PERKARA NAMA PENA

PERKARA NAMA PENA
Permintaan Melaksanakan Kewajiban Istri


__ADS_3

"Pasti bercanda lagi, kan?" Aku terkekeh, tapi wajah Mas Bayu masih tetap serius menatapku. 


"Aku–"


"Yas." Suara Aril membuatku mengalihkan pandangan dari Mas Bayu.


Dia berjalan ke mejaku. Begitu sampai dan berdiri di samping aku duduk, tiba-tiba saja tangannya merangkul bahuku.


Nih orang kenapa? Biasanya dia akan akting seperti ini kalau sedang ada bapak atau ibu, tapi sekarang tidak ada mereka. 


Aku mengedarkan pandangan ke seluruh kafe. Pandanganku berhenti tepat di mana Dika sedang berdiri di kasir, bersama dengan salah satu karyawan. Tatapannya mengarah ke tempat kami berada. 


"Kamu orang yang menyarankan saya untuk pergi ke bengkel pada saat menabrak Andiyas, kan?" tanya Mas Bayu, pandangannya mengarah pada pundakku yang dirangkul Aril.


Sebenarnya aku tidak nyaman dirangkul seperti ini, tapi aku tidak mungkin menyingkirkan tangan itu, karena ada Dika yang sedang melihat ke arah kami.  


"Iya," jawab Aril. "Perkenalkan, saya Aril. Suaminya Andiyas." 


Bukan cuma Mas Bayu yang terkejut, tapi aku juga. Ngapain dia sampai mengaku suamiku segala? Kalau cuma akting karena ada Dika, apa perlu sampai seperti ini? Toh suara kita tidak akan terdengar oleh Dika, karena jarak kami yang lumayan jauh. 


"Suami?" Kening Mas Bayu mengernyit. Kemudian dia menatapku. "Bukannya kamu bilang tidak punya pacar, ya?" 

__ADS_1


"Diyas memang tidak punya pacar, tapi punya suami." Aril yang menjawab. "Ayo, Ibu menyuruh kita pulang." 


Setelah berpamitan pada Mas Bayu, aku mengikuti Aril yang terus saja merangkul bahu ini.


"Lepasin, Ril," bisikku saat kami sudah menjauh dari Mas Bayu dan berjalan ke arah Dika.


"Udah, diem," bisik Aril dan tambah mengeratkan rangkulan saat aku mencoba melepasnya. "Tadi kamu nggak tahu aja apa yang Dika bilang ke aku saat melihatmu duduk berdua dengan laki-laki lain."


"Emang Dika bilang apa?" 


Aril tak menjawab pertanyaanku karena kami sudah berada di depan Dika. 


"Disuruh Ibu nganterin bakso buat karyawan Mas Aril." Dika melirik ke meja di mana Mas Bayu duduk. "Eh, pas nyampek sini malah liat Kakak berduaan dengan laki-laki lain. Padahal ada suami, tapi bisa-bisanya Kakak duduk berdua dengan laki-laki lain," ucap Dika sedikit ketus. 


"Dia teman kakakmu Dik," ujar Aril membelaku. "Mas juga kenal kok. Mereka itu sedang membahas novel. Kakakmu ini sedang meminta masukan tentang novel yang sedang ditulisnya." 


Dika menatapku. "Oh, syukurlah kalau kalau begitu. Aku kira tadi …."


"Apa? Kamu kira Kakak selingkuh?" potongku. 


Dika hanya nyengir. "Ya udah, aku pamit pulang." 

__ADS_1


Kulepaskan rangkulan Aril ketika Dika sudah pergi. 


"Kamu nggak ngucapin terimakasih sama aku?" celetuk Aril. 


Aku mengernyit menatapnya. "Terimakasih? Buat apa?" 


"Barusan aku sudah membelamu di depan Dika lho. Dia tadi sudah mau melabrakmu langsung, mengira kakaknya sudah selingkuh, tapi aku menahannya." 


"Iya deh, terimakasih ya, Mas Aril." Aku sengaja tersenyum lebar ke Aril.


"Makasih doang?" Aril mengangkat sebelah alisnya.


"Terus? Kamu mau apa? Uangmu lebih banyak dari pada uangku."


Tiba-tiba Aril mendekatkan wajahnya ke telingaku dan berbisik. "Aku minta, kamu melaksanakan kewajibanmu sebagai istri nanti malam."


Mataku membulat. "Hah?" Aku langsung menoleh menatap Aril. "M-maksud kamu?" 


"Pijitin aku nanti malam. Badanku pegel semua," jelasnya yang membuatku ingin jungkir balik.


Sontoloyo! Aku kira kewajiban apa. 

__ADS_1


__ADS_2