
Setelah drama dikejar anjing tadi, akhirnya kami sampai di rumah. Untung ada bapak-bapak dengan motor jialing sedang lewat. Kami numpang dan akhirnya bisa selamat. Yaa, walaupun harus kumpul dengan kambing di belakang.
"Hah hah hah …." Napasku masih ngos-ngosan. Aku selonjoran di teras rumah. Aku menoleh ke Aril yang numpang selonjoran di teras rumahku.
"Dagumu berdarah," ucap Aril yang juga menoleh ke arahku.
"Iya, tadi nyungsep pas lari." Kulihat telapak tanganku juga sedikit lecet. Aish, pasti perih nih kalau kena air. Kayaknya beneran kualat deh aku.
"Aku oba–"
Triririring!
Segera aku mengeluarkan ponsel dari saku celana. Ternyata Puput yang menelpon.
"Kamu pulang gih Ril, aku mau ngangkat telpon dari Puput. Pasti dia mau cerita tentang lebam di wajahnya." Aku segera masuk ke dalam rumah, meninggalkan Aril yang masih duduk selonjoran.
Puput langsung menyambutku dengan tangisan begitu panggilannya kuangkat.
"Yas, apa yang harus kulakukaan?" tanyanya di sela-sela tangis.
"Apanya? Aku nggak paham Put. Jelasin dulu apa yang terjadi."
"Vino selingkuh Yas, dia selingkuh. Apa yang harus aku lakukan?"
"Ck. Kamu gimana sih, Put? Masa gitu aja masih pakek nanya? Jelas-jelas yang harus kamu lakukan itu, putusin dia. Aku tau cinta itu buta, tapi kamu itu terlalu buta Put. Apa sih yang bikin kamu masih ingin bertahan sama Vino?"
Puput terdiam. Apa omonganku berhasil? Sepertinya iya.
"Aku tau apa yang harus kulakukan Yas."
Senyum di bibirku terbit mendengar ucapan Puput. "Jadi, kapan kamu mau putusin di–"
"Labrak," potong Puput.
"Hah? Apa?"
"Aku harus labrak selingkuhan Vino."
Astagaaa! Aku kira Puput bakalan bilang mutusin Vino.
"Yas, temenin aku buat ngelabrak perempuan itu."
"Ogah. Sana labrak sendiri."
"Ayolah Yas. Sekali ini aja kamu bantuin aku."
"Saranku itu, putusin orang g1la itu. Bukan malah main labrak-labrakan."
__ADS_1
"Pliss Yas, aku masih ingin mempertahankan hubunganku dengan Vino."
"Apalagi yang mau dipertahankan dari hubunganmu Put? Hubungan kalian itu nggak sehat. Empat tahun kamu pacaran sama dia. Udah emosian, cemburuan, ponsel kamu disadap, sekarang, dia selingkuh. Apa lagi yang mau dipertahankan dari orang kayak gitu?" Aku bukannya nggak tau juga kalau Vino itu suka main tangan, tapi Puput sering menutupi itu.
***
Mulut sama tindakan tidak pernah mau sejalan. Tadi bilang apa, dan sekarang yang terjadi apa.
Ya, sekarang aku sedang dibonceng Puput menuju suatu tempat untuk melabrak perempuan selingkuhan Vino.
Haah, aku nggak tau apa yang harus kulakukan nanti. Ini pertama kalinya aku akan melabrak orang.
"Put, inget ya, nanti obrolin semuanya dengan kepala dingin."
"Mana ada ngelabrak dengan kepala dingin Yas? Pokoknya nanti aku mau ngetes ketahanan rambut perempuan gatel itu."
"Hah? Ketahanan rambut? Maksudnya?" Aku sedikit berpikir sejenak. "Jadi kamu mau jambak rambut dia?" tanyaku setelah mengerti ucapan Puput.
"Yupz, seratus buat kamu!"
"Apa nggak terlalu berlebihan Put? Lagian kan kalian cuma pacaran, belum jadi suami istri. Kamu itu cantik, tinggal putusin dan cari lagi."
"Masalahnya bukan itu Yas, aku sama Vino–" Tiba-tiba Puput menghentikan ucapannya. "Ya pokoknya itulah. Intinya aku nggak mau putus. Kamu kan nggak pernah pacaran, makanya kamu nggak paham apa yang aku rasain."
"Pokoknya nanti kamu nggak boleh–"
***
Nyatanya omongan Puput nggak bisa dipegang. Dan sekarang, kami sedang membuat kerusuhan di sebuah kafe, tempat kerja selingkuhan Vino.
"Dasar gatel! Nggak laku kamu ya? Makanya ngerebut pacar orang!" maki Puput.
"Jangan sembarangan kalau ngomong ya!" Perempuan rambut panjang dengan seragam kafe itu berteriak marah. "Kamu tuh yang udah dibuang sama Vino!"
"Enak aja! Dasar perempuan gatel!"
"Aakkhh!" Selingkuhan Vino berteriak kala Puput menjambak rambutnya.
Dua karyawan kafe berusaha melerai mereka.
"Put, udah Put. Diliat banyak orang, malu."
"Heeegh! Dasar perempuan gateel!" Puput terus mencakar perempuan itu.
Plak!
Rasa panas menjalar di pipiku saat sedang berusaha melerai Puput dan perempuan itu. Tangan selingkuhan Vinolah yang mendarat di pipiku. Mungkin dia ingin menampar Puput, tapi berhubung aku ada di tengah-tengah mereka, jadinya aku yang kena tampar.
__ADS_1
Panas rasanya, ini pertama kalinya aku ditampar seseorang.
"Siapa suruh ada di tengah," ucap Lila, selingkuhan Vino, membuat emosi yang tadi terkunci rapat, kini meluap layaknya gunung meletus.
"Dasar nggak tau diuntung. Udah diselametin malah nampar, ngatain lagi! Heeegh!" Aku meraih poni Lila lalu menariknya sekuat tenaga.
"Aaaakkkh!" Aku menyeringai mendengar teriakannya.
"Rasain nih!" Puput ikut-ikutan menjambak Lila.
Selanjutnya kami jambak-jambakan sampai akhirnya diusir dari kafe. Ternyata menyenangkan juga melampiaskan kemarahan dengan menjambak rambut lawan. Sekarang aku tau alasan para perempuan selalu jambak-jambakan saat bertengkar. Seru juga ternyata, cobain deh kalau nggak percaya. Canda, hehehe.
"Haaah … lega rasanya sudah berhasil ngerontokin rambut perempuan gatel itu." Puput rebahan di kasurku setelah pulang dari kafe tadi.
"Iya, tapi liat nih! Pipiku jadi merah gara-gara ditampar sama dia!" Aku memperlihatkan pipi kananku setelah tadi bercermin.
Sepertinya aku memang lebih aman di dalam rumah saja. Terhindar dari kejaran anjing dan tamparan salah sasaran.
"Yas, aku mau cerita sesuatu sama kamu." Puput mulai mendudukkan dirinya di kasurku, nada bicaranya kini berubah menjadi serius.
"Cerita apa?" tanyaku sambil duduk di sampingnya.
"Tapi kamu janji nggak marah dan jangan bilang sama siapa-siapa ya?"
"Iya, janji."
"Sebenarnya aku–"
"Assalamualaikum!" Teriakan Dika dan suara pintu yang terbuka memotong ucapan Puput.
"Besok-besok aja deh ceritanya. Aku pulang dulu ya." Tiba-tiba Puput bangkit.
"Lah, buru-buru amat sih pulangnya." Aku keluar mengantarkan Puput sampai teras rumah.
"Kenapa pipinya merah sebelah Kak?" tanya Dika ketika aku masuk ke dalam rumah setelah Puput pulang. "Gagal belajar make up ya?"
"Sembarangan kalau ngomong. Ini tuh–" Ucapanku tertahan saat mendengar suara sepeda motor ibu datang. "Dik, kalau Ibu nanyain aku, bilang aja aku nggak ada di rumah, bilang aja belum pulang." Aku langsung ngibrit ke dalam kamar, bersembunyi lebih tepatnya.
Setelah aku kabur dari tugas yang diberikan ibu, sudah pasti ibu akan memberiku hukuman.
"Mana kakakmu Dik?" Terdengar suara ibu bertanya dengan nada geram. Aku mendekatkan telingaku di pintu untuk mendengar percakapan mereka.
"Ada di kamar Bu, barusan masuk."
Aarrgh. Dasar Dika kampr3t! Adik laknat!
"DIYAS! Keluar kamu!" Teriakan ibu menggelegar. Tamat sudah riwayatku.
__ADS_1