
"Heh upil ayam!"
"Maaf Mbak, emang ayam punya upil ya?" Pak Ribut menyela ucapanku. Aku yang mau marah ke Aril jadi terganggu.
"Ya nggak tau Pak! Saya belum cek!" sahutku kesal. Sementara Aril malah terkekeh. "Bapak fokus aja bungkusin saya cilok dua bungkus lima ribuan!"
Aku kembali menatap Aril yang sedang mengantri beli cilok.
"Heh upil kucing! Dengerin ya!" seruku lagi setelah memastikan kucing punya upil. Biar Pak Ribut nggak protes lagi.
"Kucing aku bebas upil ya! Aku rajin mandiin dia!" Kini Aril yang protes.
"Aargh, terserahlah! Dari tadi mau ngomong diprotes mulu!"
Pak Ribut terkekeh melihatku kesal.
"Makanya Mbak, kalau manggil orang itu panggil nama. Jangan malah panggil upil. Nggak baik, Nabi bahkan melarang kita memanggil orang lain dengan nama yang merendahkan," timpal Pak Ribut.
Aku menghirup napas lewat hidung, lalu menghembuskannya lewat mulut.
"Dengerin ya Aril Gagah Pratama--"
"Emang pesona aku itu nggak bisa ditolak ya," potong Aril. "Udah ditolak aja masih muji aku gagah."
"Ya Allah Aril! Makanya jangan kebanyakan makan pantat ayam! Jadi pikun kan. Siapa yang muji kamu. Itu kan emang nama kamu! Dahlah, repot ngomong sama orang yang PDnya ngelebihi langit ketujuh!"
Cepat-cepat aku menyerahkan uang ke Pak Ribut dan membawa cilok yang sudah dibungkus.
"Kembaliannya nggak usah Pak," ucapku sambil berlalu.
"Kembalian apaan Mbak? Uangnya kan pas!" teriak Pak Ribut karena memang aku membayar dengan uang pas.
Aku diam tak menyahut dan terus berjalan masuk ke rumah.
Sebenarnya siapa sih yang salah? Aku bayar pakek uang pas, makanya aku bilang kembaliannya nggak usah. Bener kan?
"Kenapa Yas?" tanya Puput begitu aku masuk rumah. "Aku denger tadi kalian ngomong upal-upil upal-upil. Kamu upilan?"
Hiihgh ini lagi satu! Bikin tambah kesel aja!
"Kamu nggak mau ciloknya Put?"
__ADS_1
"Eh, ya mau dong!"
Puput sudah berhasil aku bungkam, eh datang lagi satu anak yang suka mengobati darah rendah.
"Kak, ponselnya lemot banget ini! Nggak kayak ponsel apel aku!" ucap Dika sambil masuk ke dalam rumah.
"Dik, kamu itu udah minta hotspot kok malah ngejek ya?"
"Hehehe, maaf Kak. Habisnya, ponsel Kakak lemot banget. Kebanyakan aplikasi ini. Aku cek tadi aplikasi baca semua. Heran aku, banyak banget sih aplikasi bacanya? Padahal kan sama-sama isi tulisan doang. Kenapa nggak baca di satu aplikasi aja?" cerocos Dika.
"Kamu mah tau apa Dik."
"Makanya, karena terlalu lemot, aku tadi hapus satu aplikasi Kak. Biar ada ruang sedikit."
"Apa!? Aplikasi apa yang kamu hapus Dik?!" Aku mulai ketar-ketir.
"Aplikasi baca yang warna biru."
"Ya ampun Diikk! Itu aplikasi sumber uang Kakak tahu!"
Segera aku menyambar ponsel yang ada di tangan Dika dan mengecek aplikasi yang dia maksud.
Aku langsung bernapas lega begitu melihat ternyata masih ada.
"Hiiggggh, Dika! Uang Kakak itu dari aplikasi ini! Kalau sampai uang Kakak hilang, aku gadein kamu ke Bank. Biar jadi duit!"
"Sadis amat sama Adek sendiri Kak. Aku tadi itu cuma bersihin sampah di ponsel Kakak. Udah menumpuk tahu! Nggak pernah dibersihin, pantesan lemot!"
Aku tak menyahuti Dika dan memilih duduk di samping Puput yang sedang makan cilok.
"Dan lagi Kak, banyak banget screenshotan resep makanan di ponsel Kakak. Itu juga yang bikin lemot. Buat apa sih ngumpulin resep makanan. Masak kagak, menuhin ruang ponsel iya! Sampek lima ratusan aku lihat!" Aku menatap kesal Dika yang nyerocos terus.
"Dik, kamu masih mau hospot atau nggak? Kalau nggak Kakak matiin nih!"
"Eh, jangan Kak! Iya deh aku diem."
"Laki-laki kok nyerocos mulu! Udah persis Ibu aja kamu!"
"Dika persis apa sama Ibu?" Suara ibu yang ada di ambang pintu membuat jantungku mendadak jaepongan.
"Ini Bu, Kakak ngatain--hmp hmp!" Dika tak bisa melanjutkan ucapannya karena mulutnya aku bungkam.
__ADS_1
"Ahaha. Ini lho Bu, Dika itu mirip banget sama Ibu. Sering nasehatin yang baik-baik."
Puput yang sedang makan cilok malah ketawa.
"Oh, kirain apaan." Ibu bergabung dengan kami, lalu meraih cilokku yang ada di meja. Masih utuh karena belum aku makan. "Punya siapa nih? Ibu makan ya?"
Hiks! Cilokku!
Aku tak bisa berkata-kata, hanya mengangguk berusaha ikhlas.
"Yas, ke nikahan Ira bareng ya?" ajak Puput.
Saat akan mengiyakan, aku mendadak ingat kalau aku harus bareng Aril.
"Maaf Put, nggak bisa. Aku--"
"Tumben kamu beli beginian Yas? Biasanya juga cuci muka kalau sempat doang." Ibu membuka aibku. Meraih masker wajah yang tadi aku taruh di meja.
"Iya. Biasanya kamu juga cuek sama wajah." Puput menatapku curiga.
"Punya jerawat gede aja Kakak tempelin sama bawang putih biar kempes." Dika ikut menimpali.
"Biasanya anak cewek kalau jadi berubah perawatan gini. Tandanya ada ketertarikan sama cowok. Ngaku kamu, kamu suka sama siapa Yas?"
Tuduhan ibu membuat kepalaku gatal seketika. Salahku juga yang tidak langsung menaruhnya di kamar.
"Duh, Ibu ngomong apa sih? Masker itu dikasih Ar--" Hampir aja keceplosan. Bisa tambah berabe, nanti aku dikira ada hubungan sama Aril kalau bilang dapat masker ini dari dia.
"Arrrrrr. Kamu nanyeaa? Kamu bertanyea-tanyea?" ralatku cepat.
Duk!
"Aduh Bu!" Ibu memukul kepalaku dengan dompet panjang yang terbuat dari kulit.
"Orang tua nanya itu dijawab yang bener!"
"Lagian Bu, perawatan wajah itu, bukan berarti kita suka sama cowok. Apa salahnya merawat diri?"
"Loh, masker itu? Itu kan yang Aril titip sama aku? Jadi masker itu untuk kamu?"
Semua mata tertuju pada perempuan yang berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
Aaaagrrgh! Di saat semua hampir mulus tertutupi, kenapa ada mbaknya Aril muncul?!