PERKARA NAMA PENA

PERKARA NAMA PENA
Aril Stres


__ADS_3

Sudah hampir tengah malam, tapi mata ini tidak mau terpejam. Sementara Aril sudah tidur nyenyak di sofa sana. 


Ish. Bisa-bisanya dia bisa tidur nyenyak setelah apa yang dia ucapkan tadi.


'Aku tidak ingin bersandiwara menjadi suami istri lagi. Aku ingin, kita benar-benar menjadi suami istri.' Kata itu terus saja berputar-putar di dalam kepalaku. 


Kutatap wajah Aril dari atas ranjang. Wajahnya nampak damai, setelah memporak-porandakan perasaan orang lain. 


Dengan kesal aku menendang-nendangkan kaki di dalam selimut. 


Apa artinya setelah ini kita akan tetap melanjutkan pernikahan ini meskipun masalah Puput sudah selesai? 


***


Baru saja aku terbangun dan membuka mata, aku dikejutkan dengan wajah Aril yang berada tepat di depanku. Posisi badannya tidur miring menghadapku, dengan tangan kanan menyanggah kepalanya. Bibirnya mengulum senyum menatapku.


"Astaga, Aril!" Aku memundurkan badan menjauh darinya karena terkejut. "Kamu ngapain?!" 


Dia tersenyum. "Aku hanya ingin melihat wajahmu yang sedang tertidur." 


Aku segera menangkap tangannya yang hendak merapikan anak rambut yang menghalangi wajahku. Itu adalah refleks karena aku masih belum terbiasa dengan sikapnya ini. 


Jantungku mendadak memompa darah dengan cepat. Menimbulkan degub jantung terdengar cukup keras di telinga. Segera aku membuang muka tak ingin menatapnya. 


"A-aku mau ke kamar mandi dulu. Mau ambil wudhu, keburu habis waktu sholat!" Baru saja hendak bangkit, Aril meraih tubuhku agar kembali berbaring. 


"Sholat apanya? Kamu kan sedang halangan." 


Habis sudah. Aku tak bisa beralasan lagi.


Bicara sedekat ini dengannya membuatku jadi salah tingkah. Kenapa aku jadi gugup sementara  dia sesantai itu? 


Aku melirik jam di dinding demi mengalihkan perhatian dari pandangan matanya yang terasa tembus ke dada ini. Jam menunjukkan pukul setengah lima.


"Kamu sholat sana," lirihku gugup. "Nanti keburu habis waktunya."

__ADS_1


"Aku sudah sholat." Aril membenarkan posisinya agar lebih dekat denganku. Saat aku mencoba tidur telentang, agar menghindari tatapannya, tangan Aril mencegah bahuku agar aku tetap menghadapnya. "Tetaplah di posisi ini, aku masih belum puas memandangi wajahmu."


Lidahku rasanya kelu tak bisa menjawabnya. 


"Pejamkan matamu lagi. Di luar masih gelap, tidurlah. Aku tidak akan mengganggumu." 


Gimana aku bisa tidur kalau wajahku terus dipandangi seperti ini? 


Ah, apa di sudut mataku ada beleknya? Gimana kalau Aril melihatnya? Aku baru bangun tidur. Sudah pasti mukaku berminyak. Napasku, bagaimana dengan napasku saat berbicara barusan? Apakah bau? Aaaa. 


Meskipun di dalam kepalaku penuh dengan teriakan-teriakan panik, karena saking malunya, aku memutuskan untuk menutup mata saja. 


Memang apa bagusnya memandangi muka bantal baru bangun tidur? Sudah pasti nggak enak untuk dilihat. Dasar aneh! 


Kupikir dipandangi seperti ini membuatku tak bisa terlelap, tapi nyatanya, aku malah kembali tertidur dan terbangun saat merasakan cahaya matahari menerobos masuk ke dalam kamar melewati kaca jendela yang terbuka gordennya. Sudah tidak ada Aril lagi di dalam kamar. 


Aku terkesiap saat memandang jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan. Mataku membulat dan aku segera melompat dari ranjang.


Astaga! Gara-gara tidur lagi setelah subuh, aku jadi kesiangan. Menantu apa yang bangun di jam delapan? Lagian kenapa Aril tidak membangunkanku? Dia sekarang pasti sudah berangkat ke kafenya. 


Begitu kugeser tombol bulat berwarna hijau, terdengar suara Aril. 


Sejak kapan nomor Aril berganti nama menjadi My Husband? Siapa yang menggantinya? Apa Aril? Ponselku memang tidak memiliki sandi khusus. Aku dari dulu tidak pernah mengunci ponsel. 


"Halo, Ay. Udah bangun?" sapanya dari seberang telpon.


"Hah? Ay?" Perasaan namaku Andiyas, kenapa jadi dipanggil Ay? 


"Iya, Ayang." 


"Astaga, Aril!" Kuusap wajahku. "Geli tau dengernya!" 


"Geli apanya? Orang nggak ada yang ngelitikin kamu kok."


"Jangan manggil Ayang-ayangan. Aku geli!" 

__ADS_1


"Apanya yang geli? Kan romantis, kayak di novel yang kamu tulis. Bukannya di novel itu kamu suka pria romantis dan suka dipanggil ayang, ya?" 


Astaga! Jadi sikapnya ini gara-gara referensi dari novelku sendiri. Lagi-lagi gara-gara novel yang kubuat. 


"Lupakan soal panggilan itu. Kenapa kamu nggak bangunin aku?" Kembali kujatuhkan bobot ke ranjang dengan ponsel masih menempel di telinga. 


"Aku nggak tega bangunin kamu tadi. Apalagi kamu keliatan tambah cantik kalau sedang tidur." 


Serasa ada kupu-kupu yang terbang di perut mendengarnya memujiku cantik. Tanpa terasa, bibirku tersenyum, tapi cuma sebentar, karena setelah itu senyumku langsung lenyap. 


"Jadi maksud kamu kalau pas aku bangun, aku nggak cantik gitu? Iya?"


"Eh, aku nggak bermaksud gitu, Ay," jawab Aril cepat.


"Dibilang jangan manggil Ay!" 


"Say?" 


"Kamu manggil aku Sayton?" 


"Bebeb?" 


"Nggak!" 


"Cinta?"


"Huek!" 


"Mami?"


"Aku belum punya anak!" 


"Kalau gitu kita buat."


Mataku membulat. "Aril stresssss!" Segera aku mematikan sambungan telpon.

__ADS_1


__ADS_2