura? Kenapa dia hanya menyatakan perasaannya dan tidak menanyakan balik perasaanku?
Gara-gara itu, beberapa hari ini aku jadi tidak fokus menulis. Bahkan, seharian ini, bukannya menulis, aku malah scroll Facebook, dan ketika berusaha untuk menulis, yang terjadi aku malah bengong di depan laptop.
Di dalam kepala justru terngiang-ngiang ucapan Aril yang mengatakan suka kepadaku.
Sejak kapan? Pertanyaan itu terus saja berputar-putar di kepalaku.
Aku terkejut saat tiba-tiba mencium aroma bunga di dalam kamar. Seketika aku jadi merinding.
Aku sendirian di dalam kamar, jam di layar laptop yang sedari tadi terbuka menunjukkan pukul tujuh malam.
Masa iya ada hantu di jam segini?
"Surprise!"
Apa-apaan ini?
Aku mengernyit menatap bunga mawar itu.
"Buat kamu," ucapnya.
Aku meraup wajahku seraya menghela napas panjang. Apa dia memberiku bunga mawar karena ucapan kemarin siang? Tapi aku tidak bermaksud meminta dibelikan bunga mawar.
Kemarin, tepatnya pukul dua siang. Aku yang sedang duduk di teras sembari membaca novel dari ponsel dibuat heran dengan kedatangannya yang tiba-tiba menyodorkan sebuah bunga hidup yang baru saja dipetik.
Aku tidak tahu nama bunga itu. Warnanya putih dan ungu, kecil-kecil. Melihatnya yang tiba-tiba memberiku bunga, membuat kupu-kupu beterbangan di perutku.
Aku menerima bunga itu tanpa bisa menyembunyikan senyum di bibir. Setelah mengucapkan terimakasih dengan rasa malu karena tersipu, kuangkat bunga itu ke arah hidungku. Berniat ingin menghirup aromanya.
Namun tiba-tiba, mataku membulat saat merasakan ada sesuatu yang tersedot masuk ke dalam hidung ketika aku berniat menghirup aroma bunga.
__ADS_1
"Hemh!" Aku berusaha mengeluarkan sesuatu yang terasa masuk ke dalam hidung.
Kutatap bunga yang tampak cantik, tapi ternyata ada hewannya. Beruntung masih bisa keluar dari hidungku.
"Ril, kamu beli bunga ini di mana? Ada hewannya." Kutatap Aril yang nampak bersalah karena ada hewan yang ikut tersedot ke dalam hidungku.
Dia nyengir kuda. "Nggak beli. Tadi aku metik di depan rumah Bu Jihan."
Mataku membulat. "Jadi kamu nyuri?"
"Nggak nyuri. Aku minta, tapi nggak ada orangnya."
Sama aja!
"Ya Allah, Ril. Aku tidak pernah berharap kamu memberiku bunga mawar, tapi setidaknya jangan ngasih bunga hasil nyuri di tetangga juga kali!"
"Yas? Kenapa nggak diambil? Kamu nggak suka bunganya?" Suara Aril menarikku kembali dari lamunan.
"Ah, bukan gitu." Aku segera meraih bunga itu. "Kemarin itu, aku nggak bermaksud meminta dibelikan bunga mawar."
"Minta juga nggak papa kok. Aku nggak keberatan untuk mampir membelinya sehabis dari kafe."
Aku tersenyum sembari mengusap tengkuk karena merasa canggung. Aku tidak terbiasa dengan sikap Aril yang seperti ini.
Perubahan sikap Aril yang mendadak ini sedikit terasa aneh. Mungkin karena aku belum terbiasa, makanya terasa aneh.
Namun, tetap tidak bisa kupungkiri, aku merasa senang akan perhatian-perhatian darinya. Apa jangan-jangan aku juga sudah mulai menyukainya?
"Ril, kamu nggak perlu ngasih aku bunga kayak gini." Aku menatap matanya yang entah sejak kapan bila menatapnya membuat jantung ini jadi berdegup lebih kencang.
"Yas, gimana kalau kita akhiri saja sandiwara ini."
"Hah?"
"Aku tidak ingin bersandiwara menjadi suami istri lagi. Aku ingin, kita benar-benar menjadi suami istri."
__ADS_1