Pernikahan 180 Hari

Pernikahan 180 Hari
Tidak Bisa Tidur


__ADS_3

Jam dinding sudah menunjukkan garis vertikal, pukul setengah duabelas malam. Sudah cukup larut bagi orang-orang untuk tertidur lelap, tapi tidak perempuan cantik satu ini. Jesslyn masih terjaga dari tidurnya.


Dengan seksama, ia mendengarkan bunyi detak jam dinding yang berdentum beraturan. Nafas Lucas yang sedang tertidur di sampingnya terdengar jelas di telinganya, melambat sebelum semakin cepat. Dia heran, mengapa orang lain bisa tidur dengan cepat sementara dirinya tida?


Jesslyn menolehkan kepalanya ke arah suami kontraknya tersebut yang tertidur memunggungi dirinya, hanya terlihat punggung lebar yang tertutup sehelai kaos putih polos tanpa lengan.


Jesslyn menghela napas untuk kesekian kalinya. Dia benar-benar kesal pada dirinya sendiri yang tak kunjung tidur, padahal matanya sulit sekali untuk diajak kompromi. Dan dengan hati-hati, ia memanggil Lucas memastikan apakah dia benar-benar sudah tidur pulas atau belum.


"Lu, apakah sudah tidur?" tanya Jesslyn memastikan. Namun tidak ada jawaban karena Lucas sudah tidur pulas. Wanita itu menghela napas. "Kau benar-benar sudah tidur, ya?"


Untuk kesekian kalinya Jesslyn mengambil napas panjang. Kemudian dia beranjak dari tempat tidur dan berjalan kearah balkon. Mungkin melihat bintang sebentar tidak ada ruginya, siapa tahu setelah ini dia akan mengantuk? Ya, Jesslyn sangat-sangat berharap.


Semilir angin malam seketika menyambut Jesslyn ketika dia menginjakkan kakinya di lantai balkon. Jesslyn menutup matanya dan menghirup wangi angin malam. Kemudian gadis itu mendongakkan wajahnya ke angkasa dan menatap gemintang yang sekarang entah kenapa tidak terlihat bersinar karena tertutup awan gelap.


Apakah hujan akan turun? Entahlah, dia sendiri tidak tahu. Tiba-tiba Jesslyn ingin keluar dan berjalan-jalan di pusat kota. Namun ini sudah larut malam dan akan sangat berbahaya bayinya kelayakan seorang diri di tengah malam, selain itu pasti Lucas akan mengomelinya habis-habisan.


Wanita itu menghela napas. Jesslyn berbalik badan dan... "Omo!!" dia terlonjak kaget ketika melihat Lucas tiba-tiba berdiri di ambang pintu sambil melipat kedua tangannya. Wanita itu menutup matanya dan menghela napas. "Hampir saja kau membuat jantungku copot." Ucapnya mengusap dada.


"Ini sudah larut malam, apa yang kau lakukan di sana?" tanya Lucas, nada bicaranya dingin dan kurang bersahabat.


"Aku tidak bisa tidur. Lalu kenapa kau sendiri malah bangun?" tanya Jesslyn. Dia menatap suami kontraknya itu penasaran.


Kemudian Lucas menghampirinya dan berdiri di sebelah Jesslyn dengan posisi menghadap ke depan, posisi mereka saling berlawanan. "Ada gadis menyebalkan yang tiba-tiba bertanya apakah aku sudah tidur atau belum, makanya aku langsung bangun." Jawab Lucas dan membuat Jesslyn menoleh seketika.

__ADS_1


"Kau mendengar pertanyaanku tadi?" kaget Jesslyn.


"Tentu saja karena aku tidak tuli," jawab Lucas dengan acuh.


"Aku pikir kau benar-benar tidur. Tapi baguslah, dengan begini aku memiliki teman untuk mengobrol." ucap Jesslyn sambil tersenyum lebar. Dia tidak merasa bersalah sama sekali meskipun sudah mengganggu tidur suami kontraknya tersebut.


Sesaat keheningan menyelimuti kebersamaan mereka berdua, tidak ada obrolan diantara Lucas dan Jesslyn. Mereka sama-sama diam dalam keheningan. Sesekali Lucas menoleh dan menatap perempuan yang berdiri di sampingnya dengan tatapan yang sulit di jelaskan.


"Apa yang akan kau lakukan setelah kita berpisah nanti?" akhirnya sebuah pertanyaan keluar dari bibir Lucas dan mengakhiri keheningan di antara mereka berdua.


Jesslyn menoleh. "Entah, aku masih belum memikirkannya." Dan menjawab sambil mengangkat bahunya.


"Kau sendiri? Apa kau akan langsung menikah lagi setelah pernikahan kontrak ini berakhir?" Jesslyn balik bertanya.


Pandangan Jesslyn kembali pada langit malam."Mungkin aku akan pergi ke luar negeri untuk mewujudkan cita-citaku untuk menjadi seorang desainer ternama," Jesslyn tersenyum.


Menjadi seorang desainer adalah impian Jesslyn. Dia pernah kuliah dan mengambil jurusan desainer selama satu tahun di Paris, dan dia ingin melanjutkannya.


"Aku ingin meskipun sudah berpisah dan bukan suami-istri lagi, hubungan kita tetap terjaga dengan baik. Aku tidak ingin ada permusuhan seperti pasangan-pasangan kontrak yang lain setelah mereka berpisah. Aku harap kau tidak keberatan," ucap Lucas tanpa menatap lawan bicaranya.


Lucas menggepalkan tangannya dengan kuat. Ada rasa sesak yang menghimpit dadanya ketika mengatakan kalimat tersebut. Rasanya Dia tidak rela untuk berpisah dari Jesslyn, tanpa Lucas sendiri ketahui alasannya. Mungkinkah Dia sudah jatuh cinta pada istri kodratnya itu? Entahlah, Lucas sendiri tidak tahu.


"Ya, aku juga berharap begitu." Jawab Jesslyn sambil menutup matanya.

__ADS_1


Keheningan kembali menyelimuti kebersamaan mereka berdua. Tidak ada obrolan lagi setelah perbincangan singkat tersebut, keduanya sama-sama diam dalam suasana yang hening dan sunyi. Saking sunyi nya sampai-sampai terdengar suara detak jantung masing-masing.


Lucas menoleh dan menatap sisi wajah Jesslyn. Pria itu mengambil napas panjang dan menghelanya. "Udara semakin dingin. Ayo masuk," ucap Lucas seraya bangkit dari posisi bersandarnya.


Jesslyn dan Lucas mengayunkan kedua kakinya meninggalkan balkon dan kembali ke kamar. Mereka harus bangun lebih awal supaya tidak kesiangan karena harus bekerja.


xxx


Lucas terbangun saat merasakan sinar mentari pagi mengusik penglihatan. Dengan mata yang masih enggan membuka, Lucas melihat sesaat pada tirai jendela yang masih tertutup. Ada sinar mentari yang menyusup masuk seperti memata-matai dirinya dan sosok jelita yang berbaring di sampingnya.


Menoleh ke sebelah, Lucas mendapati Jesslyn yang masih tertidur pulas, wanita cantik yang kini telah berstatus sebagai istrinya


Seutas senyum terbit dari wajah khas baru bangunnya. Memperhatikan wajah polos Jesslyn yang masih berada di alam mimpi. Lucas mengangkat tangannya dan membelai wajah halus sang istri. Mulai dari mata, hidung sampai bibir ranum tipisnya.


Lucas mendekatkan wajahnya lalu Memberi kecupan lembut, tertahan di keningnya. Memejamkan mata, meresapi kecupan yang diberikannya. Sebelah tangan dipakai untuk membawa kepala Jesslyn menyandar pada lengannya.


Tangan bebas yang satunya ia gunakan mengusap punggung sang istri. Kembali dirinya tersenyum. Entah apa yang sedang dia lakukan sebenarnya sampai-sampai berani menyentuh Jesslyn.


Bangun pagi dan menemukan orang yang kau cintai ada di sampingmu, bersamamu, memang hal yang sangat menyenangkan.


Tapi yang menjadi pertanyaannya, apakah Lucas benar-benar sudah jatuh cinta pada Jesslyn? Bahkan dia sendiri pun tidak tahu dan tidak mengerti dengan perasaan yang dia rasakan saat ini. Apakah itu cinta atau bukan, biar waktu saja yang menjawabnya.


xxx

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2