
"Apa sekarang memang lagi musimnya nikah kontrak? Aku hitung sudah ada lima orang yang melakukannya, dan sekarang kau juga. Memangnya apa sih untungnya nikah kontrak dibandingkan menikah secara sah?!"
Kemudian pria berjas hitam itu menjawab. "Banyak, tapi aku tidak bisa menyebutkannya satu persatu, terlalu membuang-buang waktu. Tapi ada tidak enak juga jika di dalam surat kontrak tertulis sebuah perjanjian putih di atas hitam,"
"HITAM DI ATAS PUTIH!!" dua pria itu menyahut dengan kompak.
"Iya, apalah itu, yang penting itulah artinya... Jika ada tulisan putih di atas hitam, bukan... tapi hitam diatas putih untuk sepakat tidak melakukan hubungan badan dan di larang jatuh cinta, itulah susahnya. Karena dua insan 'pria dan wanita' yang terbiasa hidup bersama dalam waktu yang cukup lama sebagai pasangan suami-istri, mustahil jika benih-benih cinta tidak akan tumbuh diantara mereka.
"Tidak menutup kemungkinan jika si wanita akan kebobolan gawangnya, entah itu di sengaja ataupun tidak, namun sudah pasti peristiwa itu tidak mustahil terjadi. Dan ending yang mereka dapatkan tentu bukan kebahagiaan jika sudah begitu, namun rasa sakit yang teramat sangat dalam. Dan untungnya aku tidak pernah jatuh cinta pada istri kontrakku." Ujar panjang lebar pria berjas abu-abu.
Pria itu baru saja menjelaskan untung dan rugi dari sebuah pernikahan kontrak. Meskipun tidak ada penjelasan secara signifikan tentang keuntungan dalam sebuah pernikahan kontrak, namun bagi mereka yang berpikiran luas pasti akan langsung menangkap maknanya.
Pernikahan kontrak menjadi pilihan bagi mereka yang diharuskan menikah namun belum siap, Lucas contohnya. Dia terpaksa membuat kesepakatan dengan Jesslyn untuk menjalani sebuah hubungan palsu dengan berbagai persyaratan, dan pernikahan mereka akan berakhir dalam tiga bulan ke depan.
Lucas diam terpaku mendengar obrolan pria-pria itu. Mereka sedang membahas tentang pernikahan kontrak, siapa yang menduga jika ternyata masih banyak orang di luaran sana yang sama sepertinya. Mencari sebuah status melalui pernikahan kontrak.
Denting suara pada ponselnya menyadarkan Lucas dari lamunannya. Lucas membuka dan membaca pesan tersebut, dan ternyata dari Jesslyn. Setelah meninggalkan beberapa lembar won di atas meja, Lucas pergi begitu saja. Dia hendak menjemput Jesslyn di rumah sahabatnya.
Dua puluh menit berkendara. Lucas tiba di kediaman Lee. Pria itu langsung turun dari mobilnya dan melenggang, memasuki rumah bertingkat tersebut. Rupanya kedatangannya sudah di tunggu oleh Jesslyn.
"Kau sudah datang, ayo langsung pulang saja." Ucap wanita itu seraya menghampiri Lucas. Dan Lucas hanya mengangguk, setelah berpamitan pada Sunny, keduanya meninggalkan rumah tersebut.
__ADS_1
Lucas mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Keheningan menyelimuti kebersamaan mereka berdua, tak ada obrolan antara Lucas dan Jesslyn, mereka tampak sibuk dengan kegiatan masing-masing, seperti Jesslyn yang sibuk dengan ponselnya dan Lucas sibuk mengemudikan mobilnya.
Sesekali Lucas menoleh ke arah Jesslyn, menatap wanita itu dengan pandangan tak terartikan. Lucas melirik kearah ponsel Jesslyn, dia sedang berkirim pesan dengan seseorang, tapi Lucas tidak tahu dengan siapa dia bertukar pesan.
Jesslyn meletakkan ponselnya, perhatiannya terlihat pada Lucas. "Oya, Lu... Bisakah kita mampir dulu ke toko bunga? Aku lupa jika hari ini adalah ulang tahun, Mama. Jadi aku berniat untuk mengunjunginya, untung Papa mengingatkanku." Ucapnya dan menjawab rasa penasaran Lucas, ternyata Jesslyn bertukar pesan dengan ayahnya.
Lucas mengangguk. "Tentu,"
Lucas mempercepat laju mobilnya, di depan sana dengan jarak 500 meter ada sebuah toko bunga. Dan dia berencana untuk mengantarkan Jesslyn ke toko tersebut.
"Kita sudah sampai, kau turunlah aku tunggu di sini." Pinta Lucas dan di balas anggukan oleh Jesslyn, Lucas tidak ikut turun dan lebih memilih menunggu di mobil.
Jesslyn melangkahkan kakinya memasuki toko bunga tersebut dengan tenang. Seorang wanita pemilik toko bunga menyambutnya dengan hangat. "Selamat datang, Nona, ada yang bisa di bantu?" tanya wanita itu.
Dan tepat ketika Jesslyn hendak membayar bunga tersebut. Ada beberapa preman memasuki toko dan membuat keributan, mereka meminta uang keamanan pada pemiliki toko bunga tersebut dengan cara yang sangat brutal.
"Berikan uang keamanan atau aku hancurkan tokomu ini!!" pintanya menuntut.
Dengan takut, pemilik toko bunga itu mengangguk. Dia mengambil beberapa won dari lacinya lalu memberikannya pada pria tersebut, namun sayangnya di hentikan oleh Jesslyn. Jesslyn menahan lengan wanita itu sambil menggelengkan kepala dan memintanya untuk menyimpan kembali uangnya.
Preman-preman itu pun marah atas apa yang Jesslyn lakukan. "Kau sudah bosan hidup, ya?! Berani sekali ikut campur!!"
__ADS_1
"Bos, wanita ini sangat cantik Kenapa tidak kita manfaatkan saja? Lumayan kan untuk mengobati rasa haus dan dahaga karena burung perkutut kita lama tidak di manjakan." usul salah seorang dari kelima pria itu.
"Kau memberiku ide yang bagus. Kalau begitu cepat seret dia ke tempat sepi, biar aku nikmati duluan baru kalian!!"
"Siap, bos..."
Sayangnya tubuh pria itu tersungkur ke tanah setelah mendapatkan tendangan telak pada ulu hatinya, dia berguling di tanah sambil mengadu kesakitan, Jesslyn berhasil merobohkannya hanya dengan satu kali pukulan, dan hal itu membuat teman-temannya terkejut bukan main.
Tatapan tajam dia berikan pada empat orang yang tersisa. "Kalian ingin menangkap ku kan? Ayo, cepat maju biar aku habisi kalian secara bersamaan!!" Jesslyn meminta mereka untuk maju dan menantangnya. Dia tak terlihat gentar sedikit pun meskipun yang ada di hadapannya adalah empat pria bertubuh kekar dan berwajah sangar.
Sementara itu ... Lucas yang melihat keributan di dalam toko bunga tersebut tak tinggal diam. Terlihat pria itu keluar dari mobilnya dan pergi ke toko bunga tersebut, ternyata benar firasatnya, memang terjadi sesuatu di toko bunga tersebut.
"Pergi sekarang atau aku tidak akan segan-segan menembak mati kalian!!" sebuah moncong pistol menempel di kepala belakang salah satu dari keempat orang itu.
Sontak pria itu menoleh dengan kaku, susah payah dia menelan saliva nya melihat sorot tajam Lucas yang dingin dan berbahaya. "A..Ampuni kami. Kami akan pergi sekarang." Ucap ketua preman itu, dia memohon untuk di ampuni.
Lucas juga memberikan peringatan keras pada mereka supaya tidak meminta uang lagi pada setiap pedagang yang ada di kawasan Myeongdong, dan jika mereka sampai melakukannya lagi maka mereka harus berhadapan dengannya.
Dia mendekati Jesslyn dan memastikan keadaannya. "Kau tidak apa-apa?" tanya Lucas memastikan. Jesslyn menggeleng, meyakinkan pada suami kontraknya jika dia baik-baik saja. Kemudian mereka melenggang pergi meninggalkan toko bunga setelah membayar bunga yang Jesslyn beli.
xxx
__ADS_1
Bersambung