PERKARA NAMA PENA

PERKARA NAMA PENA
Jamu Ibu Hamil


__ADS_3

"Apalagi tokoh perempuannya, ini kan jelas-jelas mirip … aahh. Tambah bikin kesel aja!" 


Perasaan Aril dulu nggak gini deh. Apa jangan-jangan dari dulu dia emang gini? Jangan-jangan rahasia otak encernya yang selalu mempertahankan rangking satu adalah dengan berbicara sendiri. 


Tapi ngeri juga kalau dengerin orang bicara sendiri kayak gini. 


***


"Yas, bangun." Aku merasakan tepukan di lenganku.


"Hm, apa?" Rasanya berat sekali untuk membuka mata. 


"Ayo bangun, mandi. Udah subuh."


Aku mengerjab-ngerjab, semerbak aroma parfum Aril tercium karena dia berdiri di samping sofa tempatku tidur. 


"Buruan mandi. Udah ditungguin buat sholat bareng sama Bunda." 


Dengan nyawa yang masih belum terkumpul sempurna, aku berjalan perlahan menuju kamar mandi. 


"Diyas!" seru Aril tiba-tiba. "Kamu …." 


Aku berhenti berjalan dan menoleh ke Aril. Dia kenapa sih, sampai berseru begitu. "Ada apa?" Aku mengucek mata yang masih terasa berat untuk dibuka. 


"Darah!"


Hah? Darah?


Kuikuti pandangan mata Aril yang mengarah pada bagian belakang tubuhku. Mataku membulat begitu melihat sedikit bercak darah di belakang celanaku yang berwana hijau muda. Aku datang bulan. Sedikit terbersit rasa malu karena Aril yang notabene adalah laki-laki melihat hal seperti ini. 


"Gimana ini?" Dia terlihat panik. 


Bukankah harusnya aku yang merasa panik dan malu karena bocor?


"Sejak kapan?" tanyanya. 


Dia kenapa, sih? Apa dia marah takutnya ada darah yang menempel di sofanya? 


Aku melirik ke arah sofa, tapi tidak ada noda darah yang ada di sana. Karena tadi aku tidur dengan posisi miring, dan juga noda darah di celanaku cuma sedikit. 


"Gawat!" ujarnya lagi. 


"Kamu kenapa sih, Ril?" tanyaku heran. "Kamu sholat aja sana. Aku kan nggak bisa sholat." 


"Terus aku harus bilang apa sama Bunda?" 


*Ha? Apa maksudnya bilang sama Bunda?" Aku sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud Aril. Lagi pula, aku juga malu kali berdiri terus seperti ini. Aku mau cepat-cepat mandi. 


"Mana ada orang hamil datang bulan." 

__ADS_1


Oh, iya! 


Seketika aku juga ikut merasa panik. Ditambah lagi, aku tidak membawa pemb*lut ke sini. Apa aku ke rumah untuk mengambilnya dari kamarku? Tapi kalau ketahuan ibu gimana?


Baru bangun tidur udah pusing aja. 


"Kamu bilang aja aku nggak enak badan. Jadi nggak bisa sholat bareng."


"Tapi–"


"Masalahnya sekarang adalah, aku nggak ada pemb*lut di sini. Semuanya ada di kamarku!" 


"Ya tinggal ambil aja!"


"Kalau ketahuan Ibu gimana?" 


Aril terdiam. Akhirnya Aril yang mengambilkan benda yang wajib dimiliki setiap datang bulan itu. Katanya dia beralasan mengambil bajunya yang tertinggal di kamarku saat berpapasan dengan ibu. 


"Yas, kata Aril kamu sakit?" Bunda masuk ke dalam kamar tepat setelah aku mandi dan sedang rebahan di sofa. Punggung tangannya menempel di dahiku untuk mengecek suhu tubuh.


"Cuma pusing aja, kok, Bun." 


"Pasti ini bawahan hamil," ujarnya, ada gurat khawatir di wajahnya. Dosa kamu, Yas. Sudah berbohong dan membuat orang tua khawatir. "Kenapa nggak tiduran di ranjang? Biar kakinya bisa dilurusin? Tidur di ranjang aja, ayo." Aku menurut saat bunda menyuruhku tidur di ranjang Aril. 


"Apa kamu juga merasa mual?" tanya bunda.


"Aku nggak papa kok, Bun. Pasti dibuat tiduran sebentar juga ilang pusingnya," tambahku. 


"Dikasih minyak kayu hitam, ya. Biar agak mendingan." Aku pasrah saat bunda mengoleskan minyak di kedua pelipisku.


Setelah itu, bunda pamit untuk memasak. Aku dilarang membantunya. Bahkan, ketika sarapan pun, Aril yang membawa makanan untukku ke dalam kamar. 


"Silahkan makan, Opet," ucapnya, yang membuatku memelototkan mata. 


"Awas, nanti nggelinding ke piring, kena makan juga lagi," dia terkekeh.


"Ngapain sampek dibawain ke kamar segala? Aku masih bisa jalan ke meja makan." 


"Bunda yang nyuruh. Ayo, makan."


"Ini kebanyakan nasinya. Udah kayak porsi orang habis bajak sawah aja. Ini lagi, kenapa kangkungnya banyak banget? Aku nggak suka kangkung. Ak–" 


"Jangan nyerocos mulu. Makan." Aril memasukkan nasi ke mulutku, sehingga aku tak bisa melanjutkan ucapanku. 


"Aku bisa makan sendiri." Kuambil alih piring dari tangan Aril dan menaruhnya di pangkuan. 


"Gimana nih ke depannya? Masa harus pura-pura sakit terus supaya nggak ikut sholat?" tanya Aril setelah dia menutup pintu kamar supaya bunda tidak mendengar percakapan kami. 


"Alasan aja aku sholat sendiri di kamar."

__ADS_1


"Mana bisa gitu. Nanti bisa curiga Bunda."


"Ya kamu sholat di kamar juga. Biar dikira kita jamaah di kamar." 


Aril terdiam, mempertimbangkan apa yang baru saja kuucapkan. Tanpa sengaja, kami menghela napas panjang secara bersamaan. Kami saling menatap sebentar, kemudian saling tertawa lepas. 


"Ribet amat, sih."


"Gara-gara Puput ini. Pokoknya setelah ini, kita harus minta bayaran sama dia. Enak aja, masa sudah disuruh akting, tapi nggak dapat bayaran," selorohku. "Oh iya, gimana kabar Puput, ya? Dia nggak ngabarin aku. Apa dia sudah dapat informasi baru tentang Vino?"


"Aku udah nyuruh orang buat mencari informasi tentang Vino." 


"Jiah. Udah kayak banyak duit aja, pakek nyuruh-nyuruh orang segala."


"Aku kan emang banyak duit, Yas. Kamu lupa, kafeku kan sekarang ada di mana-mana."


"Mulai deh sombongnya." 


Tok tok tok.


Ketukan di pintu membuat kami terdiam. Setelah itu, bunda masuk membawa gelas berisi minuman berwarna kuning pekat. 


"Yas, ini jamu khusus buat ibu hamil. Diminum, biar kamu dan bayi yang ada di dalam perutmu sehat."


Gleg.


Aku menatap ngeri pada minuman yang dibawa bunda. Seumur-umur, aku belum pernah minum jamu. Jangankan minum jamu, tolak badai alias angin aja aku nggak mau. Menurutku pahit. Apalagi jamu tradisional kayak gini? Sudah pasti lebih pahit dibandingkan dengan tolak angin. 


Saat sakit saja aku jarang minum obat. Aku akan memilih tidur, setelah itu pasti mendingan. 


"Yas, kok malah bengong? Ayo diminum." Ucapan bunda membuyarkan lamunanku.


Aku menghela napas berat menatap jamu itu. 


Tanganku menerima gelas yang disodorkan bunda dengan seribu keraguan. 


"Nggak pahit, kok. Bunda sudah tambahin madunya yang banyak biar nggak terlalu pahit," ujar mertuaku itu.


Apanya yang nggak pahit? Dari baunya saja sudah menyengat. 


"Ayo diminum," ucap bunda lagi. Kulirik Aril yang malah tersenyum, seakan bahagia dan tidak sabar menunggu diri ini menyesap minuman yang sudah pasti sangat pahit. 


"Ayo, Yas, diminum. Demi bayi kita." Aril malah ikut-ikutan menyuruh. 


Bayi apaan? Awas kamu, Ril!


Baru saja menempelkan gelas pada bibir, rasanya sudah mau muntah mencium bau jamu ini. Kupencet hidungku agar tak mencium bau jamu yang membuat perut bergejolak ingin mengeluarkan isinya yang baru saja masuk.


Harusnya Puput yang minum ini. Kenapa jadi aku? Put, gara-gara kamu aku harus meminum ini. Aku berkorban banyak untukmu, Put. Awas nanti kalau ketemu!

__ADS_1


__ADS_2