Pernikahan 180 Hari

Pernikahan 180 Hari
Maaf Merepotkan


__ADS_3

Jesslyn menjatuhkan tubuhnya yang terasa lelah ke atas tempat tidurnya. Tubuhnya benar-benar lelah setelah bekerja seharian, belum lagi masalah-masalah kecil dan keributan yang diciptakan oleh salah seorang karyawan Lucas, ditambah lagi Cris yang berulah.


Derap langkah kaki seseorang yang datang sedikit menyita perhatiannya. Wanita itu menoleh dan mendapati Lucas memasuki kamar mereka. Ditangannya menenteng dua paper bag milik Jesslyn, meskipun dia sudah menolak bantuan Lucas untuk membawakan belanjaannya, tetapi pria itu tetap memaksakan diri.


"Letakkan saja di sana, maaf sudah merepotkanmu." Ucap Jesslyn penuh sesal.


Lucas menggeleng. "Bulan masalah. Lagipula ini tidak berat Apalagi sampai menguras tenaga." Jawabnya lalu melenggang dan pergi ke kamar mandi. Sedangkan Jesslyn tetap bergeming dari posisi berbaringnya saat ini. Sampai sosok Lucas kembali dari kamar mandi dan menghampirinya.


Jesslyn menoleh dan menatap suami kontraknya itu dengan bingung. "Aku pikir kau pergi mandi." Ucapnya tanpa melepaskan tatapannya dari Lucas.


"Sebaiknya kau duluan saja yang mandi, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Cuaca sangat dingin tubuhmu bisa membeku jika mandi dengan air dingin," ucap Lucas.


Jesslyn menatapnya tak percaya. "Kau menyiapkan air hangat untukku?" Lucas mengangguk menjawab pertanyaan istri kontraknya. "Seharusnya kau tidak perlu melakukan itu, tapi terimakasih dan maaf sudah merepotkanmu." Ujarnya penuh sesal. Lucas menggeleng. Sekali lagi dia meminta Jesslyn untuk mandi.


Sembari menunggu wanita itu selesai mandi. Lucas membuka laptopnya dan melihat beberapa email yang masuk. Ada beberapa file yang perlu dia periksa sebelum ditandatangani esok hari. Beberapa diantaranya adalah pengajuan kerjasama dari perusahaan lain, jika sesuai maka akan Lucas setujui, tapi jika tidak akan langsung dia tolak.


Suara gemercik air dari dalam kamar mandi menyita sedikit perhatiannya. Lucas menoleh sekilas ke arah pintu, sebelum fokus kembali ke laptopnya. Pekerjaannya harus segera selesai supaya dia bisa segera mandi dan istirahat lebih awal. Lucas benar-benar lelah, bukan hanya fisiknya tetapi pikirannya juga.


"Lu, apa aku boleh minta tolong?" pertanyaan itu mengalihkan perhatiannya.


Lucas menoleh dan menganggukkan kepala. "Minta tolong apa?" tanya Lucas singkat.


"Aku lupa membawa handuk. Bisakah kau membantuku mengambilkannya?" Jesslyn menatap Lucas dengan pandangan memohon. Lucas mengangguk.

__ADS_1


Tanpa sepatah kata pun, dia bangkit dari duduknya lalu menghampiri Jesslyn dengan sehelai handuk di tangannya. Jesslyn tersenyum lebar sambil mengucapkan terima kasih pada suami kontraknya tersebut. Jesslyn kembali ke kamar mandi untuk membetulkan handuknya.


Beberapa menit kemudian, Jesslyn keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk yang menutup Dada sampai pahanya. Buru-buru Lucas mengalihkan pandangannya dari wanita itu, membuat Jesslyn merasa kurang nyaman karena merasa terawasi.


"Kau segeralah mandi, air hangat untukmu sudah aku siapkan." Ucap Jesslyn sambil menatap Lucas dari ekor matanya.


Pria itu mengangguk. Menutup kembali laptopnya kemudian bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Wajah Jesslyn sedikit memerah, untungnya Lucas tidak menatap sedikit pun padanya. Meskipun mereka sudah menikah secara resmi dan berstatus sebagai suami istri, namun tetap saja hal itu sangat memalukan.


Setelah berpakaian lengkap. Jesslyn segera berbaring di tempat tidur dalam posisi menyamping. Dia ingin segera tidur karena besok harus bangun pagi-pagi sekali dan bersiap-siap untuk pergi bekerja.


Belum lama Jesslyn menutup matanya. Pintu kamar mandi terbuka. Lucas keluar dari dalam sana hanya memakai celana panjang dan bertellanjang dada. Dia menatap sekilas kearah Jesslyn yang sudah terlelap.


Meletakkan handuknya, kemudian Lucas mengikuti jejak Jesslyn dan berbaring di sampingnya. Posisi mereka saling memunggungi. Lucas menutup matanya, dan hanya dalam hitungan detik saja dia sudah pergi ke alam mimpi.


xxx


Tak terkecuali wanita cantik satu ini. Dengan telaten, jari-jari lentiknya merapihkan mangkuk dan piring ke atas meja makan. Menyiapkan sarapan seperti hari-hari biasanya meskipun tidak lebih dari beberapa lembar roti tawar dan segelas susu hangat. Setidaknya itu lebih dari cukup untuk mengganjal perutnya pagi ini.


Lucas menuruni anak tangga dengan kedua tangan yang sedang mengancingkan kancing dipergelangan tangan. Kakinya berhenti melangkah ketika sampai didepan meja makan, dia menarik kursi untuk diduduki setelahnya. Bersama dengan sang istri yang sedari tadi sudah duduk terlebih dahulu, ia pun mulai memakan makanan yang tersaji.


"Maaf, hanya ini yang bisa aku siapkan." ucap Jesslyn penuh Sesal.


Lucas menggeleng. "Tidak masalah, ini sudah lebih dari cukup untuk mengganjal perut. Sebaiknya segera sarapan dan habiskan susumu, kita harus segera berangkat ke kantor." Ucapnya dan di balas anggukan oleh Jesslyn.

__ADS_1


Pagi ini ada rapat dengan para dewan direksi. Ada beberapa hal penting yang harus di bahas dan Lucas sampaikan pada mereka, yang semua masih berhubungan dengan perusahaan.


"Waktu kita hanya tersisa dua setengah bulan lagi, setelah kita berpisah kau akan pindah dari rumah ini atau tetap tinggal di sini?" Jesslyn mengangkat kepalanya dan menatap Lucas penasaran.


Lucas menggeleng. "Entah, aku masih belum memikirkannya. Masih ada dua setengah bulan lagi, aku akan memikirkannya nanti," jawabnya sambil membalas tatapan Jesslyn. Wanita itu mengangguk.


Selanjutnya kebersamaan mereka berdua hanya di warnai keheningan. Tidak ada obrolan antara Jesslyn dan Lucas, keduanya sama-sama diam dalam kesunyian, hanya terdengar suara piring dan sendok yang saling bersentuhan.


xxx


"Dia adalah Rebecca, dan Papa ingin kau menikah dengannya."


Sammy tidak memberikan respon apapun dan hanya menatap sekilas ke arah wanita cantik itu. Dia tampak kurang berminat padanya, bahkan Sammy tidak peduli meskipun yang di hadapannya adalah seorang bidadari. Karena yang dia inginkan bukan wanita lain tetapi Jesslyn, Sammy sudah terlanjur jatuh cinta padanya dan sulit berpaling pada wanita lain.


"Pa, sebaiknya suruh dia pergi dari sini. Aku tidak tertarik sama sekali." Sammy bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja.


"Sammy, jangan keterlaluan Kau!! Kembali sekarang juga atau jangan pernah kembali lagi ke rumah ini!" teriak seorang pria paruh baya yang merupakan ayah Sammy.


"Terserah!!" jawab Sammy tanpa menghentikan langkahnya.


"Sammy, Papa bilang jangan keterlaluan!! Perusahaan kita terancam bangkrut dan hanya keluarga Wang satu-satunya yang bisa menyelamatkannya. Apa kau benar-benar ingin kita semua sampai jatuh miskin? Benar itu yang kau inginkan?!" bentak Pria paruh baya itu dengan emosi.


Sammy mengepalkan tangannya dan menghela napas. Kemudian dia berbalik badan dan menatap sang ayah dengan kesal. "Baiklah, aku akan menikah dengannya!!"

__ADS_1


xxx


Bersambung


__ADS_2