
Langit mendung memayungi Bumi. Menandakan jika hujan lebat akan segara turun. Rintik-rintik kecil mulai berjatuhan dari langit dan membasahi bumi, yang semakin lama semakin tidak terhitung jumlahnya. Orang-orang pun berlarian mencoba menghindari hujan, supaya tubuh mereka tidak terpapar air dan basah kuyup.
Di sebuah halte. Terlihat seorang gadis berhelaian coklat panjang duduk seorang diri. Netra hazel-nya yang jernih, menatap rintik-rintik hujan yang terus berjatuhan menghujam bumi dengan brutalnya. Hujan turun dengan tiba-tiba tanpa ada perkiraan cuaca sebelumnya.
Sebuah sedan hitam tiba-tiba berhenti di depan gadis itu. Seorang lelaki tampan lengkap dengan jas hitamnya turun dari mobil tersebut dan menghampirinya, di tangannya menggenggam sebuah payung transparan.
"Bukankah kau memiliki nomor ponselku, sudah tahu kesulitan tapi kenapa tidak menghubungiku?" tegur orang itu dengan nada datar.
Gadis itu mengangkat kepalanya, membuat mata berbeda warna milik mereka saling bersirobok. Gadis itu menatap lelaki yang berdiri di hadapannya dengan pandangan terkejut.
"Lucas, sedang apa kau di sini?" bukannya menjawab pertanyaan Lucas, Jesslyn malah balik bertanya.
"Sebaiknya masuk ke mobil dulu. Kau bisa kedinginan jika terlalu lama di sini." Ucap Lucas. Dia merangkul punggung Jesslyn dan mengajaknya masuk ke dalam mobil miliknya.
Tidak lupa Lucas juga menyalakan penghangat supaya Jesslyn tidak kedinginan. "Pakai ini, jangan sampai kau masuk angin karena kedinginan." Dia membuka jasnya dan menyerahkan pada Jesslyn. Meskipun rasa dingin mendera di sekujur tubuhnya, tetapi Lucas masih bisa menahannya.
Untuk sesaat, keheningan menyelimuti kebersamaan mereka berdua. Tidak ada obrolan antara Jesslyn dan Lucas, keduanya sama-sama diam dalam kebisuan. Sesekali Lucas mengulirkan pandangannya pada perempuan yang sekarang berstatus sebagai istrinya tersebut.
"Apa yang kau lakukan di halte? Bukankah seharusnya kau masih di rumah sakit menemani ayahmu?" sebuah pertanyaan keluar dari bibir Lucas, dia mempertanyakan tentang keberadaan Jesslyn di halte.
"Aku memintanya untuk pulang. Dia sehat dan tidak sakit. Papa, sudah membohongiku. Sebenarnya dia baik-baik saja, dia rela berbohong supaya aku bersedia menikah denganmu. Dan aku sendiri tidak tahu apakah Kakekmu terlibat dalam sandiwara ini atau tidak." Ujar Jesslyn menuturkan.
Jesslyn sangat kecewa pada ayahnya. Demi keberhasilan rencananya. Dia sampai rela membuat sandiwara, Jesslyn sungguh tidak menyangka jika ayahnya akan berbuat sampai sejauh itu.
__ADS_1
"Lalu apakah kau berencana untuk mengakhiri pernikahan ini?" Lucas menoleh dan menatap Jesslyn dengan pandangan datar.
Perempuan itu menggeleng. "Tentu saja tidak. Aku tidak ingin mempermalukan keluargaku dengan bercerai darimu sementara usia pernikahan kita belum genap satu Minggu. Aku akan bertahan sampai enam bulan ke depan sesuai dengan kesepakatan kita." Tutur Jesslyn.
Lucas mengangguk. "Baguslah kalau begitu. Karena jika kita mengakhirinya sekarang, maka dampaknya akan sangat besar. Dua keluarga yang bersahabat baik bisa terpecah belah karena perceraian." Tukas Lucas menimpali.
Mereka berdua sama-sama memiliki pemikiran yang matang dan dewasa. Mereka tidak akan menghancurkan kehormatan keluarga masing-masing hanya demi ego dan keputusan sepihak. Karena menjaga dan mempertahankan lebih sulit daripada mengembalikan. Itulah yang membuat mereka berpikir dua kali supaya tidak mengambil keputusan yang salah.
"Ngomong-ngomong siapa wanita itu? Apakah dia mantan kekasihmu atau orang yang awalnya di jodohkan denganmu?" tanya Jesslyn yang tiba-tiba mengungkit tentang Amanda.
"Namanya Amanda, dia adalah salah satu kandidat yang dipilihkan oleh Kakek sebagai calon istriku. Namun aku menolaknya karena sifatnya, wanita manja dan kurang berpendidikan sepertinya tidak layak untuk bersanding denganmu." Jawab Lucas.
Jesslyn memicingkan matanya. "Bukankah dia lulusan luar negeri? Aku pernah satu kampus dengannya ketika kami sama-sama kuliah di London. Ya, meskipun aku tidak mengenalnya dengan baik. Tapi aku tahu jika dia memang sedikit bermasalah orangnya." Tutur Jesslyn.
Jesslyn mengangguk. "Ya, benar juga." Sebenarnya Jesslyn ingin bertanya alasan kenapa Lucas setuju untuk menikah dengannya, tetapi hal itu dia pendam dan tidak jadi diutarakan.
Lucas menghentikan mobilnya di sebuah restoran. Dia lapar dan ingin mengajak Jesslyn untuk makan siang terlebih dulu sebelum pulang. Jesslyn tidak menolaknya karena dia juga sedang lapar.
"Silahkan lewat sini Nyonya, Tuan." Kemudian pelayan mengantar mereka berdua menuju ruang VIP. Lucas lebih menyukai makan di tempat ber-privasi daripada ruangan terbuka seperti yang terletak di lantai satu.
"Kenapa harus ruang VIP? Bukankah sama saja?" Jesslyn mengawali perbincangannya dengan Lucas, mereka berdua sedang diarahkan menuju ruangan VIP oleh pelayan.
"Privasi, aku paling tidak bisa saat makan dan di perhatikan oleh banyak orang." Jawab lelaki itu.
__ADS_1
Jesslyn tersenyum. "Ternyata kita memiliki kesamaan. Itulah kenapa aku lebih memilih pergi ke tempat yang penuh dengan ketenangan dari pada kebisingan. Karena aku seorang Introver,"
Lucas menoleh pada gadis di sebelahnya. "Kau seorang Introver?"
Jesslyn menganggukkan kepala. "Ya, itulah kenapa aku tidak memiliki banyak teman dan hanya punya satu sahabat saja. Tidak banyak orang yang mau berteman denganku karena mereka menganggap aku adalah orang yang membosankan. Aku tidak suka berada di keramaian apalagi pergi ke club' malam, makanya mereka menjauhiku." Terang Jesslyn panjang lebar.
"Ternyata kita benar-benar memiliki banyak kemiripan. Aku pun sama sepertimu, bergaul dengan banyak orang membuatku tidak nyaman apalagi sebagain besar dari mereka selalu penuh dengan kepalsuan." Tutur Lucas.
Benar-benar sebuah kebetulan jika mereka berdua memiliki banyak kesamaan dan kemiripan. Baik Jesslyn maupun Lucas tidak pernah memperkirakannya.
Jesslyn dan Lucas menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu berpelitur elegan. Pelayan membukakan pintu untuk mereka berdua dan mempersilahkan keduanya untuk masuk ke dalam.
Tanpa mereka berdua sadari. Ada beberapa paparazi yang mengikuti mereka dan mengabadikan kebersamaan itu. Tuan Muda dari keluarga ternama mendatangi sebuah restoran mewah bersama seorang wanita cantik, jika berita itu diangkat ke media dan beritanya meledak maka perusahaan tempat mereka bekerja pasti akan memberikan bonus yang sambat besar.
"Kau ingin pesan apa?" tanya Kevin sambil melihat-lihat menu di buku menunya pada Jesslyn yang juga sedang memilih-milih menu.
"Sunday Roast, Shepherd’s Pie, Sticky Toffee Pudding , dan untuk minumnya Ica cafe Latte." Jesslyn menyebutkan menu-menu yang dia inginkan. Saat ini mereka sedang berada di restoran Inggris, jadi wajar bila yang di pesan oleh Jesslyn adalah makanan khas negara dengan julukan Black Country tersebut.
Lucas menyerahkan buku menunya pada pelayan dan menyebutkan makanan pesanannya yang ternyata sama dengan milik Jesslyn. Selanjutnya makan siang mereka lewati dengan tenang. Tidak ada obrolan dan hanya terdengar suara dentingan sendok, garpu dan piring yang saling bersentuhan.
xxx
Bersambung
__ADS_1