PERKARA NAMA PENA

PERKARA NAMA PENA
Akhirnya Pulang Juga


__ADS_3

Bresss!


Tiba-tiba hujan turun dengan deras. Langit yang tadinya cerah mendadak berubah hitam. Siapa yang numpahin tinta woy!


BLEDARR! 


Maaf, diri ini tak bermaksud marah barusan.


Aku refleks menutup telinga karena suara guntur. 


"Duh, mana nggak bawa jas hujan lagi," gumam Aril sembari menatap hujan yang turun. "Kita pulang setelah hujan reda." 


Apa?


Aku hendak protes, tapi dia udah main bangkit aja. Aku pasrah ditinggal Aril.


Mendingan sendiri. Kalau deket sama dia berasa kayak lagi sama kompor, panas. Bawaannya emosi mulu. 


Hujan-hujan gini, enaknya mengarang indah kali ya.


Aku merogoh saku celana untuk mengambil ponsel.


Loh, kok nggak ada?


Aku beralih merogoh saku celana kiri, tapi nggak ada juga. 


Duh, pasti ketinggalan di warung ini!


Aku kembali pasrah. Biasa pegang ponsel, terus kali ini nggak pegang ponsel. Kalian taulah rasanya gimana. 


Hujannya awet banget. Dia lagi pesta di luar sama teman seperjuangannya. Udah tau belum temen seperjuangan hujan siapa? Tentu saja kilat, guntur, sama angin. 


Aku mengusap lengan yang terasa dingin. Salah sendiri cuma pakek kaos oblong lengan pendek. 


"Dingin ya? Nih pakek." Seseorang menyodorkan jaket padaku.


Aril? Oh, tentu saja bukan. Yono yang menawariku jaket. Cowok berambut keriting itu tersenyum ramah padaku. Di atas bibirnya dihiasi kumis tipis. 


Belum juga aku mengambil jaket itu, eh ada orang lain yang menyerobot duluan. 


"Simpan jaketmu!" Aril lah orang itu. "Sayang kalau dipakek dia. Keringetnya bau, dicuci pakek air tujuh sumur pun nggak bakalan ilang keringetnya dari jaket kamu." 


"Enak banget kalau ngomong! Dikira aku ini rakun apa!?" Aku melotot ke Aril yang ngomong seenak udel. 


"Udah, sana kamu Yon. Tuh ada pelanggan, mending kamu layanin mereka," ucap Aril menunjuk ke dua orang yang baru saja masuk. 


Dua orang itu tidak basah karena mereka pakai mantel. Aku lihat pas mereka di luar tadi. 


Aku melirik kesal ke Aril ketika dia berlalu meninggalkanku yang sedang kedinginan. 


Kupegang cangkir di meja yang masih terasa sedikit hangat untuk menghilangkan hawa dingin. Sesekali aku juga menyesap isinya. 


Waktu rasanya berjalan begitu lambat. Ketika jam di kafe ini sudah menunjukkan pukul setengah dua, hujan masih betah memandikan kafe Aril.


"Kamu belum sholat zuhur kan?" Aril tau-tau nongol. "Di belakang ada musholla," ucapnya lagi. 

__ADS_1


Beruntung tadi pas nyuci mangkuk dan beresin meja kotor di warung aku pakai celemek. Jadi bajuku bisa dibuat sholat.


Aku bangkit mengikuti Aril yang menunjukkan arah musholla, tapi tiba-tiba aja dia berhenti dan menoleh ke arahku.


"Sebenarnya aku mau bilang ini dari tadi," ucapnya sambil menatapku. 


Mau bilang apa dia? Mukanya serius banget. Kutatap Aril, menunggu kata yang akan diucapkannya.


"Ponimu jelek."


Astaga Aril! Kirain mau bilang apa.


"Aku udah tahu! Nggak usah dibilang juga kali!" sahutku ketus. 


Nggak akan lagi aku minta tolong adek laknat buat motongin poni. 


"Kirain kamu bangga punya poni jelek gitu." 


"Higgh! Bisa nggak sih nggak usah diulang bilang jeleknya! Aku tau kalau jelek, makanya aku jepit ke belakang!" 


"Jepit apaan? Orang dari tadi poni pendekmu itu njebrik ke atas." 


"Apa?" 


Seketika aku meraba poniku. Benar saja. Tak ada jepit yang nangkring di sana. Rambut poni yang kependekan ini terasa berdiri kayak orang habis kesetrum.


***


Kami sholat berjamaah. Aril jadi imam, dan aku sebagai makmumnya. Itukah yang kalian bayangkan? 


Ternyata di sini sudah tersedia beberapa mukena. Aku memilih yang warna abu-abu. 


Begitu wangi ketika aku memakainya. Musholla yang tidak besar dan tidak juga kecil ini begitu bersih dan terawat. 


Dan juga ... stop-stop! Jangan lagi mengucapkan kata-kata yang menjurus memuji Aril. 


Setelah mengucapkan dua salam terakhir, aku kembali sujud. Berdoa, dan mencurahkan isi hati. Keinginan dan harapan pun juga tak ketinggalan.


***


"Yas. Diyas!"


Aku merasa tubuhku bergoyang-goyang, ulah dari seseorang. 


Mataku seketika langsung terbuka, dan wajah Aril yang pertama kulihat. 


"Aril? Kamu ngapain di sini?" Segera aku duduk.


"Ngapain ngapain. Lupa ingatan apa pikun kamu? Disuruh sholat malah tidur." 


Astaga! Iya, bener!


Aku masih memakai mukena. Rupanya setelah sujud sambil berdoa tadi, aku malah bablas ketiduran. 


Aku melihat jam yang ada di dinding musholla. Sudah jam tiga sore. 

__ADS_1


Ya ampun, berapa lama aku tidur?


"Kamu gimana sih Yas. Disuruh sholat malah tidur. Jangan-jangan mukenanya kamu ilerin lagi!"


Mataku membulat mendengar tuduhan Aril. 


"Enak aja! Aku nggak ngiler ya!" 


"Dari mana kamu tahu kalau nggak ngiler, kan kamu tidur." 


"Nih, liat pipi aku! Ada bekas sumber air nggak? Nggak ada kan!" Aku meraba dan menunjukkan pipiku ke Aril. 


Syukurlah pipiku beneran terasa kering. Berarti aku nggak ngiler. 


"Sana wudhu lagi, terus sholat ashar. Habis itu kita pulang. Aku tunggu di luar." 


Setelah mengatakan itu, Aril keluar dari musholla. 


***


Habis sholat kami langsung pulang. Hujan tadi sudah berubah menjadi gerimis kecil-kecil. 


Tiba-tiba saja ada Dika dan kura-kura ninja miliknya mepetin motor Aril.


Orang tuaku memang pilih kasih banget. Baru tadi pagi Dika minta, eh sorenya udah dapet aja tuh motor. 


"Widih, motor baru nih!" ucap Aril sambil melambatkan kecepatan motornya. 


"Iya. Hehehe." 


Dika dan Aril memang dekat. Padahal Aril itu musuh bebuyutan kakaknya ini. Harusnya kan dia juga ikutan musuhin Aril. Adik laknat emang. 


Motor Aril dan motor Dika berjalan beriringan dengan pelan. 


"Motor dibeliin orang tua aja bangga!" cibirku.


"Kayaknya ada yang sirik Mas," ucap Dika ke Aril. Benar-benar Adik laknat. 


Sebenernya kakaknya itu siapa sih? Aku atau Aril? 


"Siapa juga yang sirik!" sungutku.


"Bilang aja iri karena nggak dibeliin juga sama Bapak!" 


"Nggak ya! Nggak ada kata iri di kamusku! Lagian kamu itu jadi cowok kemenyek banget sih Dik! Jalan cuma lima belas menit aja, ngerengek minta motor!" 


"Mas Aril kok betah sih bonceng bambu lurus, cerewet lagi." Dika berbicara tak melihat ke arahku, tapi ke Aril.


"Kamu ngatain aku cerewet Dik?! Bener-bener ya!" Aku mencondongkan badan ke kanan, hendak meraih lengan Dika, berniat untuk mencubit. 


Namun secepat kilat Dika mempercepat laju motornya. Membuat tanganku hanya meraih angin. 


"Eh eh!" Tubuhku terlalu condong, membuatku tak bisa menjaga keseimbangan.


"Aakkh!"

__ADS_1


BRUKK! 


__ADS_2