
Jesslyn menutup matanya dan menghela napas. Malam sudah sangat larut, namun dia masih terjaga dan begitu sulit untuk menutup matanya. Pertemuannya kembali dengan membuka semua kenangan diantara mereka. Jesslyn sangat menyesali pertemuan mereka berdua, kenapa dia harus dipertemukan kembali dengannya dengan suasana dan status yang berada?!
Wanita itu tidak ingin bersikap munafik munafik. Meskipun bibirnya berkali-kali mengatakan jika dia sudah tidak mencintai Nicholas, namun jauh di dalam lubuk hatinya cinta untuk dia masih ada, meskipun tidak sebesar dulu. Nicholas adalah cinta pertamanya, itulah kenapa yang membuat Jesslyn tidak bisa melupakan dia sepenuhnya.
Tapp... Tap.. Tapp...
Terdengar surat langkah kaki seseorang yang datang. Sontak Jesslyn menoleh dan mendapati Lucas berjalan kearahnya. "Apa yang sedang kau lakukan di sini selarut ini?" tanya Lucas setibanya dia di depan Jesslyn.
Wanita itu menggeleng. "Tidak ada, hanya ingin melihat bintang. Kau dari mana? Kenapa pergi tidak bilang-bilang?" Jesslyn menoleh, dia balik bertanya.
"Dari depan. Aku kehabisan rokok jadi keluar untuk membelinya," jawab Lucas.
Jesslyn memicingkan matanya dan menata pria itu dengan pandangan terkejut. "Kau merokok?!" kaget Jesslyn. Lucas mengangguk, menjawab keterkejutan Jesslyn. "Sejak kapan, tapi kenapa aku tidak pernah melihatmu merokok di rumah?" Jesslyn menatapnya dengan bingung.
"Aku merokok hanya sesekali saja dan itu tidak setiap hari. Hanya ketika suntuk atau banyak pikiran," jawab Lucas menjelaskan.
Jesslyn mengangguk paham. Pantas saja dia tidak pernah melihat Lucas merokok secara langsung. "Oya, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu." Ucap Viona dengan serius. Dia ingin memberitahu Lucas jika sebenarnya Nicholas adalah mantan kekasihnya.
"Apa?" Lucas menatap Jesslyn penasaran. Tidak biasanya dia serius itu.
" Sebenarnya aku udah Nicholas saling mengenal. Dia adalah mantan kekasihku yang pernah aku ceritakan padamu, dan dia adalah cinta pertamaku..." Jesslyn tidak ingin ada rahasia diantara mereka berdua, itulah kenapa dia memutuskan untuk memberitahu Lucas jika sebenarnya Nicholas adalah mantan kekasihnya.
__ADS_1
Namun tidak ada tanggapan dari pria itu, karena Lucas sendiri bingung harus menjawab bagaimana. Dia hanya bertanya-tanya, kenapa dan mengapa Jesslyn memberitahunya jika Nicholas adalah mantan kekasihnya.
"Tiba-tiba aku mengantuk. Ayo masuk, sebaiknya kita tidur sekarang. Bukankah besok kau ada rapat dengan CEO dari WJ Group?" kata Jesslyn.
Lucas mengangguk. "Kau masuklah duluan. Habis ini aku menyusul." Ucapnya dan dibalas anggukan oleh Jesslyn. Kemudian dia meninggalkan Lucas begitu saja.
Jari-jari besarnya mengambil satu batang rokok dari kotaknya lalu menyelipkan diantara bibir bawah dan atasnya lalu menyulut ujungnya.
Lucas menghisap rokoknya, kepulan asap putih membumbung tinggi lalu menghilang tersapu angin malam. Asap rokok dan rambutnya di terbangkan oleh angin malam, membuat Surai berhelaian blonde itu tampak sedikit berantakan namun dia tidak peduli.
Tiba-tiba dia teringat dengan kata-kata yang baru saja di ucapkan oleh Jesslyn. Entah kenapa dia merasa kurang nyaman mendengar jika Nicholas adalah mantan kekasihnya, apalagi ketika melihat sorot mata Jesslyn ketika menyebutkan namanya. Seolah-olah dia masih mencintainya.
Lucas menghela napas. Membuang puntung rokoknya yang tinggal setengah lalu melenggang pergi meninggalkan balkon dan kembali ke kamarnya. Dia harus istirahat karena besok ada pertemuan penting dengan salah satu koleganya. Dan Lucas tidak bisa melewatkannya begitu saja.
xxx
Kedamaian seolah dan sejalan pelan di atas piano tersebut. Menjadi sebuah bagian dari kenyamanan yang dialiri oleh syair-syair indah yang terdengar samar di telinga siapapun yang mendengarnya.
"Melody ini?!" kedua mata Lucas yang sebelumnya masih tertutup rapat, seketika terbuka setelah dia mendengar alunan musik yang dimainkan oleh seseorang.
Lucas menyibak selimutnya kemudian buru-buru turun dari tempat tidurnya. Dia ingin tahu siapa yang sedang memainkan melody itu. Lucas menuruni tangga rumahnya dengan terburu-buru, dan suara itu ternyata berasal dari salah satu ruangan yang berada di rumahnya. Yang menjadi pertanyaannya, kira-kira siapa yang memainkan lagu tersebut, karena di dalam rumah ini hanya ada dirinya dan Jesslyn.
__ADS_1
Mungkinkah Jesslyn? Lucas tak yakin. Sampai akhirnya mata hitamnya melihat seorang wanita yang sedang duduk di sebuah kursi panjang sambil memainkan piano itu dengan hebatnya. Jari-jari lentiknya terus menari diatas tut-tut piano hingga menciptakan alunan musik yang begitu merdu di telinga.
"Dari mana kau mengetahui lagu itu?!" dan pertanyaan itu nantikan gerakan tangan Jesslyn detik itu juga.
Sontak dia menoleh dan mendapati Lucas berjalan menghampirinya. "Oh, kau sudah bangun." Dia bangkit dari duduknya lalu menghampiri Lucas. "Aku tidak sengaja menemukan piano ini di sini, jadi aku iseng-iseng memainkannya, dan ternyata masih berfungsi dengan sangat baik." Ujar Jesslyn.
"Bukan itu yang ingin aku tanyakan padamu, tapi dari mana kau bisa mengetahui tentang lagu itu?" Lucas menatap Jesslyn penasaran.
Lucas kembali melayangkan sebuah pertanyaan pada Jesslyn, dia benar-benar ingin tahu dari mana Jesslyn mempelajarinya. Karena lagu itu adalah ciptaannya, dan hanya dua orang saja yang mengetahui tentang lagu tersebut. Yakni dirinya dan juga seorang gadis yang merupakan teman Lucas saat masih duduk di sekolah menengah dulu. Makanya Lucas bertanya-tanya darimana Jesslyn bisa mengetahui tentang lagu tersebut.
Wanita itu menggelengkan kepala. "Aku sendiri tidak tahu dari mana aku mengetahui lagu itu. Aku merasa pernah mendengar dan memainkannya, sayangnya aku tidak ingat kapan dan di mana. Dan saat aku melihat piano itu. Tiba-tiba aku ingin memainkan lagu itu." Jelas Jesslyn.
Lucas terdiam setelah mendengar penjelasannya. Dia tak melihat adanya kebohongan dari mata itu. Yang artinya, Jesslyn mengatakan yang sebenarnya. Tapi yang membuat Lucas penasaran dan bertanya-tanya adalah dari mana dia mengetahui lagu tersebut.
"Memangnya kenapa? Apa lagu itu mengingatkanmu akan seseorang?" tanya Jesslyn memastikan.
Lucas menggeleng. "Tidak, lupakan saja tentang lagu itu." pinta Lucas dan pergi begitu saja. Wajah tampannya tdiak menunjukkan ekspresi apapun, datar. Bahkan ketika berbicara sekalipun nada bicaranya sangat dingin dan sedikit tidak bersahabat, sehingga Jesslyn kebingungan dan bertanya-tanya.
Jesslyn tidak mau ambil pusing dengan sikap Lucas. Wanita itu mengangkat bahunya dengan acuh. Kemudian lenggang keluar meninggalkan ruangan tersebut dan pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Bukan makanan yang mewah, hanya Sandwich, karena hanya itu satu-satunya makanan yang bisa dia masak dengan sempurna. Untungnya Lucas tidak pernah mempermasalahkannya.
xxx
__ADS_1
Bersambung