
Tuan Valentino memberanikan diri untuk bertemu dengan Jesslyn. Dia ingin meminta maaf pada putrinya tersebut yang sudah terlanjur kecewa pada dirinya. Tuan Valentino bisa memahami betul apa yang Jesslyn rasakan. Dan jika dia berada di posisinya, ia pun akan sangat kecewa.
Keheningan menyelimuti kebersamaan ayah dan anak tersebut. Tidak ada perbincangan antara Jesslyn dan Tuan Valentino, keduanya sama-sama diam dalam keheningan.
Tuan Valentino memberanikan diri untuk menatap Jesslyn secara langsung. "Jess, Papa ingin minta maaf padamu. Papa, memang bersalah dan sangat-sangat menyesali semuanya. Maafkan Papa, Nak. Papa, benar-benar minta maaf." Ucap Tuan Valentino dengan penuh sesal.
"Sudahlah, Pa. Semua sudah terlanjur dan terjadi, karena di sesali pun percuma. Masalah ini tidak perlu dibahas lagi karena aku sudah memaafkan, Papa." Jawab Jesslyn sambil tersenyum lebar.
Jesslyn memang sempat kecewa pada ayahnya. Tapi bukan berarti dia tidak bisa memaafkannya, apalagi Tuan Valentino adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki setelah kepergian ibunya.
Tuan Valentino bangkit dari kursinya dan langsung memeluk Jesslyn. Kini dia merasa lega karena Jesslyn telah memaafkannya.
"Terima kasih telah memaafkan Papa, Nak." Ucap Tuan Valentino sambil mengeratkan pelukannya pada Jesslyn
Situasi mengharukan itu disaksikan oleh dua pria berbeda usia selaku pemilik Rumah. siapa lagi mereka jika bukan Lucas dan Kakek Qin. Pandangan Lucas bergulir pada kakeknya, susah payah lelaki tua itu menelan saliva nya melihat tatapan tajam dan menusuk cucunya.
"Sebenarnya sudah sejak lama aku ingin bertanya padamu. Apa kau terlibat dalam kebohongan, Tuan Valentino?" tanya Lucas meminta penjelasan.
Sekali lagi Kakek Qin menelan saliva nya. Tatapan Lucas lebih tajam dari sebelumnya. Dan kediaman kakek Qin, Lucas anggap sebagai jawaban. "Jadi begitu, bagus sekali rencana kalian berdua. Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran kalian," Lucas menggelengkan kepala dan pergi begitu saja.
Benar dugaannya. Ternyata Kakeknya juga terlibat dengan pernikahannya. Itu artinya mereka berdua memang bekerja sama untuk membuat pernikahan terjadi, tanpa memikirkan perasaannya ataupun Jesslyn yang jelas-jelas hanya seorang korban.
Untungnya yang dinikahi oleh Lucas bukanlah wanita manja yang bisanya hanya merepotkan saja, sehingga dia tidak perlu terlalu kecewa untuk menerima perjodohan yang di lakukan oleh Kakeknya. Benar-benar kisah yang ironis dan sedikit menggelikan.
.
__ADS_1
.
Cklekkk..
Decitan suara pintu dibuka dari sedikit mengalihkan perhatian ludah dari laptopnya lelaki itu menoleh dan mendapati Jesslyn yang berjalan menghampirinya. dia hanya menatapnya sekilas tanpa berniat untuk bertanya apalagi menyapanya.
"Aku pikir kau masih di kantor," ucap Jesslyn mengawali perbincangan.
Lucas menggeleng. "Hari ini aku tidak lembur. Apa Papamu sudah pulang?" Lucas menutup laptopnya dan balik bertanya.
Jesslyn mengangguk. "Ya, dia baru saja pulang. Bagaimana kau bisa tahu jika dia datang kemari? Apa mungkin kau sudah pulang sebelum dia datang?" tanya Jesslyn memastikan.
Lucas mengangguk. "Ya," dan menjawab singkat.
Keheningan kembali menyelimuti kebersamaan mereka berdua tidak ada lagi obrolan di antara Lucas dan Jesslyn keduanya sama-sama diam dalam kebisuan. Tidak ada obrolan antara Jesslyn dan Luis setelah obrolan singkatnya tadi.
Jesslyn menggeleng. "Kau tidak perlu memberikan kompensasi apapun untukku, dan aku tidak ingin meminta apapun padamu." Jawab Jesslyn.
"Tidak bisa begitu. Meskipun hanya 6 bulan saja, kau tetaplah pernah menjadi istriku yang sah dan perpisahan tidak bisa merubahnya. Dan aku akan tetap memberikan apa yang seharusnya kau dapatkan setelah perceraian." Tutur Lucas.
"Kita bisa membahasnya nanti, tidak perlu terburu-buru. Lagipula masih ada lima bulan lebih sebelum kontrak nikah kita berakhir." Ujar Jesslyn.
Lucas mengangguk. "Ya, kau benar juga. Minggu depan aku ada acara di Busan, dan bisakah kau pergi bersamaku?" tanya Lucas memastikan.
Jesslyn tampak berpikir. Dia menganggukkan kepala. "Ya, tentu saja. Selama kontrak pernikahan kita belum berakhir , aku tetap menjalankan kewajibanku sebagai istrimu. Dan menemanimu menghadiri acara penting adalah hal wajib yang harus aku lakukan," terang Jesslyn.
__ADS_1
Lucas tersenyum lebar mendengar jawaban wanita itu. Jika saja pernikahan mereka dilandasi oleh cinta, mungkin saja Lucas akan menjadi pria paling bahagia di dunia karena memiliki istri sesempurna Jesslyn. Sayangnya pernikahan mereka hanya sebatas pernikahan kontrak saja, yang akan berakhir jika masanya telah tiba.
"Terima kasih, maaf karena harus selalu merepotkan mu." ucap Lucas penuh sesal.
Jesslyn menggeleng. "Bukan masalah yang besar, aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Jadi kau tidak perlu berterima kasih apalagi merasa sungkan padaku," Jawab Jesslyn.
Lucas menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis. Entah kenapa hatinya terasa hangat setiap kali mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Jesslyn. Dan sejak menikah dengannya, Lucas menjadi lebih sering tersenyum meskipun senyum yang dia tunjukkan tidak lebih tebal dari setipis kertas.
"Aku mandi dulu." Lucas meletakkan laptopnya lalu beranjak dan melenggang pergi dari hadapan Jesslyn.
Kemudian wanita itu beranjak dari kamarnya dan melenggang keluar. Sudah hampir jam 6 petang. Mungkin saja ada yang bisa dia kerjakan di dapur, meskipun hanya sedikit yang bisa dia lakukan, akan tetapi Jesslyn ingin membantu sebisanya.
Kedatangannya disambut baik oleh Kepala Pelayan Shin. Wanita itu masih belum pergi dari kediaman Qin, dia masih tetap bekerja di sana namun lagi sebagai kepala pelayan melainkan hanya pelayan biasa.
"Untuk apa seorang Nyonya Besar datang ke dapur? Apa kira-kira tangannya tidak kasar setelah memegang sayur-sayuran dan peralatan dapur?" kalimat sindiran keluar dari bibir wanita itu setibanya Jesslyn menginjakkan kakinya di dapur.
"Memangnya kenapa jika seorang Nyonya Besar menginjakkan kakinya di dapur? Yang lain saja tidak mempermasalahkannya, tapi kenapa kau malah sewot melihat ku datang kemari? Jika kau tidak suka aku berada di sini. Silahkan, kau boleh pergi dan lakukan pekerjaan lain. Tidak ada yang melarang mu!!" tukas Jesslyn menimpali.
Sementara itu. Beberapa pelayan yang menyaksikan langsung jabatan mereka berdua memilih untuk diam dan tidak ikut campur, karena mereka sadar dengan batasan yang mereka dimiliki. Mereka memilih jalan aman daripada harus terlibat masalah dengan Lucas dan Jesslyn. Apalagi si Nyonya Muda memiliki sifat yang tegas dan tidak mudah untuk di tandas.
"Tidak perlu menghiraukan wanita ini. Lanjutkan pekerjaan kalian," perintah Jesslyn pada tiga pelayan.
Mereka bertiga mengangguk dan menjawab dengan kompak. "Baik, Nyonya." Kemudian mereka melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda, Jesslyn turut membantu sementara Mantan Kepala Pelayan Shin memilih untuk pergi dan melakukan pekerjaan lain, tidak Sudi jika harus satu tempat dengan wanita itu.
xxx
__ADS_1
Bersambung