
"Aku nggak papa kok Bu!" Segera aku duduk dan pura-pura baik-baik saja. Padahal dadaku terasa sakit.
"Apanya yang nggak papa?! Jelas-jelas kamu jatuh dari pohon!"
"Ril, kenapa kamu malah bengong?! Atau Bapak aja yang gendong Diyas?!"
"Eh, biar Aril aja Pak." Aril mendekat dan meraih tubuhku dalam gendongannya.
Jantungku mendadak berpacu dengan cepat. Bukan karena digendong Aril, bukan. Melainkan karena takut di bawa ke klinik. Jika aku sampai diperiksa, maka aku akan ketahun jika tidak hamil.
Ini kenapa Aril cuma diem aja sih? Apa dia nggak mikir semuanya akan berakhir kalau aku dibawa ke klinik?
Ibu berjalan tepat di belakang Aril dengan wajah panik. Bapak dan Dika juga mengikuti kami dengan ekspresi yang sama seperti ibu.
"Ril–"
"Sstt." Aril memotong ucapanku. Padahal aku ingin berbisik agar kita jangan sampai ke klinik.
"Semua akan baik-baik saja, kamu yang tenang ya Yas," ucap Aril, seolah-olah sedang berbicara pada orang hamil yang baru saja jatuh. Setelah itu dia mengedipkan mata kirinya padaku.
Apa itu? Itu kode atau matanya sedang kelilipan? Aku tidak paham!
Tiba-tiba Aril berlari, membuat ibu yang tadi ada di belakang jadi tertinggal. Setelah sampai parkiran di samping rumah, aku langsung dimasukkan ke dalam mobil pick up bapak. Mobil melaju kencang meninggalkan rumah, mengabaikan teriakan ibu yang meminta ikut.
"Ril, kita mau ke mana? Jangan ke klinik. Semuanya akan ketahuan kalau kita ke sana."
"Yang mau ke klinik siapa?" Matanya tak beralih dari jalan raya, mobil masih melaju kencang.
"Lah, terus ini mau ke mana?"
"Ke tukang pijat."
"Apa?" Aku sama sekali nggak ngerti dengan rencana Aril. "Ibu sama Bapak pasti nyusul kita ke klinik."
"Ya, biarin aja mereka ke klinik. Kita ke tukang pijat."
Ini orang jalan pikirannya gimana sih?
"Tukang pijat? Ngapain?"
"Ya buat mijat kamulah, kan habis jatuh."
"Terus kalau mereka nggak nemuin kita di klinik gimana?"
Aril menoleh, kecepatan mobil mulai berkurang. Mata elangnya menatapku lekat.
"Kamu tenang, nggak usah panik. Kita nggak akan ketahuan. Percaya aja sama aku," ucapnya dengan senyuman semanis kue cucur.
Apa? Manis? Siapa itu yang bilang senyumannya manis? Segera aku memalingkan wajah ke arah jendela.
Di situasi kayak gini, dia malah tebar pesona.
***
"Aakh. Aduh, sakit Budhe!" teriakku ketika sedang dipijat wanita paruh baya. Aril benar-benar membawaku ke tukang pijat.
Ini sih bukannya sembuh, tapi tambah bikin sakit!
Aku dipijat di dalam kamar, sementara Aril menunggu di ruang tamu.
__ADS_1
"Yas, jangan teriak-teriak. Aku mau nggangat telpon dari Ibu kamu!" seru Aril dari balik pintu.
"Kayaknya mereka nyariin kita karena nggak di klinik Ril. Terus gimana ini, Ril?"
"Udah, nggak usah panik. Serahin aja sama kamu. Yang penting, kamu diem dan jangan teriak-teriak."
"Aak–" Aku langsung menutup muiut saat ingin teriak gara-gara lututlku dipijat. "Budhe, jangan keras-keras, sakit."
"Ini udah pelan. Anak wadon kok menek wit, yo iki kedadeyane," omelnya, yang artinya, anak perempuan kok manjat pohon, ya ini jadinya.
Apa semua ibu-ibu suka mengomel? Padahal aku bukan anaknya. Ah, aku jadi kangen omelan ibuku. Samar-samar, aku mendengar suara Aril yang sedang berbicara di luar.
"Iya Bu, Aril nggak ke klinik itu, tapi ke rumah sakit. Aril nggak mau Diyas kenapa-napa."
Jiah, bagus banget aktingnya. Nggak sia-sia dulu dia ikut ekstrakurikuler teater.
"Alhamdulillah, Diyas baik-baik saja Bu. Apa? … nggak usah, Bu. Ibu pulang saja, nggak usah nyusul ke sini. Ini bentar lagi kami juga mau pulang kok." Setelah itu terdengar suara Aril mengucapkan salam.
Aktingnya benar-benar bagus. Sama sekali tidak ada nada gugup. Kebohongannya ngalir gitu aja. Apa saat di perjalanan tadi dia sudah mengarang semua kata-kata itu ya?
"Aduduh! Sakit Budhe!" pekikku saat lutut kanan dipijat. "Pelan-pelan Budhe."
"Ini itu udah pelan. Makanya jadi perempuan jangan sembrono. Untung jatuhnya tengkurep. Coba kalau jatuh dengan posisi salah, bisa-bisa ada yang patah." Lagi-lagi aku kena omel.
Omelan terus kudengar sampai selesai dipijat. Aku keluar dari kamar dengan dipapah budhe tukang pijat.
"Setelah ini jagain istri kamu, biar nggak manjat-manjat pohon lagi. Perempuan kok manjat pohon," ucap Budhe Sumi. Dari mana aku tahu namanya? Di depan rumahnya ada plakat besar yang bertuliskan 'Sumi Tukang Pijat.'
"Inggih, Budhe. Dia memang susah diatur, keras kepala." Kupelototi Aril mendengar ucapannya barusan.
"Heh, nggak sopan! Suaminya kok malah dipelototi gitu!" Kena semprot lagi aku. Padahal kami nggak pernah bilang kalau suami istri. Entah dari mana Budhe Sumi tahu.
"Setelah ini gimana? Kamu tadi bilang kalau kita ke rumah sakit kan? Masa ke rumah sakit nggak dapat apa-apa? Apa mereka nggak curiga?"
"Gampang, nanti kita mampir ke apotek, beli vitamin buat ibu hamil," ujar Aril santai sembari menyalakan mesin mobil. Kok bisa dia sesantai itu ya?
"Aku tahu aku ganteng, tapi ngeliatinnya nggak usah gitu juga kali."
"Apa? Siapa juga yang liatin kamu! Dasar GR!" Aku langsung mengalihkan pandangan ke arah jalan raya. Setelah itu, hening, tidak ada obrolan sama sekali.
"Mampir makan dulu yuk, aku lapar," ucap Aril memecah keheningan.
"Lagi genting kayak gini kamu masih sempet mau mampir makan? Makan di rumah aja."
"Tapi aku laparnya sekarang, aku kalau lapar nggak bisa nyetir."
"Lebay amat. Yaudah deh, nanti mampir kalau ada warung bakso."
"Punya warung bakso, tapi pas keluar masih mau makan bakso? Nggak bosen? Lalapan aja gimana?"
"Terserah." Jawaban andalan perempuan.
Katanya tadi ngajak makan lalapan, tapi kita malah berhenti di warung lontong sate. Nggak ngerti lagi aku sama Aril Noah palsu.
Dengan pengertiannya Aril membukakan pintu untukku dan juga memapahku.
Warungnya lumayan ramai. Kami duduk di meja paling pojok.
"Kamu minumnya mau apa?" tanya Aril.
__ADS_1
"Air putih aja."
"Es teh aja ya."
Apa gunanya dia bertanya kalau akhirnya dia sendiri yang memutuskan? Aku melongo menatap Aril yang berjalan ke arah kasir. .
Saat laki-laki yang sudah menjadi suamiku itu akan berjalan ke meja istri limited edition-nya ini, tiba-tiba langkahnya dicegat seorang perempuan berambut panjang.
"Ada apa ya Mbak?" tanya Aril. Jarak mereka berdiri dengan meja ini hanya lima meter, jadi aku bisa mendengar percakapan mereka.
Perempuan cantik dengan baju berwarna biru itu tampak malu-malu ingin mengatakan sesuatu.
"Emm, Mas, saya boleh minta nomor teleponnya nggak?"
Apa?! Demi apa? Terkejut aku mendengar ada perempuan yang meminta nomor telepon Aril.
Memang sih, wajah Aril lumayan tampan. Bukan lumayan lagi sebenarnya, tapi memang tampan. Dan aku tidak ingin mengakui itu. Sedari dulu dia memang menjadi idola perempuan. Alisnya yang tebal, hidungnya yang mancung, berbeda dengan hidungku yang pesek, badannya yang … aish, kenapa malah jadi muji Aril?!
Aku kembali fokus menatap dua manusia yang masih berdiri di sana, penasaran dengan jawaban Aril.
Apa selama ini dia sering dimintai nomor telepon sama perempuan?
"Maaf, Mbak, tapi saya sudah punya istri." Amazing sekali jawaban Aril. Aku pikir dia bakalan ngasih nomornya. "Itu, istri saya yang sedang duduk di meja paling pojok." Aril menunjukku.
Aku langsung menoleh ke arah lain, pura-pura tidak melihat mereka.
Aku berlagak mengambil tisu untuk mengusapi tangan saat Aril sampai di meja ini.
"Barusan ada yang minta nomor telepon," ucap Aril.
"Siapa yang nanya?"
"Ya, siapa tau kamu cemburu. Makanya aku jelasin duluan."
"Dih, ngarep bener."
"Dari nadanya, kayaknya cemburu."
"Sumpah, nggak ya Ril!" Suaraku naik satu oktaf. "Aku nggak peduli, mau kamu ngasih nomor ke perempuan itu atau nggak, nggak peduli!"
"Tau gitu, tadi aku kasih aja nomorku. Sayang banget."
Aku mengernyit menatapnya. "Kalau sayang banget, ya panggil aja tuh perempuan dan kasih nomor kamu. Mumpung dia masih ada di warung tuh!" Aku menunjuk perempuan tadi dengan daguku. Mejanya berjarak satu meja dengan kami.
Perempuan yang sedang kutunjuk itu langsung menunduk begitu tahu sedang kutatap.
"Bener nih, nggak papa aku kasih nomorku ke dia?" Aril tersenyum tipis.
"Bodo amat!"
"Oke deh kalau gitu." Aril memutar tubuhnya ke arah meja perempuan tadi. "Mbak!" serunya.
Perempuan tadi tampak sungkan menanggapi seruan Aril.
"Tolong jelasin ke istriku, kalau aku nggak ngasih nomor telepon!"
Loh, kok?!
"Dia cemburu!"
__ADS_1
Aku terbelalak mendengar apa yang dikatakan Aril.