Pernikahan 180 Hari

Pernikahan 180 Hari
Kebahagiaan Yang Sempurna


__ADS_3

Jam di dinding menunjukkan pukul 06.00 pagi. Matahari mulai menunjukkan eksistensinya, cahayanya yang hangat mulai menyinari bumi Seoul yang mulai ramai oleh aktifitas orang-orang yang tinggal di sana. Di sebuah ruangan yang sangat besar bernuansa putih, ruangan itu di huni oleh sepasang suami-istri.


Lucas dan Jesslyn, dua mahluk berbeda gender yang meresmikan hubungannya dalam ikatan suci pernikahan sejak 6 bulan yang lalu itu. Jesslyn menggigit kuku-nya sambil memperhatikan wajah damai suaminya yang masih terlelap.


Jesslyn tersenyum tipis, ia tidak pernah bosan melihat pandangan indah yang ia lihat setiap paginya. Dimana ia pertama kali membuka matanya, selalu ada wajah tampan yang terpampang indah di depan mata hazel-nya.


Jari-jari lentiknya menyusuri wajah Lucas mulai dari mata, hidung dan bibir. Lalu pandangan Jesslyn bergulir pada lengan kekar sang suami yang terbuka melingkari pinggang rampingnya. Lelaki yang sangat di cintainya, pendamping hidupnya. Jesslyn mencintai Lucas? Entahlah, sepertinya begitu.


Setelah puas memandang wajah tampan Lucas, perlahan wanita itu melepaskan pelukan sang suami pada pinggangnya. Perlahan ia beranjak dengan sangat pelan dan hati-hati agar tidak mengusik tidur suaminya.


Jesslyn menyibak selimutnya, berjalan menuju kamar mandi dengan kaki tellanjang. 10 menit kemudian Jesslyn keluar dari kamar mandi, wajahnya lembab dan sedikit basah. Memandang Lucas sejenak, senyum tipis terlukis di bibir ranumnya. Jesslyn beranjak meninggalkan kamarnya.


Jesslyn berkutat di dapur menyiapkan sarapan untuk suaminya dan juga untuk dirinya sendiri. Pagi ini Jesslyn ingin membuat menu sederhana untuk sarapan mereka. Dan tidak sampai 1 jam beberapa menu berbeda tersaji rapi di atas meja. Wanita itu tersenyum melihat hasil karyanya.


Kemudian dia beranjak dan hendak memanggil Lucas sebelum ada sepasang tangan kekar yang memeluknya dari belakang.


"Hmm, sepertinya sangat lezat." aroma maskulin yang memabukkan menyambut indera penciuman Jesslyn.


Satu kecupan mendarat di pipi kanannya, Jesslyn tersenyum tipis. Di lepaskan pelukan itu lalu berbalik dan posisi mereka kini saling berhadapan. Jesslyn memperhatikan penampilan suaminya, wanita itu tersenyum tipis


"Sepertinya suami tampanku ini ingin menggodaku, eh?" ucap Jesslyn dengan seringai jahilnya. Lucas hanya memakai singlet putih dan jeans hitam panjang.

__ADS_1


Lucas menyeringai tipis. Diraihnya bahu Jesslyn membuat jarak di antara mereka terbunuh, tubuh mereka menempel sempurna. Jari-jari Lucas mengusap wajah cantik sang istri .


"Apa kau tidak menginginkan juniorku berada di dalam dirimu?" kata Lucas dengan nada menggoda. Lucas meraih tengkuk Jesslyn dan menyatukan bibir mereka.


Perlahan Jesslyn menutup matanya, merasakan sentuhan-sentuhan lembut pada bibirnya yang semakin lama menjadi lumattan-lumattan kasar. Sadar Jesslyn membalas ciumannya, Lucas mengangkat tubuh sang Istri lalu mendudukkan di atas meja makan. Kedua tangan Jesslyn memeluk pada leher Lucas. Lucas menelusup kan lidahnya kedalam mulut wanita itu dan mengabsen deretan gigi putihnya.


Sesekali Lucas mengajak lidah Jesslyn untuk menari bersama, lidah mereka saling membelit dan bertukar saliva di dalam mulut hangat wanita itu. Ciuman panas mereka berakhir saat Lucas merasakan pukulan ringan pada dadanya.


"Hhm, aku tidak berniat menggodamu sayang. Bukankah kau sudah terbiasa melihatku berpakaian seperti ini." ujar Lucas. Lucas mengambil vest hitam berkerah yang ia letakkan di sandaran kursi lalu memakainya.


"Kau tidak ke kantor lagi hari ini?" tanya Jesslyn sambil meletakkan nasi di atas piring di depan Lucas.


Jesslyn tersenyum memandang wajah Lucas "Apa pun keputusanmu, aku akan selalu mendukungmu." kata Jesslyn tanpa melepas kontak matanya. Luhan meraih tangan wanita itu lalu menggenggamnya.


"Tentu saja, jika bukan kau yang mendukungku lalu siapa? Aku sungguh beruntung memiliki istri sepertimu. Kita berdua akan hidup bahagia, bukankah begitu?" Jesslyn mengangguk.


Lucas memiliki saham sebesar 75%. Cukup untuknya agar tidak duduk di balik meja dan berkutat dengan meeting, tanda tangan kertas dan sebagainya.


Namun bukan berarti dia memilih untuk duduk diam sambil ungkang-ungkang kaki saja di rumah. Ada waktunya untuk bekerja, namun ada kalanya harus istirahat juga. Lagipula dia juga tidak akan jatuh miskin meskipun tidak bekerja selama satu tahun sekalipun.


"Oya, Lu. Ada kabar gembira yang ingin aku sampaikan padamu." Ucap Jesslyn.

__ADS_1


Lucas memicingkan matanya. "Kabar gembira apa?" tanya Lucas.


Kemudian Jesslyn mengeluarkan sesuatu dari saku dress yang ia pakai dan memberikannya pada Lucas. Wanita itu berkaca-kaca ketika menyerahkan benda tersebut pada Lucas.


"Lu, aku hamil. Kita akan segara memiliki anak." Ucap Jesslyn sambil tidak kuasa menahan air matanya.


Lucas terkejut. Dia menatap Jesslyn dengan pandangan tak percaya. "Benarkah?" Jesslyn menganggukkan kepala.


"Ya, tentu saja benar. Kau akan menjadi seorang ayah." Ucapnya dengan wajah penuh air mata.


Tanpa berkata-kata. Lucas menarik Jesslyn ke pelukannya dan memeluknya dengan erat. Melalui pelukan itu. Lucas ingin menyampaikan betapa bahagia dia sekarang. Dia benar-benar bahagia sampai-sampai tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Dan kehadiran si Baby akan semakin menyempurnakan cinta mereka.


"Terimakasih, Sayang. Aku sangat-sangat mencintaimu."


Jesslyn mengangguk. "Sama-sama. Aku juga mencintaimu."


Jesslyn menyeka air matanya dan tersenyum lebar. Akhirnya dia memiliki akhir yang bahagia. Dan kebahagiaannya kali ini tak luput dari apa yang ia perjuangkan pastinya. Berawal dari sebuah kontrak nikah. Berakhir dengan cinta yang tumbuh dihatinya dan Lucas.


xxx


Tamat

__ADS_1


__ADS_2