
Setelah melewati hari yang sangat panjang dan melelahkan. Akhirnya Jesslyn bisa bernapas lega sekarang. Wanita itu menyandarkan punggungnya pada sandaran mobil yang sedang di kemudian oleh Lucas, mereka berdua sedang dalam perjalanan pulang.
Jesslyn terus menutup matanya. Lelah terlihat jelas di kedua matanya yang sayu. Lucas menoleh, menatap sisi wajah sang istri. "Kau lelah?" tanyanya memastikan.
"Hm,"
"Nanti setibanya di rumah aku bantu memijit pundakmu." ucap Lucas dengan pandangan lurus ke depan.
Jesslyn menggeleng. "Tidak perlu, kau sendiri pasti lelah setelah bekerja seharian. Mungkin karena aku belum terbiasa duduk dalam waktu yang lama, jadi punggungku terasa seperti mau patah," ucapnya.
Dia tidak ingin membebani Lucas, karena Jesslyn tahu jika suaminya itu juga pasti lelah. Bahkan pekerjaannya jauh lebih banyak dari Jesslyn, hampir seharian duduk di depan laptop dan tumpukan dokumen yang membosankan, Jesslyn tidak bisa membayangkan seberapa lelah Lucas saat ini.
"Kalau begitu aku akan memesankan kursi pijat untukmu. Supaya setelah pulang bekerja kau bisa merelaksasikan badanmu supaya otot-ototnya tidak tegang lagi."
"Nah, kalau itu aku bisa menerimanya. Karena bukan aku saja yang membutuhkannya, tetapi kau juga." Ucap Jesslyn.
Lucas hanya menganggukkan kepala, ternyata perempuan itu begitu memahami dirinya. Lalu apakah setelah mereka berpisah Lucas bisa menemukan yang sepadan dengan Jesslyn? Entah, Lucas sendiri tidak yakin.
Keheningan kembali menyelimuti kebersamaan mereka berdua. Tidak ada lagi obrolan antara Lucas dan Jesslyn setelah perbincangan singkat mereka barusan.
Lucas kembali fokus pada jalanan dan kemudi, sementara Jesslyn menutup matanya, sepertinya dia benar-benar lelah. Lucas tidak sampai hati untuk mengganggunya, akhirnya dia membiarkannya untuk tidur. Dan Lucas berencana membangunkannya setelah mereka tiba di kediaman Qin.
Kakeknya menghubunginya dan meminta dirinya dan Jesslyn untuk datang, Kakek Qin mengadakan jamuan makan malam di rumahnya. Bukan hanya Jesslyn dan Lucas saja yang datang, tetapi Tuan Valentino juga. Karena Tuan Valentino, Cris dan Kakek Qin sedang menyiapkan sebuah rencana. Jadi tidak mungkin jika dia tidak datang.
.
.
__ADS_1
Hampir tiga puluh menit berkendara. Mereka berdua tiba di kediaman Qin. Lucas pun segera membangunkan Jesslyn yang sedang tertidur pulas, dan sentuhan lembut pada pipinya membuat kedua matanya yang sebelumnya tertutup rapat sekarang terbuka sempurna.
Jesslyn tampak linglung karena nyawanya yang masih belum terkumpul. Wanita itu menyapukan pandangannya, dia mencoba memperhatikan di mana mereka berada saat ini. Dan setelah nyawanya sudah terkumpul sepenuhnya, Jesslyn sadar jika sekarang mereka berada di kediaman Qin.
"Bukannya ini rumah, Kakek. Untuk apa kita datang ke sini?" dia menoleh dan menatap Lucas dengan bingung.
"Kakek, menghubungiku dan meminta kita untuk datang. Kakek, bilang ingin mengadakan jamuan makan malam untuk kita semua, Papamu juga datang. Ayo turun," Lucas turun terlebih dulu kemudian di susul oleh Jesslyn.
Lucas merangkul bahu Jesslyn, keduanya berjalan beriringan memasuki kediaman Qin. Dan benar apa yang Lucas katakan jika ayahnya juga datang, dia sedang mengobrol dengan Kakek Qin dan juga kakak Lucas.
"Papa," seru Jesslyn seraya menghampiri sang ayah.
Tuan Valentino menoleh kemudian bangkit dari duduknya saat melihat kedatangan putrinya. Pria paruh baya itu tersenyum lebar melihat kedatangan Jesslyn. Kemudian ayah dan anak itu saling lepaskan Rindu.
"Karena semua orang sudah datang. Ayo, kita langsung saja ke meja makan. Kakek, sudah lapar." Ucap Kakek Qin sambil mengusap perutnya yang sedikit keroncongan.
.
.
Kakek Qin dan Cris saling melemparkan kode. Mereka sudah siap melancarkan rencananya yang telah di susun sebelumnya dengan matang oleh Cris. Dan Cris berani bersumpah, pasti setelah malam ini mereka berdua akan semakin lengket dan tidak ingin berpisah.
"Oya, bagaimana jika kita minum terlebih dulu. Kebetulan Cris membawa oleh-oleh dari luar negeri." ucap Kakek Qin. Dia mengajak mereka untuk minum.
"Astaga, aku hampir saja lupa. Tunggu dulu, akan ku ambil terlebih dulu." ujar Cris.
Dia bangkit dari duduknya lalu melenggang pergi meninggalkan meja makan. Dia hendak mengambil gelas dan wine special yang ia bawa dari luar negeri. Tak sampai lima menit Cris datang membawa wine dan beberapa belas di tangannya.
__ADS_1
Dua gelas yang ia pegang bersama wine adalah milik Jesslyn dan Lucas, yang di pinggirnya telah diolesi dengan obat perangssang. Karena jika di masukkan langsung ke dalam gelas itu akan sangat mencurigakan.
"Ini adalah wine terbaik dan sudah berusia ratusan tahun. Untuk itu aku ingin semua orang mencicipinya." Ucap Cris.
Cris meletakkan gelas tersebut di depan masing-masing orang yang masih belum beranjak dari meja makan. Pria itu mengurai senyum tipis, dia menatap lucas dengan pandangan misterius.
"Silahkan di nikmati, ayo kita bersulang." Ucapnya.
Lucas mengurungkan niatnya untuk meminum wine tersebut ketika hidung tajamnya mencium aroma yang begitu pekat. Dia merasa jika aroma itu bukan berasal dari wine tersebut. Hal yang sama juga di rasakan oleh Jesslyn. Dia memang bukan pecinta wine, tetapi dia memahami betul bagaimana aroma wine yang sebenarnya.
Jesslyn dan Lucas saling bertukar pandang. Mereka mencoba berbicara melalui bahasa non verbal. Sama-sama sadar ada hal mencurigakan. Mereka berdua pun sama-sama sepakat untuk saling bekerja sama.
Diam-diam Lucas mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Cris. Itu adalah nomor barunya sehingga dia tidak tahu siapa yang menghubunginya, demi menjaga privasi, Cris pun melenggang meninggalkan meja makan.
Tugas Jesslyn selanjutnya adalah menukar gelas Lucas dengan milik Cris, lalu membuang wine yang ada di gelasnya. Sedangkan Lucas mencoba mengalihkan perhatian dengan mengajak ngobrol Kakek Qin dan Tuan Valentino. Mereka sangat yakin jika mereka berdua terlibat dan bersekongkol dengan Cris.
"Bagaimana menurutmu, Kakek? Apa kau setuju dengan rencana yang aku ajukan ini?" tanya Lucas setelah menyampaikan sebuah gagasan ide tentang sistem baru di perusahaan.
Tampak pria itu berpikir. "Kakek, rasa tidak ada masalah. Bagus juga rencanamu, baiklah Kakek setuju."
Cris datang sambil menggerutu tidak jelas. Dia kesal karena seseorang berusaha untuk mengerjainya. Cris kembali bergabung dengan semua orang lalu meneguk wine miliknya tanpa rasa curiga, sampai ketika cairan berwarna merah itu habis dari gelasnya dan dia mencium aroma yang sangat menyengat.
Pupil mata Cris membulat sempurna. Dia menatap gelas tersebut dengan pandangan horor. Sekali lagi dia mengendus aroma di pinggiran gelas dan tidak salah lagi, itu adalah aroma obat perangssang yang dia masukkan ke dalam minuman Lucas dan Jesslyn. Dalam hatinya dia bergumam.
"Sial!! Ini namanya senjata makan Tuan!!"
xxx
__ADS_1
Bersambung