Pernikahan 180 Hari

Pernikahan 180 Hari
Hari Pertama Kerja


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Jesslyn sudah bangun dan bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Mulai hari ini dia akan bekerja sebagai sekretaris baru di perusahaan Lucas. Wanita itu memastikan tidak ada yang kurang pada penampilannya. Tubuh rampingnya dalam balutan blus renda berwarna putih, blazer hitam dan rok span sepanjang lutut.


Jesslyn menggulung tinggi rambut panjangnya, wajah cantiknya di olesi make up tipis yang membuat kecantikannya terkesan natural. Saat di rasa sudah siap, dia pun bergegas keluar meninggalkan kamarnya dan menghampiri Lucas yang sudah menunggunya di bawah.


"Lucas, aku sudah siap. Bisakah kita berangkat sekarang?" seruan itu mengalihkan perhatian Lucas yang sedang membaca koran di ruang keluarga.


Pria itu lantas menoleh dan mendapati Jesslyn yang sedang menuruni tangga. Lucas Memperhatikan penampilan Jesslyn dari ujung rambut sampai ujung kaki, ada yang berbeda pada penampilannya pagi ini. Kemudian Lucas menghampiri Jesslyn dan berhenti tepat di depannya.


"Sebaiknya rambutmu Biarkan saja tergerai, tidak perlu digulung seperti ini." Dia memberi saran agar Jesslyn mengerai rambut panjangnya. Dengan lembut, Lucas melepaskan tusuk rambut yang menggulung rambut istri kontraknya tersebut.


"Kenapa? Bukankah begini jauh lebih rapi?" Jesslyn menatap Lucas dengan bingung.


Pria itu menggeleng. "Lebih baik seperti ini. Banyak buaya gila di luaran sana, dan aku tidak ingin kau menjadi pusat perhatian yang menarik di mata mereka." Jawabnya dan membuat Jesslyn terdiam. Kemudian wanita itu mengangguk paham.


Jesslyn tidak merasa keberatan dengan sikap overprotektif Lucas padanya. Lagi pula mereka berdua sama-sama sepakat menjaga perasaan dan harga diri masing-masing. Kemudian Jesslyn merubah posisinya, iya dan Lucas paling berhadapan. Jesslyn membantu pria itu merapikan dasinya yang berantakan.


"Bukankah aku sudah mengajarimu untuk memakai dan memasang dasi secara benar, tapi kenapa kau masih saja payah, huh?!" ucap Jesslyn sambil menatap Lucas dengan pandangan mencibir.


"Ck, berhenti mencibirku. Mau mengajariku sampai ribuan kali sekali pun, jika tidak bisa ya tidak bisa, lagi pula aku tidak berbakat dalam hal memasang dasi." Protes Lucas, dia tidak terima dicibir oleh Jesslyn.


Wanita itu terkekeh geli. Tanpa berkata-kata lagi, Jesslyn memperbaiki dasi Lucas yang berantakan. Selanjutnya mereka berdua pergi ke meja makan untuk menyantap sarapannya sebelum pergi bekerja. Lagi-lagi Lucas lah yang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua, mengingat seberapa payahnya Jesslyn dalam urusan satu itu.


xxx

__ADS_1


Desas-desus tentang datangnya Sekretaris baru telah sampai ke telinga semua orang yang bekerja di Qin Empire. Mereka sangat penasaran dengan sekretaris baru tersebut. Apakah dia cantik? Apakah dia menarik? Apakah dia berbakat? Apakah dia becus? Semua pertanyaan-pertanyaan itulah yang terlontar dari mulut ke mulut sejak pagi tadi.


Jam dinding hampir menunjukkan pukul 07.00 pagi, namun batang hidung si sekretaris baru belum juga tampak, membuat semua orang begitu meragukannya, hingga mereka berpikir dia tidak layak.


"Dia datang, dia datang," seruan keras itu mengudara, mengalihkan perhatian semua orang yang berada di balik bilik ruang kerjanya.


Semua menoleh. Terlihat seorang wanita cantik dan berkaki jenjang mengayunkan kedua kakinya bergantian mengikuti langkah seorang pria tampan yang pastinya adalah Lucas. Parasnya cantik, tubuh yang ramping dan kakinya jenjang. Sosoknya yang nyaris sempurna menimbulkan rasa iri bagi sebagian karyawan yang bekerja di Qin Empire, apalagi dia bisa berjalan beriringan dengan CEO mereka.


"Astaga, ternyata dia cantik sekali. Membuat orang iri saja,"


"Kau benar, lihat saja tubuhnya yang ramping dan kakinya yang jenjang, jika di lihat-lihat dia mirip boneka hidup."


"Cih, sepertinya mata kalian bermasalah, seperti itu dibilang cantik,"


"Sudah-sudah kalian semua, berhenti ribut dan kembali bekerja jika tidak ingin mendapatkan teguran keras!!"


Sepanjang jalan menuju ruang kerjanya. Telinga Jesslyn sampai panas mendengar orang-orang itu membicarakannya. Namun dia tidak mau terlalu ambil pusing. Lagipula kedatangannya ke kantor bukan untuk pamer kecantikan melainkan untuk bekerja supaya dirinya memiliki kesibukan.


Lucas menoleh ke belakang. "Kenapa kau harus menjaga jarak denganku? Apa kau tidak ingin mengetahui hubungan kita yang sebenarnya?" tanya Lucas.


Jesslyn menggeleng. "Bukan seperti itu, aku hanya tidak ingin orang mendekatiku dan bersikap baik padaku hanya karena aku ini adalah istrimu. Aku mencari teman yang benar-benar tulus padaku. Dan di kantor ini, status kita hanya atasan dan bawahan, bukan suami istri." Ujar Jesslyn.


Lucas mengangguk paham. Ternyata dia sudah salah karena telah berburuk sangka pada Jesslyn, jadi karena alasan itu dia tidak mau berjalan beriringan dengannya. Jesslyn begitu dewasa dan memiliki pemikiran yang matang dan lugas. Sungguh beruntung dia memiliki istri sepertinya, meskipun hubungan mereka hanya sebatas pernikahan kontrak.

__ADS_1


Dan selama tiga bulan bersama, tidak pernah sekalipun Jesslyn menyulitkan apalagi membuatnya kerepotan. Meskipun payah dalam hal memasak, namun dia selalu berusaha melakukan yang terbaik untuknya, itulah yang menjadi salah satu alasan Lucas sangat berat untuk berpisah dengannya.


"Baiklah, aku mengerti. Ini ruangan mu, jika kau mengalami kesulitan bisa beritahu aku ataupun, Eric."


Jesslyn memicingkan matanya. "Eric, bukankah nama asisten mu yang sebelumnya adalah..."


"Dia sudah berhenti, dan Eric adalah asisten baruku." Lucas menyela ucapan Jesslyn. "Bekerjalah dengan baik, aku ke ruangan ku dulu." Ucapnya dan pergi begitu saja.


Jesslyn memperhatikan ruangannya dengan seksama, no bad. Ruangan itu cukup luas dan memiliki fasilitas yang memadai, selain itu ruangannya bersebelahan dengan ruangan Lucas, bahkan mereka bisa saling menatap satu sama lain meskipun ada kaca yang menjadi dinding pembatasnya.


Tak lama setelah kepergian Lucas. Seorang wanita tiba-tiba menghampirinya. Mimik mukanya terlihat tidak menyenangkan, seolah-olah dia ingin mengibarkan bendera perang dengannya.


"Jadi kau adalah sekretaris baru itu? Aku peringatkan padamu, Ya. Presdir, dia adakah milikku jadi jangan coba-coba untuk mengganggu apalagi menggodanya jika kau tidak ingin bernasib sama dengan sekretaris sebelumnya. Aku yang sudah membuatnya tidak betah bekerja di sini, jadi jangan macam-macam denganku!!"


Jesslyn memicingkan matanya dan menatapnya dengan pandangan menyelidik. "Apa aku tidak salah dengar? Bukankah dia cuti karena hamil dan hampir melahirkan, jadi bagaimana bisa kau mengatakan jika dia keluar karena kau memberikan penekanan padanya?!" Jesslyn menatapnya dengan mata memicing.


"Bukan dia, tapi sekretaris sebelum dirimu. Dia hanya betah satu Minggu bekerja di sini, dan kita lihat saja Berapa lama kau akan bertahan dengan posisimu ini!!"


Jesslyn menyeringai dan menatap wanita itu dengan sinis. "Jangan bermain taruhan denganku, atau kau sendiri yang akan menyesal. Sebaiknya kau pergi sekarang, dan fokus saja bekerja jika tidak ingin mendapatkan masalah!!" Jesslyn memintanya untuk pergi, ancaman seperti itu tentu saja tidak mempan baginya, karena Jesslyn bukanlah wanita lemah yang mudah untuk ditindas.


xxx


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2