PERKARA NAMA PENA

PERKARA NAMA PENA
Mas Bayu Menyukaiku


__ADS_3

"Puput? Kok kamu ada di sini? Kamu tau darimana aku ada di sini?" 


"Aku tadi sedang cek kandungan, terus aku nggak sengaja liat Ibu kamu. Katanya kamu keguguran? Kamu kan cuma pura-pura hamil? Bagaimana bisa keguguran?" Puput menatapku dan Aril secara bergantian. "Apa jangan-jangan kalian sudah menjadi suami istri beneran? Dan kalian sudah …." 


"Ngawur kamu!" seruku tertahan, mengingat ada ibuku yang bisa saja mendengar suaraku jika berteriak.


Dasar, aku sudah merelakan kulitku ditusuk jarum demi dia, sakit demi dia, dan dia malah mengira yang bukan-bukan. 


"Jadi kamu nggak keguguran?" tanya Puput. 


"Ya nggaklah! Apa yang mau digugurin?" 


Akhirnya aku menceritakan apa yang terjadi padaku hingga bisa dibawa ke sini. 


Atas saran dari Mas Bayu, aku dirawat di rumah sakit layaknya orang yang benar-benar keguguran. Agar menyempurnakan akting yang tidak dibayar ini. 


Saat yang lain pada sibuk, Mas Bayu selalu datang menemaniku. Membawakan buah-buahan, dan makanan-makanan lainnya. 


"Mas nggak perlu repot-repot gini. Udah kayak orang sakit beneran aku kalau setiap Mas Bayu ke sini bawain makanan," ucapku saat Mas Bayu baru datang, di tangannya menenteng kresek berwarna putih yang berisi salad buah. 

__ADS_1


"Mas juga nggak perlu ke sini setiap hari nemenin aku. Aku kan nggak sakit beneran, jadi nggak usah ditemani juga nggak papa," lanjutku. 


"Nggak papa, lagian aku nggak repot kok, cuma bawa ginian doang." Mas Bayu membuka tutup wadah salad buah itu dan memberikannya padaku. "Dimakan gih, buahnya enak, seger." 


Rasa manis dan dingin memenuhi rongga mulut saat kulahap salad buah pemberian Mas Bayu. Buah melonnya terasa sangat segar. Kejunya juga nggak bikin eneg. 


"Makasih ya, Mas."


Mas Bayu tersenyum, dia menganggukkan kepalanya. "Sama-sama. Oh iya, untuk biaya rumah sakit nggak usah bayar. Aku sudah mengurusnya." 


Aku mendongak. "Duuh, harusnya biarkan saja kami membayar biaya rumah sakit. Aku jadi tambah nggak enak kalau dibantu terus. Kenapa Mas Bayu baik banget sih?"


"Apa?" Dia mengucapkan itu dengan sangat santai, padahal kata-kata yang barusan diucapkannya itu membuat terkejut orang yang mendengar.


"Kenapa kamu sangat terkejut? Bukankah dulu aku pernah mengatakannya?" 


Aku mengernyit menatap Mas Bayu. Kapan?


"Aku mengatakannya saat di kafe waktu itu. Ingat?" 

__ADS_1


Seketika aku jadi teringat ucapan Mas Bayu saat di kafe waktu itu.


"Bukankah waktu itu Mas Bayu cuma bercanda?"


"Nggak. Aku nggak bercanda." 


Aku terdiam sejenak mendengar jawaban Mas Bayu. "Tapi Mas, aku itu sudah punya suami."


"Terus? Memangnya kenapa kalau kamu sudah punya suami? Apa kalau kamu punya suami, tidak boleh punya pacar?" 


Aku melongo mendengar jawaban Mas Bayu. Dia kemudian terkekeh kecil. 


"Yas, bukankah kamu dan Aril menikah karena terpaksa? Jadi tidak ada cinta di antara kalian." 


Salad buah yang tadinya terasa sangat nikmat, kini menjadi tidak menggoda lagi. 


Pintu ruang rawat tiba-tiba terbuka, muncul sosok Aril dari sana. 


"Oh, ternyata ada tamu," ucap Aril datar. "Makasih ya, sudah menemani istri saya selama saya sedang sibuk. Untuk ke depannya kamu tidak usah repot-repot lagi menemani istri saya, karena hari ini dan saat ini juga Diyas akan pulang." 

__ADS_1


"Saya nggak repot kok. Malahan saya senang bisa menemani Diyas. Kamu juga nggak perlu berterimakasih, kan kalian cuma suami istri bohongan," jawab Mas Bayu, membuat mata Aril menatap tajam.


__ADS_2