PERKARA NAMA PENA

PERKARA NAMA PENA
Swiper


__ADS_3

Mas Bayu berjalan menghampiriku. 


"Ada apa, Mas?" 


"Kamu marah sama aku?"


"Hah?" Aku menatapnya bingung. "Marah? Marah kenapa?" 


"Aku merasa kamu marah sama aku. Apa karena pengakuanku waktu itu kamu jadi menghindari aku?"


Aku jadi merasa tidak enak karena Mas Bayu kembali membahas tentang pengakuannya lagi. "Nggak, Mas. Aku nggak menghindar kok."


"Tapi kenapa semua pesanku tidak kamu balas?" 


Sepertinya karena sibuk dengan perubahan sikap Aril, aku jadi lupa untuk membalas pesan dari Mas Bayu. Padahal aku sudah membaca pesan darinya, tapi setiap kali akan membalasnya, Aril selalu datang. Membuatku urung membalas pesan Mas Bayu.


"Aku tidak menuntutmu memberikan jawaban, Yas. Aku hanya ingin kamu tau perasaanku, itu saja. Kalau kamu merasa nggak nyaman, lupain, anggap saja kamu tidak pernah mendengarnya."


Mana bisa dilupakan. 


"Kak." Teriakan dari Dika mengalihkan perhatian kami. Dia berjalan mendekat. 


Dasar nggak sopan, padahal Mas Bayu tersenyum padanya. Namun Dika justru membalasnya dengan tatapan datar. 


"Kamu adiknya Diyas kan?" Mas Bayu tersenyum ramah sembari mengulurkan tangannya mengajak bersalaman. "Kenalin, saya Bayu." 


Aku melirik Dika yang tidak menyambut uluran tangan itu. "Heh!" Kusikut tubuh Dika yang berdiri di sampingku agar menyambut uluran tangan itu. 


"Maaf, tanganku kotor," sahut Dika. 


Astaga, anak ini! 


Mas Bayu kembali menarik tangannya. Senyum ramahnya berubah menjadi senyum canggung. 


"Ayo masuk dulu, Mas." Entah kenapa aku merasakan sinar laser yang biasanya keluar dari mata ibu pada Dika. 


"Makasih, lain kali aja. Aku masih ada urusan. Aku pamit pulang ya." 


Hingga motor Mas Bayu sudah tidak terlihat lagi, Dika masih setia berdiri di sampingku. 

__ADS_1


"Aku nggak suka sama dia." 


Aku menoleh ke adik semata wayangku. "Emang yang nyuruh kamu suka sama dia siapa?" 


"Ish, Kakak. Aku serius!"


"Aku juga serius. Malah bagus kalau kamu nggak suka sama dia. Bahaya kalau kamu suka sama Mas Bayu. Tak laporin ke Bapak kamu kalau suka sama cowok." 


Dika mendengus. "Duh. Tau ah! Minta duit dong, Kak. Paketanku habis."


Jiah. 


"Jadi kamu nyamperin Kakak karena mau minta duit?" cibirku.


Dika nyengir sembari menggaruk kepalanya.


"Nggak juga, aku barusan menyelamatkan Kakak dari gangguan Swiper."


"Hah? Swiper?" Alisku menyatu, tidak mengerti yang Dika maksud. 


"Lupain. Mana uang paketanku, Kak?" Dika menengadahkan tangannya padaku. 


"Dih, Kakak. Segini mana cukup?" protes Dika. 


"Minta tuh sama kakak iparmu!" ujarku menunjuk Aril yang baru datang dengan dagu. Ngapain dia pulang jam segini? 


"Mana Swipernya?" tanya Aril ke Dika, kepalanya tolah-toleh seperti mencari keberadaan seseorang. 


"Tenang, pencuri milik orang sudah pergi."


Mereka lagi bahas apa sih? Swiper yang ada di Dora? 


Aku memilih masuk ke dalam rumah meninggalkan dua laki-laki itu. Terdengar dari dalam rumah motor Aril kembali menyala, suaranya menjauh, yang artinya dia kembali pergi. 


***


Sore harinya saat Aril pulang, aku yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponsel, dibuat heran olehnya yang tiba-tiba mengulurkan tangannya padaku.


"Apa?" Aku mendongak menatapnya. 

__ADS_1


"Salim lah, masa suami datang nggak dicium tangannya." 


Aku mengernyit, tapi tetap meraih tangan itu dan menciumnya. Baru juga aku mendongak setelah mencium punggung tangan Aril takzim, sesuatu menempel di dahiku dengan bunyi khas.


Cup. 


Mataku membulat menatap Aril. "Aril. Apa-apaan, kamu?" Tanganku hendak mengusap bekas bibirnya di dahiku.


"Kalau diusap aku cium lagi!" Perkataannya sukses membuatku urung mengusap dahi.


Jantung, tolong diam dan jangan berulah!


Aku bangkit demi menghindari tatapan mata Aril. 


"Mau ke mana?" Aril menahan tanganku. 


"Mau ke dapur, mau masak buat makan malam." 


"Nanti dulu. Tolong pijitin kepalaku sebentar ya. Kepalaku pusing." Aril menarikku duduk kembali. 


Saat bobot tubuhku kembali medarat di sofa, tiba-tiba saja Aril berbaring di pahaku. 


"Loh, heh. Kamu ngapain?!" Aku berusaha mengangkat kepalanya. 


"Kan aku udah bilang, tolong pijitin kepalaku." 


"Ya kan bisa sambil duduk." 


"Nggak bisa, aku pusing. Cepetan pijitin." 


Aku menghela napas dan mulai memijat kepala Aril. Belum ada beberapa menit, terdengar suara napas Aril yang teratur. Ternyata dia tertidur. 


Eh, tapi kok kelopak matanya gerak-gerak gitu kalau tidur? 


Aku sedikit membungkuk untuk mengecek dia benar-benar tertidur atau cuma pura-pura. 


Tiba-tiba saja matanya terbuka. Dengan cepat bibirnya mengecup daguku. 


Segera aku menegakkan badan, tapi Aril malah menahan tengkukku. Mataku membulat saat ….

__ADS_1


__ADS_2