PERKARA NAMA PENA

PERKARA NAMA PENA
Keguguran


__ADS_3

Baru satu tegukan, itu pun sedikit. Rasanya sudah mau muntah. Pait. Kulirik bunda, mertuaku itu tersenyum melihat menantu jadi-jadiannya ini meminum jamu tradisional yang entah terbuat dari apa saja sehingga sepahit cobaan hidup. Karena yang manis itu cuma pas awal kenalan doang. Eh.


"Ayo, dihabiskan," ucap bunda dengan senyum khasnya. "Bunda dulu pas hamil Rita dan Aril juga sering minum jamu ini. Mertua Bunda yang buatin."


Kulirik Aril yang menyatukan alis tebalnya. Sepertinya dia membayangkan bagaimana pahitnya minuman yang ada di tanganku ini.


"Dihabiskan, ya. Bunda mau ke depan dulu, mau beli sayur di Pak Tarno." 


Mataku mengekori bunda yang beranjak keluar.


"Huek! Minum, Ril. Minum!" seruku setelah bunda hilang di balik pintu. Tanganku mengipas-ngipas mulut, padahal aku sedang tidak kepanasan. 


Segelas air putih langsung tandas. Namun rasa pahit di lidah itu masih melekat. Bak janji-janji mantan yang masih melekat hingga kini, terdengar manis ketika pas pacaran, tapi serasa ingin muntah setelah putus. 


"Cepetan buang minuman kematian itu sebelum Bunda datang!" seruku pada Aril.


"Tapi, buang-buang minuman itu nggak baik, Yas." 


"Ya kalau gitu, kamu aja yang minum!" 


Aril terdiam. Nah, dia sendiri nggak mau kan minum itu.


Akhirnya Aril membawa minuman kematian itu keluar dari kamar. Aku tidak tahu nasib jamu itu setelah dibawa keluar dari kamar. Entah dibuang, atau diminum Aril, aku tidak peduli.


Hari pertama datang bulan rasanya begitu menyiksa. Perut kram, badan lemes, kepala ikut-ikutan pusing. Selepas Aril berangkat ke kafe, aku cuma rebahan di kamar. Mau nulis juga rasanya malas. Aku terus-terusan meringkuk di balik selimut dengan kedua tangan memegangi perut. 


Ponsel sedari tadi terus saja berbunyi, menandakan ada pesan masuk di Messenger. Tak Kuhiraukan. 


Apa aku buat aktifitas saja agar sakitnya tidak terasa?


Saat beranjak dari ranjang dan berdiri, kram di perutku semakin terasa. Membuat posisi tubuhku jadi bungkuk seperti Nenek Kebayan di Upin Ipin. Karena kalau aku menegakkan badan, perutku terasa semakin sakit. 


Rasa-rasanya aku ingin menyanyi lagu Nenek Kebayan saja. 


Akhirnya aku kembali merebahkan tubuh di ranjang. Memejamkan mata, berusaha untuk tidur. Siapa tau setelah tidur perutku akan mendingan. 


Entah berapa lama aku tertidur. Aku terbangun saat merasakan tepukan di lengan. Aril duduk di samping ranjang tepat di sebelah aku berbaring dengan posisi meringkuk memegangi perut. 


"Ada apa?" tanyaku. Kulirik jam di dinding masih pukul satu siang. Ini belum jamnya kafe tutup. Kenapa dia pulang?

__ADS_1


"Perutmu sakit?" Dia malah balik nanya. Aku hanya menganggukkan kepala menjawabnya. "Ini, minum. Aku nggak tau rasa apa yang harus kubeli." Aril mengeluarkan botol dari sebuah kresek hitam di tangannya. 


Aku terperangah. Itu minuman untuk pereda nyeri saat datang bulan. Dia membelikan ini untukku? Entah kenapa ada yang menghangat di dalam dada ini. Segera aku tepis rasa itu. 


"Ayo cepetan minum, kalau ketahuan Bunda bisa gawat," ucapnya membuyarkan lamunanku. 


Segera aku bangkit duduk. Aril juga membukakan segel botol itu. Padahal aku bisa membukanya sendiri. Aku belum pernah minum ini sebelumnya.


Apa rasanya seperti jamu kematian tadi? Karena dari kemasannya minuman ini terbuat dari kunyit.


Sedikit ragu ketika aku menerima botol itu. 


"Katanya minuman ini bisa meredakan nyeri, makanya aku beli," ucapnya.


"Tapi baunya sama kayak minuman yang dibuat Bunda tadi, Ril." Aku ragu untuk meminumnya, karena baunya sama persis seperti jamu dari Bunda. 


Aku jadi merasa tidak enak pada Aril saat wajahnya terlihat kecewa. Sudah repot-repot membelikan ini, masa aku tidak menghargainya. Apalagi pasti dia mempertaruhkan rasa malunya saat membeli minuman ini di toko tadi. 


Akhirnya aku meminum minuman itu. 


"Gimana? Pait?" tanya Aril.


"Pas di jalan tadi aku ketemu sama Pak Ribut, jadinya beli." Aril mengeluarkan dua bungkus cilok dari kresek hitam yang sama. 


Kenapa aku merasa dia perhatian? Ah, nggak-nggak. Tadi dia bilang nggak sengaja ketemu sama Pak Ribut, bukan sengaja beli.


Tring!


Notifikasi di ponsel yang berasal dari Messenger membuyarkan lamunanku. 


Saat aku buka, ada banyak pesan dari Mas Bayu. Dia menanyakan kenapa hari ini aku tidak datang ke kafe. Apakah aku sakit? Dan masih banyak lagi pesan-pesan darinya. Bahkan di pesan terakhirnya dia mengatakan akan datang ke rumahku. 


"Siapa?" Pertanyaan dari Aril mengurungkan niatku yang ingin membalas pesan dari Mas Bayu. "Laki-laki itu?" 


Laki-laki siapa yang dimaksud Aril?


Mas Bayu?


"Nggak penting juga, sih." Baru juga mulut ini mangap akan menjawab, Aril sudah menyela lebih dulu. Dia beranjak dari ranjang. "Aku mau balik ke kafe lagi." 

__ADS_1


***


Terpaksa aku pulang ke rumah dengan menahan sakit di perut untuk menemui Mas Bayu yang benar-benar datang sesuai dengan pesan yang dikirimnya. 


Sedari tadi aku duduk dengan rasa tidak nyaman karena perut bagian bawah seperti diremas-remas. Rasanya aku ingin kembali rebahan.


"Kamu kenapa, Yas? Wajah kamu pucat," ucap Mas Bayu. "Dari tadi kamu juga pegangin perut." 


"Aku nggak papa kok, Mas." Aku memaksakan mengulas senyum. "Oh iya, Mas mau minum kopi atau teh?" Kutepuk dahi ini karena teringat belum membuatkannya minum. 


"Nggak usah repot-repot. Aku pikir kamu sakit, karena semua pesanku nggak dibalas, makanya aku ke sini." Wajahnya nampak khawatir. 


"Nggak repot kok, Mas. Malah Mas yang repot-repot ke sini bawa makanan." Mas Bayu ke sini membawa bubur ayam. "Tunggu sebentar ya.* Aku bangkit dan berjalan ke dapur.


Sambil menunggu air mendidih, aku duduk karena kram di perut kembali terasa. 


"Perut kamu kenapa, Yas?" tanya ibu yang datang dari arah ruang tamu. Segera aku bersikap baik-baik saja, agar ibu tak curiga. 


"Nggak papa kok, Bu. Tumben Ibu pulang jam segini?" Ini baru jam dua siang. Biasanya Paduka Ratu masih stand by di warung. Mengawasi para pekerja. 


"Ngantuk Ibu, mau tidur siang. Oh iya, itu Bayu udah lama datangnya?" 


"Barusan."


Ibu hanya manggut-manggut dan berlalu ke kamar mandi. Kembali kupegang perutku yang terasa sakit saat ibu hilang di balik pintu kamar mandi.


Saat akan bangkit untuk menyeduh kopi karena airnya sudah mendidih, kakiku tidak sengaja tersandung kursi, aku memekik saat terjatuh. Apalagi perutku sempat terbentur sudut meja. 


"Ya Allah, Diyas!" Ibu yang baru saja keluar dari kamar mandi berlari menghampiriku. 


Apes bener. Perut lagi kram, malah ketambahan terbentur sudut meja. 


Ibu membantuku duduk, tapi matanya seketika membulat saat melihat ada bercak darah di lantai. 


"Ya Allah, Gusti! Darah apa itu?! Apa kamu keguguran?!" 


Wajahku pucat pasi. Aku tak mampu menjawab ibu meski itu bukan pertanyaan. Aku hanya mampu menatap ibu dengan raut ketakutan, takut kalau sandiwaraku ketahuan.


Ibu berteriak memanggil Mas Bayu, meminta bantuannya agar membawaku ke rumah sakit. 

__ADS_1


__ADS_2