
Lucas melepas jasnya lalu menjatuhkan dengan lembut diatas bahu terbuka Jesslyn. Udara malam ini begitu dingin dan wanita itu lupa membawa mantel hangatnya. Jesslyn tersenyum tipis seraya mengucapkan satu kata. "Terimakasih," yang hanya di balas anggukan pelan oleh Lucas.
Ketidaknyamanan terlihat jelas di wajah cantiknya. Dia paling benci berada di tengah keramaian. Jika bukan karena Lucas, dia tidak sudi ikut menghadiri acara semacam ini.
"Kenapa? jika tidak nyaman kita pulang saja," ucap Lucas melihat ketidaknyamanan Jesslyn.
Wanita itu menggeleng. "Tidak perlu memikirkan ku, aku baik-baik saja. Tidak enak pada para rekan bisnismu jika kita tiba-tiba pamit pulang sementara yang lain masih di sini." Ujar Jesslyn mencoba mengerti posisi suaminya.
"Kau yakin?" tanya Lucas memastikan. Jesslyn mengangguk. "Baiklah kalau begitu."
"Jesslyn," perhatian pasangan muda itu teralihkan oleh panggilan seseorang. Keduanya lantas menoleh dan mendapati seorang wanita setengah baya menghampiri mereka berdua.
Senyum lebar tampak di bibir wanita itu. "Senna Jie-Jie," seru Jesslyn dengan suara renyah. Seolah-olah dia dan wanita itu sudah lama saling mengenal. "Jie-Jie, datang ke sini juga. Senang bisa bertemu dengan Jie-Jie lagi." Ucap Jesslyn sambil memeluk wanita itu.
Senna Kim mengangguk. "Ngomong-ngomong kau datang dengan siapa? Jadi kau dan Lucas saling mengenal?" Senna menatap keduanya bergantian.
Lucas menarik pinggang Jesslyn dan membuat lengan kirinya berbenturan dengan dada Lucas. Tangan kanan Lucas melingkari pinggang rampingnya. "Dia datang bersamaku. Bi, dia adalah istriku. Kami baru menikah Minggu lalu." Tanpa basa-basi Lucas memperkenalkan Jesslyn pada Senna yang tak lain dan tidak bukan adalah Bibinya dari pihak ibu.
Senna adalah putri bungsu di keluarga Kim. Usianya dan Lucas hanya beda dua tahun saja. Dia dua tahun lebih tua dari Lucas.
"Apa? Kenapa
Pengakuan Lucas membuat Nyonya Senna terkejut bukan main. "Kalian sudah menikah dan kau tidak memberitahu, Bibi?!" ucap Nyonya Senna dengan nada marah. "Lucas, bisa-bisanya kau menikah tanpa mengabari ku!!"
Lucas menghela napas. "Situsnya saat itu sangat tidak memungkinkan. Pernikahan kami di lakukan secara mendadak. Bahkan Aku dan Jesslyn menikah di rumah sakit. Ayahnya sakit dan ingin supaya kita berdua segera menikah," ujar Lucas memberi penjelasan.
__ADS_1
Lucas tidak membahas sedikit pun tentang perjodohan yang di lakukan oleh Kakeknya dan ayah Jesslyn. Meskipun pernikahan mereka hanya sebatas kontrak saja, tetapi Jesslyn tetap istrinya yang sah apapun alasannya karena pernikahan mereka tercatat oleh negara.
Selama kontrak nikah itu belum berakhir. Sebisa mungkin Lucas akan menjaga nama baik keluarganya dan keluarga Jesslyn. Melindungi wanita itu dari apapun yang bisa melukainya.
"Ahh, jadi begitu ceritanya. Ngomong-ngomong bagaimana awal mula kalian bisa saling mengenal kemudian berkencan dan akhirnya memutuskan untuk menikah? Lucas, Jesslyn, kalian berdua memiliki hutang penjelasan padaku. Kalian berdua harus menjelaskannya dan mengatakan yang sejujur-jujurnya pada, Bibi," Senna menatap keduanya bergantian.
"Tidak ada yang perlu di jelaskan!! Kami berdua tidak akan memberikan penjelasan apapun padamu, karena aku dan Jesslyn tidak merasa memiliki hutang apapun pada dirimu!!" Lucas menolak tegas untuk memberikan penjelasan pada Senna.
Senna mempoutkan bibirnya. "Dasar keponakan durhaka. Baiklah , Bibi tidak akan memaksa. Tapi kau harus tetap memperkenalkan istrimu pada keluarga Kim kita. Karena bagaimana pun juga kau tetap cucu kesayangan Nenek dan Kakekmu."
"Aku tahu. Aku memang berencana untuk membawa dan memperkenalkan Jesslyn pada Kakek dan Nenek, mungkin dalam waktu dekat." Tukas Lucas, Senna mengangguk.
Lucas masih memiliki keluarga lain selain Kakek Qin. Kakek dan Nenek Lucas dari pihak ibunya masih utuh. Selain Senna, Lucas juga memiliki masih memiliki satu bibi lagi. Tapi sayangnya hubungannya tidak sedekat dengan Senna.
Karena sekarang Jesslyn sudah memiliki teman untuk mengobrol. Lucas jadi tega untuk meninggalkannya.
Sammy terus memperhatikan jesslyn dari kejauhan. Dia selalu mencari celah untuk bisa berbincang dengannya, namun Sammy tidak memiliki kesempatan karena Lucas pasti tidak membiarkannya.
Dia merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Sammy adalah seorang Casanova. Dia sudah sering bertemu dengan gadis-gadis cantik dan menarik.
Namun baru kali ini dia bertemu dengan gadis yang mampu membuatnya tidak mengedipkan mata ketika memandangnya. Tapi sayangnya untuk mendekatinya membutuhkan sebuah usaha yang tidak mudah.
"Jika kau memang tertarik padanya, jangan hanya di pandangi saja. Datangi dia dan ajak dia berkencan," seru seseorang yang berdiri tidak terlalu jauh dari Sammy.
Dengan malas lelaki itu menoleh dan menatap orang itu dengan sinis. "Memangnya siapa yang memintamu untuk bicara? Sebaiknya kau diam, aku tidak suka mendengar mu bicara!!" ucap Sammy sambil menatap orang itu dengan sinis.
__ADS_1
Orang itu menyeringai sinis. "Tetap saja munafik dan bodoh. Lagipula aku hanya memberimu saran. Mau kau dengarkan ataupun tidak, itu sama sekali tidak ada masalah bagiku!!" jawab orang itu menimpali. Tanpa menghiraukan Sammy, dia pergi begitu saja.
Sammy mengepalkan tangannya. Berani-beraninya orang itu menyebutnya munafik dan bodoh. Apa dia pikir dia yang paling hebat sehingga bisa menilai orang lain dengan seenak jidatnya?!
Sammy pasti akan mendekatinya, namun tidak sekarang dan di depan banyak orang. Dia tidak akan mempermalukan dirinya sendiri di depan banyak pasang mata dan kemudian merusak nama baiknya.
.
.
Di bandingkan Senna. Jesslyn lebih banyak diam. Saat ini mereka sedang berbincang dengan beberapa wanita yang merupakan istri dari para kolega si penggelar acara. Jesslyn benar-benar merasa tidak nyaman, namun sebisa mungkin dia bersikap biasa saja.
"Tidak di sangka, ternyata Tuan Muda Qin ternyata sudah menikah dan memiliki istri yang sangat cantik. Padahal aku ingin sekali menjodohkan dia dengan putriku, Madonna." Ucap wanita setengah baya dengan nada bercanda.
"Anda kalah start darinya, Nyonya Mir." Sahut wanita lainnya.
"Lagipula Nona ini juga jauh lebih cantik di bandingkan putrimu. Jadi tentu saja Tuan Muda Qin lebih memilihnya , karena kau melamar pun belum tentu dia akan setuju untuk menikahi putrimu."
"Jangan salah, Nyonya Joo. Lagipula putriku sangat menarik meskipun tubuhnya sedikit berisi. Dia memang cantik tapi tubuhnya terlalu kurus menurutku, lihat saja perutnya yang rata dan kakinya yang kecil. Itu sangat-sangat kurang menarik," ujar Nyonya Mir.
Jesslyn menghela napas. Mendengar obrolan yang tidak berguna seperti itu membuat Jesslyn merasa muak. Dia benar-benar bosan dan ingin pergi dari mereka, tetapi Jesslyn tidak enak pada Senna. Sampai akhirnya Lucas menghampirinya dan mengajaknya untuk pulang. Dari situ dia merasa lega , Jesslyn merasa seperti mendapatkan oasis di tengah Padang pasir yang tandus.
xxx
Bersambung
__ADS_1