
Langit senja terlihat sangat indah, biru membentang dengan awan-awan putih yang ber arakan dan puluhan burung-burung kecil yang terbang bebas kesana kemari dengan antusias untuk mengiringi terbenamnya sang mentari.
Terlihat dua orang, pria dan wanita berjalan dia area pemakaman, di tangan si wanita menggenggam beberapa tangkai Lilly putih yang merupakan bunga kesukaan mendiang ibunya. Dan ini pertama kalinya dia mengunjungi makam sang ibu bersama orang lain.
"Hm, sudah jam lima sore. Sebaiknya kita bergegas." ucap wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Jesslyn seraya sedikit mempercepat langkahnya menuju pemakaman yang sudah terlihat di depan matanya.
Jesslyn menggenggam tangan Lucas dan menyeretnya supaya lebih cepat. Lucas hanya pasrah tanpa melayangkan sedikit pun protes padanya.
Setelah beberapa langkah berjalan, mereka tiba di sebuah makam yang merupakan tempat peristirahatan terakhir ibu Jesslyn.
Dan selama berjalan menuju sebuah pusara seseorang yang begitu berarti baginya, tanpa sadar Jesslyn termenung dengan pikirannya.
Haah ...
Menghela napas berat, entah mengapa dia merasa sedikit aneh dengan perasaannya selama beberapa hari terakhir ini. Dan pikirannya selalu di penuhi dengan segala hal yang berhubungan dengan Lucas.
Jesslyn juga merasakan hatinya berdenyut perih setiap kali mengingat keberadaannya dengan Lucas akan segera berakhir, seperti ada rasa tidak rela yang menghimpit dan menelan di dadanya.
"Ada apa?" tanya Lucas melihat tubuh Jesslyn yang agak sedikit limbung, wanita itu menggeleng, meyakinkan pada Lucas jika dirinya baik-baik saja.
Jesslyn melepaskan genggaman Lucas pada lengannya kemudian membungkuk dan meletakkan bunga cantik itu di atas pusara ibunya. Senyum tipis terpatri di bibir ranumnya. Jesslyn mengusap papan nama itu dengan air mata yang berlinang.
"Ma, bagaimana kabarmu hari ini? Maaf, karena aku baru sempat mengunjungimu lagi, akhir-akhir ini aku terlalu sibuk. Ma, selamat ulang tahun, aku membawakan bunga kesukaanmu. Ma, selamat ulang tahun," ucapnya dengan suara parau seperti menahan tangis.
Lucas menatap punggung Jesslyn yang bergerak naik-turun dengan tatapan tak berartikan. Dia belum pernah melihatnya tampak begitu rapuh, kemudian Lucas mendekatinya lalu merangkul bahunya, mencoba untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Oya, Ma. Aku ingin memperkenalkan seseorang padamu, namanya Lucas dan dia suamiku. Apa dari Surga Mama melihatnya? Aku harap Mama turut bahagia untukku." Ucapnya dengan lirih.
Tanpa mengatakan apapun, Lucas menarik Jesslyn ke pelukannya dan memeluknya dengan erat. Dia mencoba memberikan kehangatan dan berusaha untuk menenangkannya. Dan setelah dirasa tenang, Lucas melepaskan pelukannya, dia beranjak dan kembali berdiri di belakang Jesslyn.
Setelah cukup lama. Jesslyn berdiri dan mengajak Lucas untuk pulang. Selain karena sudah sore, langit tiba-tiba saja gelap menandakan Hujan akan segera turun.
xxx
Saham Lim Group mengalami penurunan yang signifikan setelah Qin Empire membatalkan semua kerjasamanya. Mereka kehilangan banyak investor sehingga saham mereka anjlok.
Lim Dan, selalu CEO dari perusahaan tersebut sudah mencoba melakukan berbagai macam cara untuk mengatasi masalah yang terjadi, namun sayangnya belum menemukan titik terang sampai detik ini. Dia sendiri tidak tahu apa penyebabnya sampai-sampai Qin Empire menarik semua investasinya dan membatalkan semua kerja samanya.
"Pa, apa permasalahan perusahaan masih belum teratasi?" Sammy menghampiri sang ayah dan memastikannya.
Paruh bayar itu menggeleng. "Hari ini tiga investor mencabut kerjasamanya dengan perusahaan kita, akibatnya saham terus mengalami penurunan, dan jika dibiarkan berlarut-larut tidak menutup kemungkinan perusahaan ini akan mengalami kebangkrutan." Ujar Lim Dan.
Lim Dan menggeleng. Papa, sendiri tidak tahu. Permasalahan muncul setelah Qin Empire menarik semua investasi yang di tanamkan di perusahaan ini dan membatalkan semua kerjasamanya. Satu persatu Investor ikut mundur dan menarik investasinya juga. Masalah ini benar-benar rumit dan sulit diatasi, dan sampai detik ini Papa masih menemui jalan buntu." Ujar Lim Dan menuturkan.
Sammy mengepalkan tangannya. Sepertinya dia sendiri yang harus turun tangan untuk mengatasi masalah yang terjadi. Tanpa mengatakan apapun pada ayahnya, Sammy melenggang pergi meninggalkan ruangan tersebut, rencana untuk menemui CEO dari Qin Empire dan meminta mereka untuk mengembalikan investasinya dan melanjutkan kontrak kerjasama yang dibatalkan secara sepihak.
xxx
Mereka tiba di rumah tepat pukul 19.00 malam. Setelah dari pemakaman Mereka pergi untuk makan malam di cafe langganan pasangan suami istri tersebut. Lucas memahami betul bila Jesslyn tidak pandai memasak, itulah kenapa dia mengajaknya untuk makan malam di luar.
Lucas memicingkan matanya melihat blaster membebat jari telunjuk Jesslyn. Sepertinya Dia baru saja menyadari jika jari telunjuk wanita itu terluka. Lucas meraih tangan Jesslyn untuk melihat lukanya, dan apa yang Lucas lakukan mengejutkannya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi pada jarimu?" tanya Lucas sambil menatap Jesslyn penasaran.
"tidak sengaja tergores pisau saat di rumah Sunny tadi." Jawab Jesslyn sambil menarik tangannya yang di genggam oleh Lucas.
"Apa kau sudah mengobatinya?" tanya Lucas dan dibalas anggukan oleh Jesslyn. "Dasar ceroboh, lain kali lebih berhati-hati lagi." ucapnya mengingatkan, Jesslyn mengangguk.
"Ya sudah, aku mandi dulu." Jesslyn beranjak dari hadapan Lucas dan pergi begitu saja. Meninggalkan Pria itu sendirian di ruang keluarga.
Lucas berjalan ke arah lemari pendingin dan mengeluarkan sebotol wine lalu membawanya ke sofa di ruang keluarga. Ini masih terlalu sore untuk tidur, sementara dia tidak memiliki kegiatan apapun. Bosan mulai melanda, membuat Lucas ingin sekali pergi keluar dan mencari hiburan. Namun dia berpikir lagi, sekarang dia bukanlah bujangan yang bebas untuk pergi ke mana pun dia suka. Karena ada perasaan yang harus dia jaga.
Derap langkah kaki seseorang yang datang sedikit menyita perhatiannya. Jesslyn datang dengan pakaian yang berbeda, wajahnya terlihat lebih fresh dari sebelumnya. Sudut bibir Lucas tertarik keatas menyambut kedatangan sang istri.
"Apa kau lelah? Duduklah di sini," Lucas menggeser sedikit duduknya dan berikan ruang untuk istri kontraknya.
"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu. Lu, apakah di kantormu masih ada lowongan pekerjaan? Aku bosan jika terus-terusan diam di rumah tanpa ada kegiatan. Jika kau tidak keberatan, aku ingin berencana untuk bekerja di kantormu." Ucap Jesslyn. Dia menatap Lucas dengan serius.
"Apa kau serius?" Jesslyn mengangguk. "Kebetulan sekali, posisi sekretaris sedang kosong. Jika kau bersedia, dirimu bisa menempati posisi itu untuk sementara waktu. Sekretarisku yang lama sedang cuti karena hamil tua."
Jesslyn mengangguk. "Boleh boleh. Kebetulan sekali aku sudah pernah bekerja sebagai sekretaris di perusahaan milik Papa selama dua bulan, jadi aku rasa tidak ada masalah dengan jabatan itu." Ucapnya. Jesslyn setuju untuk menempati posisi sekretaris yang Lucas tawarkan.
"Lalu bagaimana dengan Boutique milik mendiang ibumu? Bukankah kau bilang akan membesarkan dan membangkitkan nya lagi? Kenapa tiba-tiba kau malah ingin bekerja di perusahaan ku?" tanya Lucas, dia menatap Jesslyn penasaran.
"Aku memang berniat untuk mengelolanya kembali, tapi tidak sekarang. Ternyata aku benar-benar belum siap, untuk mengelola butik itu sendirian. dan untuk sementara aku berniat untuk menyewakan pada orang lain yang berminat," ujar Jesslyn.
Lucas Mengangguk. "Baiklah kalau begitu, terserah kau saja." Dia tidak bisa melarang Jesslyn untuk bekerja, karena mereka berdua sudah sama-sama sepakat untuk tidak mencampuri urusan masing-masing.
__ADS_1
xxx
Bersambung