
Malam makin larut. Hembusan sang bayu terasa dingin ketika menyentuh kulit. Rembulan tampak bersinar lembut dalam dekapan malam. Jeritan binatang malam memecah dalam heningnya suasana. Namun, malam ini terasa muram. Suram dalam dekapan nada sendu. Segalanya tampak muram.
Di malam yang dingin ini. Tampak seorang wanita sedang melamun di balkon kamarnya sambil menatap lurus ke langit malam, namun sayangnya tidak terdapat banyak bintang karena langit sedikit mendung.
"Di sini sangat dingin, sebaiknya kau masuk ke dalam." Pinta Seorang laki-laki pada wanita itu 'Jesslyn'
Lantas Jesslyn menoleh dan mendapati Lucas berdiri di ambang pintu yang memisahkan antara balkon dan kamar mereka. Lelaki itu bersandar pada pintu sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Jesslyn memperhatikan penampilan suaminya, Lucas memakai celana panjang berwarna abu-abu gelap dan kaos putih lengan terbuka.
Kemudian Jesslyn menjawab. "Sebentar lagi, aku masih ingin menikmati angin sejuk di sini. Sebaiknya kalau kau ngantuk, tidur duluan saja." Pinta Jesslyn tanpa menatap lawan bicaranya. Pandangannya kembali ke langit malam yang kelam.
Lucas menghampiri Jesslyn, kemudian berdiri disamping kanannya. Mereka sama-sama menoleh dan membuat dua pasang netra berbeda warna itu saling bersirobok. Gugup seketika menyeruak, memenuhi ruang kosong di hati Jesslyn, begitupun sebaliknya. Mereka sama-sama mengakhiri kontak matanya.
"Apa yang membuatmu betah berdiri lama-lama di balkon saat malam hari?" tanya Lucas, dia menoleh membuat dua pasang netra berbeda warna milik mereka saling bertemu dan bersirobok.
"Bintang, karena hanya ketika malam hari aku bisa melihatnya. Apalagi Mama pernah memberitahuku jika orang yang telah tiada akan menjadi salah satu bintang di langit itulah kenapa aku suka sekali melihat bintang, karena itu bisa mengurangi rasa rinduku padanya." Jawab Jesslyn menuturkan.
Lucas terdiam setelah mendengar jawaban Jesslyn. Dia pikir itu hanya sebuah kebohongan yang dikatakan orang tua kepada anak-anaknya, karena saat masih kecil dia juga sering mendengarnya. Tapi Lucas tidak pernah mempercayainya.
"Dan kau percaya?" Lucas menoleh dan menatap Jesslyn penuh tanya.
Wanita itu menggeleng. "Entah, aku sendiri tidak tahu." Jawab wanita itu tersenyum.
__ADS_1
Keheningan menyelimuti kebersamaan mereka berdua. Tidak ada lagi obrolan setelah percakapan singkat mereka. Sesekali Lucas menatap Jesslyn dengan tatapan yang tak terartikan, memperhatikan wajah cantiknya dengan seksama. Tidak bisa Lucas pungkiri, jika dia telah terpesona pada wanita yang saat ini berstatus sebagai istrinya.
Sadar sedang di perhatikan. Jesslyn menoleh dan membuat pandangan mereka kembali bertemu. Mereka berdua saling menatap dalam diam dan berusaha menyelami keindahan mata masing-masing, gugup kembali mendera mereka. Lagi dan lagi, Jesslyn lah yang mengakhiri kontak mata mereka.
"Tiba-tiba aku mengantuk, aku masuk duluan." Ucap Jesslyn tanpa menatap lawan bicaranya. "Ahhh.."
Pupil mata Jesslyn membulat sempurna saat tubuhnya roboh ke depan akibat tersandung kakinya sendiri. Beruntung Lucas bisa menangkapnya tepat waktu sehingga tidak sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sebelah tangan Lucas memeluk punggung Jesslyn. Lagi lagi dan lagi... Mata mereka saling bersirobok dan bertemu pandang. Kali ini lebih lama dari sebelumnya.
"Kau tidak apa-apa? Lain kali lebih hati-hati," Ucap Lucas mengingatkan. Jesslyn hanya menganggukkan kepalanya dan pergi begitu saja, dia tidak ingin Lucas sampai melihat kegugupannya.
Pria itu menghela napas. Menggelengkan kepala lalu melenggang pergi meninggalkan balkon kamarnya. Dia sedikit lelah, Lucas harus tidur sekarang karena besok harus pergi bekerja. Dan setibanya di dalam kamar, dia di suguhi dengan pemandangan yang sangat-sangat menggelikan, di mana Jesslyn yang terlihat seperti kepompong raksasa karena sekujur tubuhnya terbungkus selimut tebal.
Perlahan Lucas menutup matanya yang mulai memberat, dan dalam hitungan detik saja dia sudah tertidur pulas. Berbeda dengan Jesslyn yang masih belum bisa tidur. Dia masih tetap terjaga dan sulit untuk segera tertidur. Mungkin dia harus begadang lagi malam ini.
xxx
Di sebuah ruangan yang di dominasi warna putih. Seorang pria tampan lengkap dengan setelan jas rapi, duduk di tepian tempat tidurnya sambil memandangi sebuah foto yang ada di ponselnya. Dia terus menggeser layaknya dengan jari telunjuknya, senyum tipis terpatri di sudut bibirnya.
"Hari ini akhirnya kita bertemu lagi. Tapi sayangnya aku sudah terlambat, sepertinya seseorang telah masuk ke dalam hatimu dan menggantikan posisiku. Jesslyn, apa kau bahagia sekarang?" ucap pria itu setengah berbisik.
Di dalam ruangan itu terasa hening. Tidak ada suara apapun selain detak jarum jam yang menggantung di dinding. Rindu terlihat jelas di sepasang netra hitamnya yang teduh. Dia merindukan perempuan itu, Jesslyn.
__ADS_1
Pria itu 'Nicholas' adalah pria berdarah Korea-Amerika yang merupakan mantan kekasih Jesslyn. Beberapa tahun yang lalu mereka memutuskan untuk mengakhiri hubungannya karena sudah tidak sejalan lagi. Mereka berpisah secara baik-baik, jadi tidak ada permasalahan yang akhirnya membuat mereka saling membenci satu sama lain.
Nicholas menengadahkan kepalanya, mencoba menghalau cairan bening yang menggenang di pelupuk matanya. Tiba-tiba matanya memanas, pria itu menggeleng, tidak seharusnya dia masih memikirkan orang lain sementara sudah ada hati lain yang harus dia jaga. Namun Nicholas juga tidak bisa memungkiri jika cinta untuk Jesslyn masih tetap ada.
Pria itu menoleh dan menatap sendu pada wanita yang sedang tertidur pulas diatas tempat tidurnya, dia adalah Mia, istrinya.
Nicholas menghampiri Mia lalu mengecup keningnya, harusnya dia sudah bisa membunuh perasaan itu, bukannya tetap membiarkan perasaan itu tetap ada di hatinya.
"Mia, maafkan aku karena belum bisa melupakannya sampai detik ini. Namun aku sedang berjuang untuk bisa mencintaimu, jadi bersabarlah sedikit lagi, sampai hatiku benar-benar menjadi milikmu." Gumam Nicholas setengah berbisik.
Pernikahan mereka bukan didasari oleh cinta. Nicholas dan Mia dijodohkan oleh kedua orang tua mereka, awalnya Nicholas menentang keras perjodohan tersebut, namun Apa yang membuat dia akhirnya menerima perjodohan itu dan setuju untuk menikahi Mia.
Meskipun cintanya bertepuk sebelah tangan. namun Mia tidak pernah berhenti berharap Nicholas akan membalas cintanya suatu Hari nanti, dia tidak mempermasalahkan tentang perasaan Nicholas padanya saat ini, namun Mia yakin dan percaya jika saat nanti cintanya lah yang akan menjadi pemenangnya, Nicholas akan berbalas dan menyambut perasaannya meskipun dia sendiri tidak tahu kapan hari itu akan tiba.
"Aku tahu, Nick. Tapi kau tenang saja, aku pasti akan menunggumu sampai membalas cintaku." lirih Mia membatin.
Mia tidak akan pernah lelah dan berhenti membuat Nikolas jatuh cinta padanya. Dia yakin ketulusan dan cinta murninya lah yang kelak akan menjadi pemenangnya.
xxx
Bersambung
__ADS_1