
"Kenapa berhenti di sini Ril?!" omelku ketika Aril malah menghentikan motor di depan rumahnya. "Aku kan sudah bilang, aku nggak mau pindah. Mundur, mundurin sepedanya!"
Aril tak menjawab, dia langsung memundurkan motornya ke arah rumahku yang tadi dilewatinya.
"Terus aku pulang ke mana?" tanya Aril ketika aku turun dari motor.
"Ya nggak tau, kok tanya aku?" Kutinggalkan Aril yang malah memarkirkan motornya di samping pick up bapak. Aril mengekoriku masuk rumah setelah sebelumnya mengucap salam.
Rumah sepi, Dika belum pulang sekolah. Ibu sama bapak nggak tau ada di mana.
Sebaiknya aku menulis saja. Menuangkan segala rasa ke dalam bentuk tulisan.
Kutatap laptop second yang hampir tidak pernah kupakai. Apa aku coba nulis di laptop aja ya? Mengasah kemampuan mengetikku supaya tambah lancar.
Mata ini langsung disuguhkan wallpaper foto diriku dan Dika ketika berada di gunung Bromo saat laptop kunyalakan.
Ah, kuharap Dika kembali cerewet seperti biasanya. Aku kangen sifat manjanya yang selalu minta ini itu. Aku juga kangen sifat ibu yang selalu mengomeliku. Bapak, yang selalu jadi wasit saat kami bertengkar. Aku rindu semua itu. Suasana rumah rasanya begitu hampa tanpa omelan dan canda tawa.
"Yas," panggil Aril.
"Hem?" Mataku tak beralih dari layar laptop. Jari-jariku kaku menyentuh keyboard satu persatu, benar-benar seperti orang yang belajar menggunakan laptop. Aish, aku benci jari-jariku yang kaku ini.
"Aku mau numpang kamar mandi, mau buang air kecil."
"Iya," sahutku tanpa menoleh, sibuk merangkai kata dalam kepala.
"Aku juga mau numpang mandi."
"Kalau mau mandi ya tinggal mandi aja sih, Ril. Ngapain izin segala? Kayak murid sekolah izin ke toilet aja." Aku mulai merasa jengkel. Mana ini jari nggak bisa diajak kerjasama. Ngetik huruf aja satu-satu, ck!
"Pinjam handuknya."
Hiiigh! Aril benar-benar menguji kesabaran yang setipis tisu ini. Kuhirup napas dalam-dalam lewat hidung, lalu menghembuskannya lewat mulut. Itu kulakukan agar tidak menjadi reog.
Aku paling nggak suka diganggu pas lagi nulis. Membuat ide yang ada di kepala pada kabur semua.
Aku memutar tubuhku yang sedari tadi menghadap meja kecil, meja belajar dari zaman SD. Tidak ada meja rias di kamarku.
Lalu bagaimana kalau aku ingin mengaca? Tenang, di kamarku ada kaca yang menempel pada pintu lemari.
Kuhembuskan napas sekali lagi, lalu berjalan ke arah lemari. Mengambil handuk warna maroon untuk Aril.
"Sama pinjam kaos yang muat sama aku, Yas."
"Ck. Kenapa nggak mandi di rumah kamu aja sih, Ril. Rumah kamu cuma lima langkah dari sini, Ril. Tinggal pulang, nggak ada semenit udah nyampe. Aku nggak ada kaos besar!" sahutku kesal. Ide-ide di dalam kepala yang mau kutulis rasanya sudah menguap entah ke mana.
"Apanya yang nggak ada? Orang setiap hari kamu pakek kaos bola kebesaran. Kaos bola yang kamu pakek sehari-hari itu seukuran badanku. Udeh deh, buruan! Aku udah kebelet ini. Sekalian mau mandi."
Huufh … sabar Yas, sabar. Harus belajar sabar. Untuk ke depannya aku akan setiap hari ketemu sama Aril. Jadi, aku harus belajar mengontrol emosi.
Aril segera keluar dari kamar setelah mendapat kaos dariku. Tidak ada kamar mandi di dalam kamar, di rumah cuma ada dua kamar mandi yang digunakan bersama.
Pintu kamar kubiarkan terbuka. Aku kembali duduk, memfokuskan diri, memanggil rangkaian kata yang sempat kabur dari kepala.
__ADS_1
Tok tok tok.
Heeegh! Ngapain lagi sih, Aril pakek ngetok pintu segala? Jelas-jelas pintunya terbuka!
"Apalagi sih, Ril?!" Aku menoleh menatap ke ambang pintu. "Eh? Bapak?" Ternyata yang mengetuk pintu barusan adalah bapak.
"Bapak boleh masuk?"
"Boleh Pak, boleh." Kepala ini mengangguk dengan cepat, ibarat boneka mampang yang ada di dasbor mobil pick up bapak.
Setelah kejadian kemarin, akhirnya bapak mau bicara denganku.
Dan alhamdulilah, doaku terkabul. Bapak datang ke kamarku, mengatakan kalau sudah memaafkanku. Bapak juga minta maaf, segala wejangan juga disampaikan. Bapak juga mengatakan, ibu pasti akan memaafkanku. Setelah itu, bapak keluar dari kamar.
Sedikit ringan rasanya hati ini mendengar bapak telah memaafkanku.
***
Hari sudah sore, tapi Aril masih ada di rumahku. Kututup laptop setelah berhasil mengarang dua bab.
"Kok kamu nggak pulang sih, Ril?" Kutatap Aril yang sedang rebahan di kasurku. Di dalam kamarku cuma ada satu kursi yang sedang kududuki sekarang, jadi tidak ada tempat lain yang bisa Aril tempati selain kasur.
Padahal kamarku nggak kecil-kecil amat, harusnya di dalam kamarku ada meja rias dan sofa yang kayak di sinetron-sinetron.
"Aku sudah bilang kan, kalau aku nggak boleh pulang sama Bunda kalau nggak sama kamu," sahut Aril tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel.
"Terus kamu di sini mau tidur di mana?"
"Ya di kasurlah."
"Gantianlah Yas, tadi malam kan aku tidur di lantai, malam ini kamu yang tidur di lantai."
"Loh, ya nggak bis–"
Triririring!
Ucapanku tertahan karena bunyi ponsel. Nama Puput tertera di sana.
"Halo Put?"
"Yas, aku menemukan kos-kosan baru yang Vino tempati. Aku tahu dari temannya. Besok temani aku ke sana ya."
Senang rasanya mendengar apa yang Puput ucapkan barusan. Berarti masalah ini akan segera berakhir.
"Siap Put. Kabarin aja jam berapa besok."
"Oke. Eemm, Yas, sekarang musim jambu air kan ya?"
Jambu air? Kenapa Puput tiba-tiba nanyain jambu air? Ooh, kayaknya dia lagi ngidam!
"Kamu mau jambu air ya Put? Kebetulan pohon jambu air di belakang rumah berbuah. Aku ambilin, habis itu kamu yang ke sini ambil jambu airnya atau aku yang ke sana?"
"Emm, kalau anterin ke sini boleh nggak?"
__ADS_1
"Bolehlah. Mau sekalian jambu bijinya nggak?"
"Nggak usah, jambu air aja."
"Oke."
Begitu sambungan telpon terputus, aku langsung bergegas ke pekarangan belakang rumah. Selain pohon jambu air dan jambu biji, di sana ada juga pohon mangga.
Aku mendongak menatap jambu air yang lumayan lebat.
Dengan berbekal kresek hitam berukuran tanggung, aku memanjat pohon jambu air. Sedari kecil, aku sudah sering memanjat pohon, jadi tidak terlalu sulit bagiku untuk memanjat pohon yang tak terlalu tinggi ini.
Aku memilih buah yang besar untuk dipetik.
"Kakak? Kok Kakak naik pohon sih?" Tiba-tiba Dika muncul di bawah pohon, sepertinya dia baru saja datang dari sekolah, karena dia masih memakai seragam.
"Cepet turun Kak! Kalau jatuh nanti gimana?! Turun Kak, Kakak kan sedang hamil!"
Hamil apaan? Yang di dalam perut cuma sayur kangkung.
"Iya, ini juga mau turun." Aku turun setelah kresek hitam yang kubawa penuh.
"Hati-hati, Kak."
"Iya, dasar cere–"
Kretek!
"Aakh!"
BRUKK!
Aku mengerang sakit begitu mendarat dengan posisi tengkurap. Padahal tinggal dua meter kakiku akan menyentuh tanah, tapi dahan yang menjadi peganganku malah patah.
"Kak, kakak nggak papa?" Dika terlihat panik.
Dasar! Udah tau jatuh, ya jelas sakitlah!
"Aduuh … sakit Dik." Kupegangi dadaku yang terasa sakit.
"Ibuu! Kakak jatuh, Bu! Cepetan ke sini!" teriak Dika.
Sejurus kemudian bapak, ibu, dan juga Aril berlari ke pekarangan ini. Mereka tampak berbondong-bondong menghampiriku yang berbaring miring sambil memegangi dada.
"Ya Allah, Diyas! Jatuh dari mana?!"
"Jatuh dari pohon Bu!" sahut Dika.
"Ya Allah Gusti, kenapa kamu naik-naik pohon segala? Yas, perut kamu gimana rasanya?" Ibu memegang perutku yang rata.
Perutku nggak papa bu, dadaku yang sakit.
"Ril, kenapa kamu cuma diem aja?! Cepetan gendong Diyas! Kita ke klinik sekarang juga! Semoga tidak terjadi sesuatu dengan janin yang ada di dalam perutnya!"
__ADS_1
Apa?! Nggak, jangan ke klinik!