PERKARA NAMA PENA

PERKARA NAMA PENA
Tiba-tiba Menikah


__ADS_3

"Yas, aku mau ngomong sesuatu sama kamu." Aril tiba-tiba menarikku menjauh dari meja makan. 


"Mau ngomong apa sih?!" Aku melepaskan tangannya saat kami berada di dapur.


"Jangan di sini, nanti mereka denger. Di halaman belakang aja." 


Aku mengekori Aril yang membuka pintu belakang rumahku. Dia menghela napasnya sebelum membuka suara. 


"Kenapa kamu malah bilang aku selingkuh?" tanyanya dengan wajah tak suka.


"Biar masalahnya cepet kelar."


"Ya tapi nggak harus bilang aku selingkuh juga kali. Aku kan jadi jelek di mata mereka."


"Ya habisnya kamu dari tadi diem mulu. Kamu nggak tanggungjawab sama apa yang udah kamu lakuin!" 


PLAK! 


Aku terkejut saat ada tangan yang tiba-tiba menarik kerah baju Aril dan menamparnya. 


"Bunda?" Aril memegangi pipinya. "Ada apa Bun? Kenapa tiba-tiba aku ditampar?" 


"Keterlaluan kamu Ril!" geram Tante Rani marah, matanya bahkan memerah menahan air mata. 


Sebenarnya ada apa ini? Bukan cuma Tante Rani, bahkan bapak dan ibuku juga terlihat marah dan kecewa, tak terkecuali Dika, dia menatapku dengan raut kecewa.


"Ibu dan Bapak kecewa sama kamu Yas," ucap ibu sambil menangis. "Sudah berapa bulan?"


"Hah? Apanya Bu? Aku tidak menger–"


"Ini!" Ibu menunjukkan test pack yang ada di tangannya. 


"Tunggu dulu Bu, ada sebenarnya ini? Test pack punya siapa itu?" Aku masih tidak mengerti dengan situasi ini. 


"Nggak usah pura-pura kamu! Tadi Ibu ke kamar kamu buat ngangkat ponsel kamu yang bunyi terus, takutnya penting, tapi ketika Ibu masuk, Ibu malah nemu ini! Kamu hamil kan sama Aril?!" 


"Apa!?" seruku dan Aril bersamaan. 


"Nggak Bu! Itu nggak benar! Aku sama Aril–" Ibu mengangkat tangannya, tanda tak ingin mendengar penjelasanku. 


"Aku nggak hamil Bu! Itu bukan punyaku!" Seberapa keras aku mencoba menjelaskan, ibu tetap tidak mendengarkanku. 


Ibu menangis di pelukan bapak, menyalahkan dirinya sendiri, mengatakan tidak becus mengurusku, membuat hatiku teriris melihatnya begitu terluka, tak terasa air mataku juga luruh. Aku mendekat dan memeluknya.


"Nggak Bu, Ibu salah paham. Aku nggak hamil. Itu bukan punyaku, aku bahkan nggak tau itu punya siapa." Aku berusaha menjelaskan sambil sesenggukan, aku sungguh tak tega melihat ibu terus menangis. 


"Pak, Bapak percaya kan sama aku?" Bapak tak menjawab, bahkan tak mau menatapku. Aku beralih ke Dika. "Dik, kamu percaya kan sama Kakak? Kamu kan tau Kakak, nggak mungkin Kakak begitu." 


Dika menatapku dengan tatapan yang … entahlah, aku tidak bisa menjelaskan.


"Dika ingin percaya sama Kakak, tapi … alat itu …." Dika membuang wajahnya ke arah lain, tidak mau menatapku. 


Aku meraup wajahku kasar. Sebenarnya punya siapa test pack itu?! Kenapa ada di kamarku?! 


"Ril! Kenapa kamu diem aja?! Ngomong dong Ril! Bilang sama mereka kalau aku nggak hamil! Gimana bisa hamil, kita kan–"


"Anak siapa itu Yas? Kamu hamil sama siapa?" 

__ADS_1


Apa?! Bodoh! Kenapa dia juga malah mengira aku hamil?! 


PLAK! 


Lagi-lagi Aril ditampar Tante Rani. 


"Keterlaluan kamu Ril! Setelah apa yang kamu lakukan, kamu malah bertanya itu anak siapa?!" 


"Tapi Bun, ak–"


"Cukup! Bunda malu Ril, malu! Bunda malu saat mendengar Diyas mengatakan kamu tidak bertanggungjawab atas apa yang sudah kamu lakukan! Bunda juga perempuan Ril, hancur hati Bunda mendengarnya! Setelah apa yang kamu lakukan, kamu mau lari dari tanggung jawab? Nggak bisa Ril, kamu harus menikahi Diyas!" 


Aku sudah tidak bisa mencegah pernikahan itu. Tidak ada yang percaya dengan ucapanku. Hari itu juga kami dinikahkan di KUA. Resepsi? Aku udah nggak mau tau lagi tentang itu. 


Aku sedih, ibu masih tidak mau bertemu denganku, ibu mengurung diri di dalam kamar. 


Ini nggak benar. Aku nggak salah. Test pack itu bukan punyaku! Punya siapa itu sebenarnya? Siapa yang menaruhnya di sana?!


***


Tubuhku memang duduk di ranjang, tapi pikiranku terbang kemana-mana. Aku harus menyelesaikan salah paham ini. 


Triririring! 


Saat kulirik layar ponsel, tertera nama Puput di sana. 


"Halo, ada apa Put?" 


"Yas, aku mau cerita sesuatu sama kamu." Suara Puput terdengar ragu. "Sebenernya aku mau cerita ini beberapa hari yang lalu, tapi waktu itu nggak jadi karena Dika pulang sekolah."


"Put, bukannya aku nggak mau dengerin cerita kamu ya, tapi sekarang aku lagi pusing." Aku memijat pelipis.


"Tadi siang aku dipaksa nikah sama Aril, di KUA."


"Hah? Apa? Kamu nikah sama Aril? Kok bisa?" 


"Ceritanya panjang. Semua itu gara-gara test pack sialan yang ditemukan Ibu di kamarku, nggak tau punya siapa."


"Test pack?" Puput terdengar terkejut. "Dengan tanda positif?"


"Ya iyalah! Kalau negatif nggak mungkin aku dipaksa nikah!" 


"Tapi kenapa Aril? Maksudku, kok bisa kamu nikahnya sama Aril?"


"Ceritanya panjang. Pokoknya besok aku mau ke rumah sakit. Aku mau buktiin kalau aku nggak hamil."


"Tunggu Yas, jangan ke rumah sakit dulu. Kamu kan bisa jelasin ke mereka tanpa harus periksa segala."


Aku mengernyit mendengar ucapan Puput.


"Ya kalau cuma dengan penjelasan udah mempan, pernikahan ini nggak mungkin bisa terjadi Put! Udah ah, aku pusing, jangan tambah bikin emosi. Aku tutup dulu ya." 


Baru juga panggilan terputus, Aril masuk ke dalam kamarku.


"Ngapain kamu ke sini?" Aku menatapnya jengkel. Semua ini tidak akan terjadi kalau dia tidak ngaku-ngaku jadi pacarku.  


"Bunda nyuruh aku buat jemput kamu, pindah ke rumahku." 

__ADS_1


"Apa? Nggak ada, aku nggak akan pindah kemana-mana. Aku akan tetap di sini, di rumahku!" 


Terdengar helaan napas panjang Aril.


"Sebenarnya itu anak siapa?" 


Heeegghh! Dateng-dateng cuma bikin emosi. 


"Aku sudah bilang kalau aku nggak hamil!" Aku meraup wajahku kasar. 


"Tapi test pack itu positif."


"Itu bukan punyaku!" 


"Terus kenapa ada di kamar kamu?" 


"Aku nggak tau! Aku nggak tau kenapa benda itu ada di kamarku!" 


"Kamu nggak bohong kan?"


"Nanya lagi aku tampol ya Ril! Aku pusing, jangan tambah bikin emosi!"


Aril terdiam. Bisa-bisanya dia juga mengira aku hamil. Hamil sama siapa coba, keluar rumah aja kalau mau beli kuota internet doang. 


"Terserah kamu mau percaya atau nggak sama aku. Yang jelas, besok aku mau ke rumah sakit. Aku akan periksa, aku akan membuktikan kalau aku nggak hamil!" 


"Aku temani," sahut Aril.


"Bodo amat!" Aku merebahkan tubuh, rasanya energiku banyak terkuras seharian ini. Padahal aku ada tanggungan nulis tiga novel. Nggak tau deh nasibnya gimana, pusing aku. 


"Aku tidur di mana?" 


Aku yang sudah tidur miring menghadap tembok kembali menoleh ke Aril yang sedari tadi berdiri.


"Apanya yang tidur di mana?! Sana tidur di rumahmu sendiri!" 


"Aku nggak boleh pulang sama Bunda kalau nggak sama kamu!" 


"Bodo amat! Itu bukan urusanku! Ini semua kan gara-gara kamu!" 


"Terus aku tidur di mana?"


"Terserah, mau tidur di kolong kek, di atas lemari kek, terserah mau tidur di mana asal jangan di kasurku!"


Aku kembali memunggungi Aril, menghadap tembok. Apa aku keterlaluan? Bodo amat, aku jengkel sama dia. 


"Setidaknya kasih aku alas buat tidur di lantai!" 


"Heeegghh! Nyusahin! Kenapa nggak tidur di kursi ruang tamu aja sih?!"


"Ada bapakmu di luar! Aku nggak enak, masih sungkan gara-gara masalah ini!" 


Aku menyentak napas kasar. Aku berikan selimutku ke Aril untuk alas tidur. Kasian juga dia kalau tidur di lantai tanpa alas. 


"Ini bukan sepenuhnya salah aku ya. Kamu juga ikut andil, karena test pack itu ditemukan di kamarmu!" 


Hiiigh! Kesal aku mendengar ucapannya. Kulempar bantal tepat ke wajahnya, tapi malah ditangkap dong.

__ADS_1


"Makasih bantalnya," ucap Aril, membuatku tambah kesal. 


Hiihgh! 


__ADS_2