PERKARA NAMA PENA

PERKARA NAMA PENA
Istri Limited Edition


__ADS_3

"Haaah …." Aku menghembuskan napas panjang dan berat. Kupandangi kertas hasil tes dari rumah sakit. 


Padahal tadi setelah mendapat hasil tes ini, rasanya aku ingin cepat-cepat pulang dan tak sabar memberitahukannya ke ibu. Namun, setelah mendengar permintaan Puput tadi, aku jadi bingung harus bagaimana.


"Gimana ini Ril?" Kutatap Aril yang sedari tadi diam saja.


Setelah bertemu dengan Puput di kafe tadi, kami memutuskan untuk singgah ke kafe milik pak suami dulu. Eh? Kok aku udah nyebut dia sebagai suami, sih? 


Aril menyenderkan punggungnya di sandaran kursi, tangannya dilipat di depan dada. "Menurutmu bagaimana?"


Aish. Ditanya, malah balik nanya. Pingin mencak-mencak, tapi ini bukan saat yang tepat. Ada hal lebih penting yang harus diutamakan. Yaitu, memikirkan solusi untuk masalah ini. 


"Aku ingin kesalahpahaman ini segera berakhir Ril, tapi kalau aku menyerahkan hasil tes ini, dan Puput ketahuan …." Kupijit pelipisku yang terasa nyut-nyutan. 


Yono, karyawan kafe, meletakkan secangkir minuman yang harumnya sedikit merilekskan kepala yang sedang pusing. 


"Katanya bukan pacar, Mas. Tapi kok dibawa ke sini terus?" ucap Yono, yang langsung mendapatkan hadiah berupa jitakan di kepalanya. 


"Ngomong lagi, aku potong gaji kamu!" 


"Eh, j-jangan Mas. Maaf–"


"Dah dah, sana," potong Aril. 


Kusesap minuman di cangkir itu setelah puas menghirup aroma yang menguar dari minuman yang berwana coklat itu.


Setelah itu, aku mengambil napas sejenak. Menerawang jauh, memikirkan apa yang harus kulakukan.  


"Aku akan pura-pura hamil," ucapku setelah beberapa menit terdiam. 


"Apa kamu yakin?" Aril menatapku lekat, seolah mencari keyakinan di mataku. 


"Iya." Aku mengangguk mantap. "Setelah masalah ini selesai, kita berpisah. Rahasiakan pernikahan ini dari publik sampai hari perpisahan itu tiba. Dengan begitu, tidak akan ada orang yang tau kalau kita pernah menikah." 


"Lalu, bagaimana dengan orang tua kita? Apa kamu bisa mengajak mereka untuk merahasiakan pernikahan ini?" 


Aku terdiam. Benar juga apa yang diucapkan Aril. 


"Aah, terserahlah! Yang jelas, aku akan berpura-pura demi Puput." 


Aril hanya manggut-manggut sambil mengusap dagunya. Alisnya yang tebal menyatu, seolah sedang memikirkan sesuatu. 


"Kalau dipikir-pikir, aku itu udah nyelametin kamu tau." 


Aku menatapnya bingung. "Nyelametin gimana?"

__ADS_1


"Coba bayangin seandainya aku tidak pernah mengakuimu sebagai pacar, lalu test pack itu ditemukan di kamarmu. Kira-kira kamu bakalan dituduh hamil sama siapa? Bukankah masalahnya bakal lebih besar dari ini?"


Meskipun ucapan Aril ada benarnya, tapi tetap saja membuat kesal saat mendengarnya.  


"Terus kamu pinginnya aku terimakasih sama kamu, gitu? Heh, dengerin ya, seandainya waktu itu kamu nggak ngaku-ngaku jadi pacar aku, makan bersama itu tidak akan terjadi, dan Ibu tidak akan pernah masuk ke kamarku. Dan bisa jadi, test pack itu akulah yang menemukannya duluan. Jadi, pernikahan ini tidak akan pernah terjadi!" Aku tidak mau kalah. 


"Tapi–"


"Ck. Udahlah Ril, jangan ngajak ribut mulu! Aku capek, aku mau pulang." 


"Ya udah, pulang aja sana."


"Ya anterinlah!" 


"Kenapa aku harus nganterin kamu? Kita kan bukan suami istri beneran."


Heegh. Kelakuannya bikin darah tinggi mulu!


"Aku minta anterin bukan karena kita suami istri! Tapi karena aku nggak bawa sepeda! Kita kan tadi berangkat bareng, Bambang. Masa aku harus pulang jalan kaki, sih. Lagian siapa juga yang nganggep kamu suami?!" Emosiku sudah naik ke ubun-ubun, membuat suara ini naik satu oktaf.


"Yas, kamu kalau ngomong bisa lembut dikit nggak sih? Perempuan itu harus lemah lembut."


"Aku bukan istri kamu, yang harus ngomong lemah lembut! Bukannya kamu sendiri yang bilang kita bukan suami istri beneran? Belum ada satu jam lho, masa udah lupa?" 


"Sssttt! Jangan kenceng-kenceng. Karyawan kafe belum ada yang tau kalau kita sudah menikah."


"Ya udah, ayo aku anterin pulang. Jangan teriak-teriak. Untung kafe lagi sepi, kalau nggak, bisa kabur semua pelangganku. Ayo." Tiba-tiba Aril meraih tanganku. 


"Jangan pegang-pegang! Bukan muhrim!" 


"Jiah. Kita udah nikah, Maemunah. Pikun kamu?" 


"Kan tadi katanya bukan suami istri beneran. Jadi, tetep nggak boleh pegang-pegang!" Aku segera bangkit dan menuju pintu kafe.


"Haah, kasian suami kamu nanti. Harus ngadepin reog kayak setiap hari." 


Aku yang baru saja keluar dari kafe, langsung menoleh mendengar kata-kata Aril. Dia berjalan di belakangku. 


"Dasar Aril Noah palsu! Sehari nggak nyari ribut, nggak bisa ya?! Hiiigh!" Kuayunkan tanganku untuk memukulnya.


Hap! 


Dengan cepat tanganku ditangkapnya. 


Heeegh!

__ADS_1


Tidak mau menyerah, kuayunkan tangan kiriku.


Grep! 


Dengan gampangnya Aril menangkap tangan kiriku. Sekarang, kedua tanganku sudah tak bisa bergerak lagi. 


"Lepasin–"


"Yas." 


Aku mendongak untuk menatapnya, karena tubuhnya yang begitu tinggi. Entah kenapa, mata elangnya terlihat meneduhkan saat ini. Alisnya yang tebal, kulitnya yang selalu bersih dari jerawat, hal yang sejak dulu membuat iri. Hidungnya yang … haish! Apa aku yang aku pikirkan?! 


"Dengan situasi kita sekarang, tolong singkirkan sikap reogmu itu. Kita harus kerja sama dalam menghadapi ini semua. Buang sikap reogmu itu dan jadilah seperti kucing." 


"Kucing juga ada yang nyakar kali!" Segera aku menarik tangan dari cekalannya, sebelum setan kembali membisikkan kata-kata aneh. 


Tiba-tiba saja, Aril menjulurkan tangannya, mengusap pucuk kepalaku. 


"Apaan sih Ril?!" Segera kutepis tangan itu. 


"Bukannya kucing kalau dielus jadi jinak ya? Aku sekarang lagi menjinakkan kucing liar." Aril menaik-turunkan alisnya sambil tersenyum tipis, hal yang sebelumnya tidak pernah aku lihat.


"Aish. Ril, tolong jangan seperti ini. Bersikaplah seperti biasanya. Aku jadi merinding tau liat kamu senyum kayak gitu."


"Apanya yang membuat membuat merinding?" Aril mengerutkan keningnya. "Aku hanya mencoba mengakrabkan diri. Kedepannya, kita akan hidup berdampingan dalam waktu yang cukup lama, meskipun nantinya akan berpisah. Masa setiap hari kita ribut mulu." 


Benar juga apa kata Aril. Sepertinya untuk sementara waktu, bendera putih harus dikibarkan. 


"Untuk sementara waktu, sampai kita berpisah, kamu tinggal di rumahku."


Aku yang hendak naik ke motor Aril yang mesinnya sudah menyala jadi urung begitu mendengar kata-kata barusan. 


"Apa? Nggak, aku nggak mau."


"Masa aku yang harus tinggal di rumah kamu? Kasihan bundaku, sendirian kalau aku tinggal. Kalau kamu yang pindah ke rumahku, kan masih ada Dika yang menemani orang tuamu."


"Emang siapa yang nyuruh kamu pindah ke rumahku?"


"Lah, terus?" Aril menatapku bingung.


"Kamu, ya tinggal di rumahmu. Aku, ya tinggal di rumahku."


Aril tergelak. "Kocak nih anak. Mana ada suami istri tinggal secara terpisah. Udahlah, yuk buruan naik. Kayaknya kamu lapar, makanya otaknya rada bermasalah."


Aish. Rupanya Aril mendengar perutku yang sempat berbunyi tadi.

__ADS_1


"Pegangan," ucap Aril ketika aku sudah duduk di jok motornya. Segera aku menurutinya. "Woy! Bukan pegang kepala! Baru sekarang ada suami boceng istri, tapi istrinya pegangan ke kepala." 


"Ini istri spesial, limited edition! Cuma aku istri yang kalau dibonceng suami pegangan ke kepalanya!" 


__ADS_2