
Karena bangun kesiangan, aku berniat menyenangkan ibu mertua dengan belanja untuk keperluan makan siang dan malam di Pak Tarno. Ya meskipun bunda nggak marah aku bangun kesiangan, tapi tetap saja aku ingin memasak untuknya. Takutnya bunda melapor ke ibu kalau aku bangun kesiangan.
Coba kalau aku bangun kesiangan di rumah. Wah, sudah pasti akan ada hujan buatan yang hanya menerpa kamarku. Alias, bakal disiram sama ibu.
Namun, rupanya Pak Tarno sudah lewat, alhasil aku harus mengejarnya. Aku yakin Pak Terno masih belum jauh.
Aku berjalan ke arah rumah para tetangga, dan rupanya Pak Tarno mangkal di belokan arah rumah Bu Sri. Keliatan gerobaknya dari jauh.
"Eh, denger-denger, si Diyas hamidun," ujar seseibu yang aku yakini adalah suara Bu Sri. Aku segera menghentikan langkah kaki saat mendengar namaku disebut.
"Hamidun?" tanya yang lain.
"Iya, hamil duluan!"
Aku menghela napas kesal. Aku tidak menyangka bahwa aku akan mendengar gosip tentangku melalui telingaku sendiri.
Padahal setauku Bu Sri orang baik, tapi ternyata sama saja. Tukang gosip.
"Ah, mana mungkin. Diyas kan selama ini cuma ada di rumah aja."
Aku tersenyum tipis mendengar ada ibu lain yang membelaku.
"Loh, apanya yang nggak mungkin, Bu Nur? Toh yang menghamili di samping rumahnya pas," jawab Bu Sri tidak mau kalah.
"Rumah mereka berdekatan gitu, tidak ada yang tidak mungkin. Kita mana tau apa yang sudah dilakukan mereka," lanjut Bu Sri.
__ADS_1
Ah, aku rasanya jadi malas untuk belanja. Mau langsung pulang, tapi aku masih ingin mendengar mereka sedang bergosip tentang diriku.
"Bu Nur masih nggak percaya?" tanya Bu Sri. "Memangnya Bu Nur nggak tau ya, kemarin Diyas kan katanya dirawat di rumah sakit. Keguguran. Palingan jabang bayinya tidak mau dilahirin karena hasil zina."
"Astaghfirullah, Bu Sri."
"Loh, ngapain njenengan nyebut, Bu Nur?"
"Bu Sri, nggak baik ngomongin orang. Kalau ternyata salah, malah jadi fitnah,* jawab Bu Nur.
"Iya, seumpama bener pun juga tidak dapat apa-apa," timpal ibu yang lain.
"Loh, saya ngomong bener ini. Bukan fitnah!"
"Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan lho, Bu," timpal Pak Tarno. "Lagian, Diyas dirawat di rumah sakit itu, karena asam lambung kata ibunya."
"Lagian, Diyas itu anaknya baik, mana mungkin dia seperti yang Bu Sri tuduhkan."
Ah, lagi-lagi Bu Nur membelaku. Andai anaknya laki-laki, ikhlas aku dijodohkan sama anaknya. Eh.
Kuputuskan untuk bergabung dengan mereka dan belanja. Bu Sri yang sudah mangap hendak membuka suara lagi, langsung mingkem begitu melihat kedatanganku.
"Eh, Diyas. Mau belanja ya?" sapanya dengan full senyum.
Dasar muka dua. Kalah dia sama aku, aku punya muka lebih dari sepuluh, tergantung ngobrol sama siapa.
__ADS_1
"Nggak Bu. Saya mau dengerin gosip hangat." Bu Sri gelagapan, padahal aku menjawabnya dengan senyum manis. "Ayo cerita lagi, Bu. Kayaknya tadi dari jauh aku denger suara rame-rame. Kok sekarang mendadak berhenti? Ada gosip apa? Saya juga mau denger."
"Ah, gosip itu nggak baik, Diyas. Kalau salah jatuhnya malah fitnah. Kalau bener nggak dapat apa-apa."
Jiah. Bu Sri bisa bae ngomongnya. Yang lain saling berpandangan mendengar ucapan Bu Sri. Padahal tadi dia yang paling semangat gosipnya, eh sekarang sok-sokan bilang gosip itu nggak baik.
"Kamu habis nikah, bulan madu ke mana, Yas?" tanya Bu Sri mengalihkan pembicaraan.
"Saya nggak bulan madu, Bu," sahutku sambil memilih kangkung. Loh, kok malah milih kangkung sih? Masa mau makan kangkung terus.
"Kenapa? Anakku aja dulu bulan madu di Bali." Aku menguap mendengar Bu Sri pamer.
"Loh, tapi waktu aku tanya sama si Julia anakmu, katanya nggak jadi bulan madu?" tanya Bu Leni, seseibu yang daritadi cuma menjadi pendengar setia.
"Aduh, aku lupa belum matiin kompor. Aku pulang duluan ya." Bu Sri tiba-tiba pamit. Sepertinya dia malu karena ketahuan berbohong. Bu Nur hanya geleng-geleng kepala melihat Bu Sri yang berjalan cepat meninggalkan kami.
Aku pulang dengan menenteng keresek berisi kangkung, udang, dan dan juga jagung. Gara-gara mendengar gosip tentangku, aku jadi lupa tadi mau beli apa aja.
Mendadak aku malah membeli sayur kangkung dan udang, saat tiba-tiba saja kata-kata bunda yang mengatakan Aril menyukai tumis kangkung dicampur dengan udang muncul di kepalaku.
Padahal perpaduan kangkung dan udang itu bukanlah seleraku. Namun hanya gara-gara tahu Aril suka, aku jadi membelinya.
"Yas."
Aku yang baru sampai di halaman rumah Aril menoleh saat mendengar seseorang memanggilku. Laki-laki dengan potongan rambut model tentara itu turun dari sepeda motornya.
__ADS_1
"Mas Bayu?"