
"Gantian dong, Ril. Aku capek." Tanganku rasanya sangat pegal karena memijat punggung Aril yang terasa keras seperti telenan kayu.
"Baru juga beberapa menit, masa sudah capek," jawab Aril yang sedang duduk memunggungiku.
Aku menghembuskan napas panjang sembari terus memijatnya.
"Kurang keras, nggak kerasa," ucap Aril.
Jempolku rasanya mau patah. Ini punggung atau kayu?
"Lebih keras lagi, Yas."
Aku berdecak dan mengeraskan pijatanku.
"Nah, gitu."
"Udah ah, capek." Aku berhenti memijat. "Lihat nih, otot-otot tanganku sampai hijau."
"Itu bukan otot, tapi pembuluh darah." Aril merubah posisi duduknya menghadapku.
"Ya itulah pokoknya. Sekarang, gantian pijitin aku." Kuubah posisi duduk membelakanginya.
Begitu tangan Aril menyentuh punggungku, yang kurasakan justru geli, dan membuatku tertawa kecil.
"Geli, Ril!" Kubungkukkan badanku agar menjauh dari tangan Aril. "Kerasin dikit biar nggak geli," seruku.
Kini, pijatan Aril malah terasa sakit.
"Sakit." Kembali kujauhkan punggungku dari tangannya. "Bisa mijet nggak, sih?" Aku menoleh ke Aril dengan kesal.
"Kalau pinter mijet orang, sudah jelas aku membuka panti pijat," jawabnya seraya meraih punggungku dan dipijatnya lagi.
"Ck. Pijatanmu itu benar-benar nggak enak!"
"Dasar cerewet!" Tiba-tiba tangan Aril menggelitik pinggangku.
"Geli, Ril!" Aku tertawa dan berusaha menghindari gelitikan Aril. "Stop! Geli tau! Ahaha!" Aku berguling-guling di kasur karena Aril tak berhenti menggelitikiku. Aril tertawa puas saat aku tak bisa menghindarinya.
Saat berusaha berguling ke kanan, ternyata aku sudah berada di pinggir ranjang. Untungnya Aril segera menahan pinggangku.
Aku berhenti tertawa saat Aril tak lagi menggelitik. Tangan kanannya menahan pinggangku, sementara tangan kirinya berada disamping kepalaku. Tatapan mata kami bertemu. Jakunnya terlihat naik-turun dengan napas ngos-ngosan karena sedari tadi tertawa terus.
Ternyata, dia tidak semenyebalkan itu. Mataku menyapu seluruh wajahnya. Menatap alis tebalnya, mata elangnya yang saat ini sedang menatapku juga, hidungnya juga tak luput dari sapuan mata ini. Kulihat di bawah hidungnya sudah mulai tumbuh bulu-bulu halus. Kemudian mata ini berhenti di bibirnya.
Setelah itu aku kembali menatap matanya lagi. Aku seakan tak bisa mengalihkan pandangan ke arah lain. Entah kenapa waktu terasa berhenti. Suara TV yang sedang ditonton bapak dan ibu di luar sana mendadak tidak terdengar di telinga. Aku hanya bisa mendengar debaran jantungku sendiri.
__ADS_1
Ada apa dengan jantungku?
Tok tok tok!
Suara ketukan di pintu seolah membuat waktu yang terasa berhenti tadi kembali berjalan normal. Aku segera menjauh dari Aril dan turun dari ranjang untuk membuka pintu kamar.
Terlihat wajah Dika ketika pintu kubuka.
"Ada apa?"
Bukannya menjawab pertanyaanku, Dika malah menatapku dari atas sampai ke bawah.
"Apa ada put*ng beliung di dalam kamar Kakak, rambut Kakak sampai berantakan gitu," jawabnya.
Langsung kuraba rambutku. Ikat rambut sudah ada di kepala bagian kiri.
"Aku tahu kalau kalian sedang dimabuk asmara, tapi jangan terlalu keras dong tertawanya. Aku sedang nonton TV," lanjut Dika.
Apa? Dimabuk asmara?
"Ini bahkan belum isya, Kak."
Mataku membulat saat mengerti apa yang dimaksud oleh Dika. "Nggak, Dik. Kamu salah pa …."
"Suara tertawamu itu sampai mengalahkan suara TV, Yas," sahut ibu.
"Malu sama Dika, Yas. Mana tadi minta dikerasin," celetuk bapak yang disambut tawa oleh ibu.
"Astaga! Ini nggak seperti yang kalian kira!" Segera aku menutup pintu karena tak tahan dengan ejekan mereka.
Tawa bapak dan ibu semakin kencang saat pintu sudah kututup.
***
Aku duduk di teras, memandangi bapak yang sedang membabat pagar pembatas yang terbuat dari tumbuhan antara rumahku dan rumah Aril.
Kenapa dibabat? Untuk tempat acara resepsi pernikahan.
Ya, resepsi pernikahan akan diadakan seminggu lagi. Semua t3tek-bengeknya sudah diurus oleh bapak dan ibu. Aku tinggal menunggu hari itu tiba.
"Cieee. Yang dulu main nikah-nikahan, sekarang nikah beneran," goda Mbak Rita. Dia kembali datang ke rumah ibunya setelah mendapat kabar bahwa adiknya itu akan menikah.
"Eh, kalian kan udah nikah ya di KUA. Tega kalian, masa pas akad, Mbak nggak dikabarin," imbuh Mbak Rita. Tangannya sibuk menimang-nimang anaknya yang baru berumur empat bulan.
"Saking kebeletnya nikah, Mbak sendiri sampai dilupain," lanjutnya lagi.
__ADS_1
Apa? Kebelet? Kepaksa iya!
Aku menoleh ke Aril yang membantu bapak membabat pagar yang terbuat dari tanaman. Begitu dia menoleh ke arahku, aku langsung membuang muka ke arah lain.
"Aduh, Mbak kebelet nih, Yas. Titip Agung sebentar, ya. Mbak mau ke kamar mandi." Mbak Rita menyerahkan anaknya padaku, lalu berlari masuk ke dalam rumah.
Bayi yang sedari tadi diam, kini tiba-tiba raut wajahnya berubah, lalu mengeluarkan suara tangis.
Sepertinya dia menangis karena tau yang menggendong bukan ibunya.
Aku berusaha menimang-nimang agar Agung berhenti menangis. Namun, bukannya berhenti, tangisannya malah tambah keras.
"Jelas nangis, orang digendong sama Mak Lampir," celetuk Dika yang baru datang dari sekolah.
Aku yang tak bisa memukulnya karena sedang menggendong Agung, hanya bisa melotot.
"Parah nih Kakak, masa Agung dibuat nangis," lanjutnya lagi.
"Sembarangan. Dia nangis sendiri tau!" Aku masih terus melakukan gerakan menimang-nimang.
"Gimana kalau punya anak nanti? Masa diemin bayi nangis aja nggak bisa," ejeknya.
"Kamu cerewet banget sih, Dik? Ketimbang cuma bikin darah tinggi, masuk aja sana!"
Tiba-tiba Aril menghampiriku. "Coba sini, aku gendong."
Ajaib! Bayi itu langsung terdiam begitu berpindah ke gendongan Aril.
Dasar, masih bayi aja udah pilih kasih.
"Tuh kan, begitu digendong Mas Aril langsung diem. Emang Kakak aja yang nggak bisa gendong bayi!"
Kupelototi Dika agar mulutnya itu mingkem.
"Jangan-jangan anak kalian nanti yang gendong Mas Aril terus."
"Dari tadi nyerocos terus ya, nih anak!" Aku hendak mencubit pinggang Dika, tapi dia keburu lari ke dalam rumah.
Aril terkekeh, menampilkan sederet gigi putihnya. Aril langsung terdiam saat tatapan mata kami bertemu.
Meskipun gerakan tangannya tak berhenti menimang Agung, tetapi matanya terus menatapku.
Entah berapa lama kami tatap-tatapan dalam diam seperti ini. Matanya seolah menghipnotisku untuk terus menatapnya.
Aku baru bisa mengalihkan pandanganku ke arah lain begitu Mbak Rita datang dan mengambil Agung. Suasana aneh tadi langsung lenyap seketika.
__ADS_1
Aku baru tahu kalau tatapan mata Aril sangat berbahaya. Pantas saja ketika sekolah dulu banyak perempuan yang tergila-gila padanya. Ternyata matanya mengandung racun.
Mulai sekarang, aku harus berhati-hati pada mata itu!