PERKARA NAMA PENA

PERKARA NAMA PENA
Pemilik Test Pack Yang Sebenarnya


__ADS_3

Aku tersenyum membaca hasil pemeriksaan. Setelah aku menunjukkan kertas ini, semua kesalahpahaman akan selesai.


"Gimana hasilnya?" tanya Aril yang duduk di sampingku. 


"Gimana apanya?! Sudah jelas aku nggak hamil! Emang mau hamil anak siapa?!" 


Aril mengambil alih kertas hasil pemeriksaan yang ada di tanganku. Matanya fokus membaca.


"Aku akan menunjukkan surat itu ke orang tuaku." Aril hanya mengangguk. 


"Kirain kamu beneran hamil," celetuk Aril. 


"Gila kamu ya?! Kamu kira aku cewek apaan? Yuk kita pulang, aku nggak sabar buat ngasih tau Ibu." 


Triririring!


Baru juga aku hendak bangkit, ada panggilan masuk dari Puput.


"Halo Put, ada apa?"


"Kamu udah periksa ke rumah sakit?" tanya Puput.


"Udah."


"Gimana hasilnya?" 


"Ya jelas aku nggak hamil lah Put! Gimana sih? Aku nggak sabar buat ngasih tau Ibu sama Bapak. Aku–"


"Tunggu dulu Yas! Jangan kasih tau mereka dulu!" potong Puput. Aku bingung mendengar ucapannya.


"Kenapa?"


"Aku mau ngomong sesuatu dulu sama kamu, ini penting. Kita ketemuan di tempat biasanya ya."


"Put, nanti aja kita ketemuannya. Aku harus ngasih kabar ini dulu sama Bapak dan Ibu. Mereka marah sama aku. Ibu mengurung dirinya di kamar terus, nggak mau ngomong sama aku. Udah ya, aku tutup dulu–"


"Tunggu Yas!" seru Puput. "Ini masalah test pack itu!" Aku urung mengakhiri sambungan telpon mendengar kata terakhir yang diucapkan Puput. 


"Test pack? Apa maksudmu, Put?" 


"Aku nggak bisa ngomong ini di telpon. Kita ketemuan di tempat biasa." 

__ADS_1


Aku ingin bertanya lebih lanjut, tapi Puput sudah mengakhiri sambungan telpon. 


Apa yang sebenarnya ingin dibicarakan Puput? Kenapa dia ingin membahas test pack itu? Apa jangan-jangan dia yang menaruh alat itu di dalam kamarku? Tapi kenapa? 


***


"Kenapa kita ke kafe ini? Kenapa nggak di kafe aku aja? Lebih deket, ini jauh banget dari rumah kita. Mana harganya lebih mahal dari kafe aku lagi."


"Sstt! Ril, kenapa kamu berubah jadi cerewet, sih? Kamu kan biasanya cool dan nggak banyak omong." Aku sedikit kesal karena dari tadi menunggu Puput yang tak kunjung datang. Aku penasaran dengan apa yang ingin dia bicarakan. 


"Apa? Cool? Jadi kamu mengakui kalau aku cool?" 


Duh, pakek salah ngomong lagi!


Aku menghela nafas panjang. "Dahlah Ril, aku lagi nggak mau berdebat. Puput yang ngajak ketemuan di sini, dia tadi nyebut test pack yang ada di kamarku."


"Test pack? Kenapa Puput mau bahas tentang itu? Apa jangan-jangan dia yang naruh alat itu? Tapi kenapa? Bukannya kamu sahabatan sama dia? Kalian ada masalah apa sam–"


"Sssttt!" Aku mengatupkan bibir Aril dengan kelima jariku. Entah kenapa dia jadi lebih cerewet akhir-akhir ini. "Kamu bisa diem nggak Ril? Aku nggak tau dan hanya bisa tau setelah Puput datang." 


Aku melepaskan tanganku setelah Aril mengangguk. Nah, kalau diem gini kan jadi ganteng lagi. Eh? 


Aku pikir setelah datang, Puput akan langsung berbicara tentang apa yang ingin dia bahas tadi. Namun, setelah beberapa menit dia tetap bungkam. 


"Put, kamu ngajak aku ke sini cuma mau diem-dieman? Kalau gitu mending aku pulang aja. Ada hal penting yang harus aku lakuin." Aku sudah sangat penasaran dengan apa yang mau Puput bicarakan, tapi dianya malah cosplay jadi batu. 


"Tunggu Yas." Puput menahan lenganku yang hendak bangkit. "Aku … ingin bicara berdua saja." Puput melirik ke arah Aril.


Kutatap Aril, alisnya tampak menyatu. "Nggak bisa," ujar Aril. "Kamu ke sini mau bahas tentang test pack yang ditemukan di kamar Diyas kan? Gara-gara test pack itu aku terseret masalah ini. Jadi, aku berhak untuk mendengarkan juga." 


Tersedengar helaan napas panjang Puput. 


"Sebelumnya, aku minta maaf ya Yas. Sebenarnya … benar test pack itu aku yang bawa, tapi–"


"Apa? Jadi benar kamu yang naruh alat itu di kamar aku? Kenapa Put? Apa alasan kamu naruh alat itu di kamar aku? Salah apa aku sama kam– Hemph!" Aril menjejali mulutku dengan kue yang kami pesan tadi. 


"Mingkem dulu. Puput belum selesai ngomong," ucap Aril. 


"Aku minta maaf Yas, aku bukannya sengaja menaruhnya, tapi nggak sengaja jatuh. Mungkin terjatuh saat aku tiduran di kasurmu tempo hari." 


Aku terdiam sejenak, mengingat kejadian tempo hari. 

__ADS_1


"Tapi, alat itu positif. Punya siapa itu? Dan kenapa kamu memba–"


"Itu punyaku. Aku hamil Yas." 


Jder! 


Seperti ada sambaran petir di siang bolong yang cerah ini. 


"Jangan bercanda ya Put. Kamu bohong kan?"


"Aku nggak bohong," lirih Puput. Kepalanya semakin menunduk. "Aku sama Vino …." 


Kepalaku rasanya berdenyut mendengar apa yang Puput ucapkan. Aku tidak menyangka sahabatku, bestiku, melakukan hal seperti itu. 


Marah dan kecewa bercampur menjadi satu. Aku sampai tidak bisa berkata-kata saat Puput menceritakan semuanya. 


Mungkin kalian berpikir reaksiku terlalu berlebihan dan lebay. Kenapa aku harus marah? Aku hanyalah teman Puput, bukan siapa-siapa. Mungkin kalian berpikir seperti itu.


Namun, bagiku Puput bukan orang lain. Aku dan Puput bersahabat sudah sangat lama. Aku sudah menganggapnya seperti saudaraku sendiri. Jadi, apa yang dilakukan Puput ini, rasanya sangat menyakiti hatiku. 


Aku ingin sekali marah padanya, tapi mendengar bahwa Vino tak ada kabar setelah Puput mengatakan dirinya hamil, membuatku harus meredam rasa marah tadi. 


Pasti berat menjalani ini semua bagi Puput. Aku harus memberinya dukungan, memberinya kekuatan.


"Tolong rahasiakan ini, jangan sampai orang tuaku tau," ucap Puput, ia mengusap air matanya yang sedari tadi menetes ketika menceritakan semuanya. "Kau tau ibuku seperti apa kan, Yas. Bisa-bisa dibunuh aku. Sampai aku menemukan Vino dan dia bertanggungjawab, tolong rahasiakan ini." 


Kurengkuh tubuh ringkih itu, mengusap lembut punggungnya, seolah menyalurkan kekuatan padanya. 


"Aku akan merahasiakannya Put, aku janji. Tapi, aku masih tidak mengerti, kenapa kamu melarangku memberitahu orang tuaku tentang hasil tes bahwa aku tidak hamil? Apa hubungannya dengan semua ini?" 


Puput melepas pelukanku. 


"Jika mereka tahu bahwa kamu tidak hamil, mereka akan bertanya-tanya, milik siapa test pack itu? Dan mereka akan tahu bahwa itu punyaku, karena hanya akulah orang luar yang masuk ke kamarmu. Jika sampai mereka tau, sudah pasti orang tuaku juga tahu. Maka dari itu, aku mohon padamu, Yas." Puput menggenggam kedua tanganku. "Aku mohon, tetaplah berpura-pura hamil, aku mohon … sampai Vino mau bertanggung jawab." 


Aku menghela napas berat. Kutatap Aril yang ternyata juga sedang menatapku. 


 


Padahal semuanya sudah jelas, dan tinggal selangkah lagi kesalahpahaman ini akan berakhir. Aku tinggal menyerahkan hasil tes ini kepada ibuku, setelah itu ibu tidak akan mengurung dirinya lagi, ibu tidak akan marah lagi, ibu akan kembali berbicara padaku. Semua akan kembali seperti sediakala.


Namun, satu langkah itu sekarang terasa begitu berat untuk dilakukan. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?

__ADS_1


__ADS_2