PERKARA NAMA PENA

PERKARA NAMA PENA
Tidur Bersama


__ADS_3

Garis-garis merah tercetak di punggung Aril. Kerokan sudah selesai. 


"Ril, malam ini kita tukeran aja. Kamu tidur di atas, aku tidur dibawah." Kok kesannya jahat banget aku kalau membiarkan orang sakit tidur di lantai.


Aku turun dari ranjang dan mulai merebahkan diri. Keras, itulah yang aku rasakan saat tidur di lantai. Jadi ini yang dirasakan Aril dari kemarin-kemarin. 


Entah sudah berapa jam aku berusaha memejamkan mata, tapi kenapa aku tidak tidur-tidur? 


Kuubah posisi tidur, kulihat Aril juga sepertinya tidak bisa tidur. Badan gerak-gerak mulu dari tadi. 


Balik kanan, balik kiri, mencari posisi nyaman supaya cepat tidur. Bukan posisi nyaman yang kudapat, yang ada malah kerasnya lantai yang kurasa. 


Padahal pas kemah di kegiatan Pramuka dulu, aku tidur di tenda nyenyak-nyenyak aja tuh. 


Berbagai posisi tidur sudah kucoba. Miring kanan, miring kiri, terlentang, mengkurap, meringkuk. Nggak ada satupun yang berhasil membuatku terbang ke alam mimpi. 


Aku nggak bisa tidur! 


Akhirnya aku duduk. Terlihat Aril sudah tidak bergerak-gerak lagi. Mungkin dia sudah tidur. Selimut menutupi tubuhnya dari ujung kaki sampai ujung kepala. 


Apa dia bisa napas kalau tidurnya gitu? 


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Mataku sudah terasa sepet, tapi kenapa aku tidak bisa tidur? Apa karena aku tidur di lantai? 


Apa aku tidur di ranjang aja ya? Aril kan sudah tidur, dia nggak akan tahu. Nanti sebelum dia bangun, aku akan bangun duluan. 


Aku mencoba duduk di pinggir ranjang sambil memperhatikan tubuh Aril yang terbungkus selimut. Kurebahkan diriku secara perlahan di pinggir ranjang. Paling pinggir, beneran.


Baru juga kepalaku sampai di bantal, tiba-tiba tubuh Aril bergerak. Aku sampai menahan napas agar tidak ketahuan kalau pindah tidur ke ranjang. Posisi tidurku memunggungi Aril. 


"Nggak bisa tidur kalau di lantai, ya?"


Mataku langsung terbuka mendengar suara Aril. 

__ADS_1


M*mpus! Aku ketahuan. Ternyata dia belum tidur!


Buru-buru aku bangkit dan hendak turun.


"Ngapain pindah?" Kurasakan tanganku dicekal. "Tidur di sini juga nggak papa kok. Lagian nggak akan terjadi apa-apa." Tangannya terasa panas. Sepertinya dia benar-benar sakit.


"Aku nggak kejam kayak kamu. Kamu bisa tidur di sini."


Cih! Aku kejam katanya?


Jam di dinding memaksaku untuk kembali merebahkan diri. 


"Awas ya, kalau kamu macam-macam," aku memberi peringatan.


Baru saja hendak terlelap, aku merasakan pergerakan di belakangku. Mataku terbelalak ketika menoleh ke belakang dan melihat apa yang dilakukan Aril.


"Kamu mau ngapain, Ril?!" Aku segera beringsut menjauh saat kulihat Aril membuka bajunya. Lagi-lagi aku melihat perut kotak-kotak miliknya. "Kamu jangan macam-macam ya!" Segera aku turun dari ranjang. 


Hehehe. Aku nyengir. Malu karena sudah menuduh yang tidak-tidak. 


***


Pagi harinya aku terbangun dengan posisi yang sungguh tidak aesthetic. Yang awalnya tidur di paling pinggir sisi kiri. Bangunnya aku malah berada di sisi kanan ranjang paling pinggir. Aril sudah tidak ada di kamar. 


Duuh, semoga tadi malam pas tidur aku nggak aneh-aneh. Aku segera bangkit duduk, ngumpulin nyawa dulu.


Tiba-tiba saja aku jadi teringat dengan Puput. Bukannya dia bilang akan mengajakku ke kos-kosan baru Vino ya? Tapi kenapa Puput nggak ngabarin sama sekali?


Kusambar ponsel dan memencet nomornya.


"Halo, Put?" sapaku saat telpon sudah tersambung. "Katanya kamu mau ngabarin aku kalau mau ke kosan Vino?" 


"Katanya kamu habis jatuh dari pohon, makanya aku nggak ngajak kamu," sahut Puput.

__ADS_1


"Loh? Kok kamu tahu aku jatuh? Tahu dari mana? Perasaan aku nggak ngasih tahu kamu."


"Aril yang ngasih tahu. Makanya kemarin aku pergi sama dia."


Apa? Aril pergi ke kosan Vino sama Puput, tapi aku nggak dikasih tahu?!


"Terus, gimana? Kamu udah ketemu sama Vin–"


Tut tut tut ….


Aku berdecak kesal karena ponselku kehabisan baterai. Aku tadi malam lupa tidak mengecasnya. 


Cklek!


Aku menoleh mendengar suara pintu terbuka. Pas banget, Aril masuk ke kamar.


"Kamu kemarin pergi sama Puput kok nggak bilang-bilang?" Aku mencecarnya. 


"Kamu cemburu?" 


Hiiigghh! Aku gemas dengan tebakannya itu. 


"Aku nggak cemburu, Dodol! Aku kan juga ingin tahu perkembangannya. Harusnya kamu cerita!" 


"Aku lupa buat cerita." Aril menaruh handuk basahnya di atas ranjang. Segera diambilnya lagi handuk basah itu begitu aku memelototinya. Dia langsung menaruhnya di tempat khusus handuk basah tanpa kusuruh. 


"Terus gimana? Udah ketemu sama Vino di sana? Dia mau kan bertanggungjawab? Jadi kapan kita pisah?" 


"Apa? Pisah?" 


Aku dan Aril kompak menoleh ke suara yang berasal dari ambang pintu. 


Napasku tercekat begitu melihat ibu berdiri di sana. Apa ibu mendengar percakapan kami?

__ADS_1


__ADS_2