Pernikahan 180 Hari

Pernikahan 180 Hari
Kami Tidak Ikut-Ikutan


__ADS_3

"Aahhh...!! Sial, tubuhku rasanya panas semua!!"


Cris berlari meninggalkan meja makan. Dia terjebak dalam jebakannya sendiri, jebakan yang seharusnya diminum oleh Lucas dan Jesslyn, justru diminum sendiri olehnya. Cris bangkit dari kursinya dan berlari ke arah kamar mandi, tubuhnya butuh didinginkan sekarang juga.


Kakek Qin dan Tuan Valentino pun mendadak panik. Rencana mereka gagal total, bukannya Lucas dan Jesslyn, justru Cris sendirilah yang terkena jebakan Batman. Pandangan Lucas bergulir pada kakek dan ayam mertuanya, mereka Berkeringat dingin tatapan tajam Lucas yang mengintimidasi.


"Apa kalian berdua juga terlibat dan bersekongkol dengannya?!" Lucas menatap keduanya satu persatu. Menatap Kakek dan Ayah mertuanya bergantian.


Mereka berdua menggeleng dengan kompak. Meyakinkan pada Lucas jika mereka berdua tidak terlibat dan tidak tahu apa-apa, meskipun pada kenyataannya mereka terlibat juga. "Aduh, tiba-tiba perut Kakek mulas. Kakek, mau ke toilet dulu." Kakek Qin bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja.


"Oh, oke oke. Aku akan segara ke sana sekarang." Sedangkan Tuan Valentino berpura-pura menerima telfon seseorang. Menghiraukan Lucas dan Jesslyn, dia bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Mengisahkan pasangan muda itu berdua di meja makan.


Lucas dan Jesslyn sama-sama menghela napas. Keduanya pun memutuskan untuk pulang tanpa berpamitan terlebih dulu pada Kakek Qin maupun Cris, untung saja mereka berdua cerdik dan peka. Jika tidak entah apa yang akan terjadi pada mereka berdua, mungkin saja keduanya akan berkahir di tempat tidur dalam posisi tellanjang.


"Rencana kakakmu benar-benar sangat mengerikan, untungnya kau peka dan segera mengetahuinya, jika tidak entah bagaimana nasib kita berdua selanjutnya. Mungkin saja kita berdua sudah...!!" Jesslyn tidak melanjutkan perkataannya. Jangankan benar-benar terjadi, membayangkan saja sudah membuatnya bergidik ngeri.


"Sebaiknya tidak perlu di bahas lagi. Bulu Kuduk ku berdiri mengingat apa yang baru saja terjadi." Jawab Lucas menimpali.


Bukan hanya Jesslyn saja yang merinding membayangkan jika mereka benar-benar melakukannya, tetapi Lucas juga. Tidak masalah jika mereka berdua saling mencintai. Tapi masalahnya mereka tidak memiliki perasaan satu sama lain. Apalagi ada perjanjian tertulis dalam hubungan mereka berdua.


Lucas menoleh, menatap sisi wajah Jesslyn. "Kau ingin langsung pulang atau jalan-jalan dulu?" tanya Lucas memberi penawaran.


"Jalan-jalan dulu aku rasa tidak ada salahnya. Kebetulan aku ingin membeli setelan kerja untuk ku pakai selama menjadi sekretaris mu." Jawab Jesslyn.

__ADS_1


Lucas mengangguk. "Baiklah kalau begitu." Lucas menambah kecepatan pada laju mobilnya dan menuju pusat perbelanjaan yang terletak di pusat kota. Kebetulan dia hendak membeli beberapa setel jas karena memang sudah lama Lucas tidak membeli jas baru.


.


.


Dua puluh menit kemudian mereka tiba di pusat perbelanjaan. Lucas dan Jesslyn segera turun dari mobil setelah berada di parkiran lalu melenggang memasuki gedung bertingkat tersebut dengan beriringan. Sudah terancang di kepala Jesslyn mengenai apa saja yang hendak dia beli, mulai dari kebutuhannya sampai kebutuhan dapur.


Meskipun dia tidak pandai memasak, setidaknya dia selalu menyediakan buah-buahan segar, cemilan, mie instan dan minuman bersoda di rumahnya.


"Jesslyn," langkah mereka berdua terhenti setelah mendengar seseorang memanggil nama Jesslyn. Lantas keduanya menoleh dan mendapati Mia serta Nicholas yang berjalan menghampiri mereka berdua.


Untuk sesaat Jesslyn dan Nicholas saling memandang, namun pandangan mereka diakhiri oleh Jesslyn. Dari Nicholas, padangan Jesslyn kemudian bergulir pada Mia.


Mia mengangguk. "Ya, kebetulan stok di rumah untuk satu bulan ke depan sudah menipis. Lalu kau sendiri bagaimana? Apa kau datang untuk berbelanja bulanan juga?" tanya Mia memastikan.


"Tidak juga, aku berencana untuk membeli beberapa setel pakaian kerja."


"Kau bekerja?" ucap Mia terkejut.


Jesslyn mengangguk. "Ya, kebetulan mulai hari ini aku bekerja sebagai sekretaris di kantor, Lucas. Aku benar-benar bosan jika seharian hanya berdiam diri tanpa melakukan apa-apa, makanya aku mengajukan lamaran kerja di perusahaannya." Jelas Jesslyn.


Mia mengangguk. "Betul juga sih. Sebenarnya aku juga ingin sekali bekerja, tetapi Nick melarangnya dan memintaku untuk jadi istri yang baik di rumah. Dan apa kau tahu, itu sangat-sangat membosankan." Ujar Mia menuturkan.

__ADS_1


Jesslyn mengangguk setuju. "Itu sebabnya aku memaksa untuk berkerja, karena diam tanpa ada kesibukan sangatlah membosankan." Ucap Jesslyn menimpali.


Kedua wanita itu pun memutuskan untuk berbelanja bersama dan meninggalkan suami-suami mereka begitu saja. Lucas dan Nicholas memutuskan untuk menunggu mereka berdua di cafe. Sedangkan Jesslyn dan Mia berkeliling Mall. Memang dasarnya wanita, mereka selalu excited jika sudah berhubungan dengan yang namanya berbelanja.


Mereka berdua memasuki sebuah Boutique yang menyediakan pakaian pria dan wanita. semua dari brand-brand ternama dunia, Gucci salah satunya.


Sebelum membeli untuk dirinya sendiri, Jesslyn berencana membelikan satu setelan jas untuk Lucas. Sejak mereka menikah tiga bulan yang lalu, belum sekalipun Jesslyn membelikan sesuatu untuk Lucas. Makanya dia berencana untuk membelikan satu setelan jas untuk suami kontraknya tersebut.


"Apa kau ingin membeli untuk suamimu?" tanya Mia dan di balas anggukan oleh Jesslyn.


"Ya, aku berencana membelikan satu set jas untuknya. Karena sejak kami menikah 3 bulan yang lalu, aku belum pernah memberikan apapun untuknya, sedangkan dia sudah berkali-kali memberikan barang-barang mewah untukku. Jadi aku berencana membeli jas ini untuknya." Jawab Jesslyn.


Mia tersenyum lebar mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Jesslyn. Dan hal itu memberinya ide untuk membelikan Nicholas juga. Mia berniat membelikan set jas untuk suaminya. "Menurutmu lebih bagus yang mana? Hitam atau abu-abu?" Jesslyn menunjukkan dua jas pada Mia, dan meminta dia untuk membantunya memilih.


Wanita itu tampak berpikir dan menimbang jas mana yang lebih bagus Tapi sayangnya Mia tidak bisa memilih satu diantara dua, karena dua-duanya sama-sama bagus.


"Aku rasa sebaiknya kau ambil saja keduanya, karena dua-duanya sama-sama bagus, aku benar-benar tidak bisa memilih satu diantara kedua jas itu." Jawab Mia.


Jesslyn tersenyum lebar. "Baiklah kalau begitu, aku ambil saja dua-duanya." Ucap Jesslyn dengan senyum yang sama. Mia benar-benar memberinya sebuah ide yang brilian


Dia pun mengikuti saran Mia dan memutuskan untuk mengambil dua-duanya. Tidak ada salahnya dia mengambil kedua jas tersebut. Karena harga kedua jas itu tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang telah Lucas berikan untuknya. Selanjutnya adalah membeli setelan kerja untuk dirinya sendiri, dan di lanjut dengan membeli buah-buahan dan berbagai cemilan.


xxx

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2