
Pagi yang indah disambut oleh matahari pagi dan sejuknya udara yang belum terkontaminasi polusi asap kendaraan. Di langit yang membentang, burung-burung kecil bahkan dapat merasakan betapa besarnya kasih sayang sang pencipta untuk semua mahkluk hidup yang ada di bumi ini.
Sama halnya juga dengan yang dirasakan oleh seorang wanita cantik satu ini, Jesslyn sedang menikmati indahnya langit di pagi hari dari balkon kamarnya. Dia hirup oksigen yang masih bersih sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya.
Sepasang lensa pengamatannya tertutup rapat, dan kedua tangannya ia bentangkan. Sudah lama rasanya dia tidak melakukan kegiatan seperti ini.
"Ayo sarapan, aku sudah membuat nasi goreng untuk kita berdua," seru sebuah suara dari arah kamar. Sontak Jesslyn menoleh dan menganggukkan kepala.
Dia kemudian beranjak dari balkon dan menghampiri Lucas yang sedang siap-siap untuk pergi bekerja. Pria itu sedang berusaha memasang dasinya, namun selalu gagal. Akhirnya kegiatan itu diambil alih oleh Jesslyn.
"Sudah berapa lama aku menjadi seorang pemimpin? Tapi kenapa memasang dasi saja tidak bisa?" Jesslyn mengangkat kepalanya dan menatap Lucas dengan pandangan mencibir. "Begini saja tidak bisa."
Lucas mahir dalam segala hal dan bidang, tapi selalu gagal dalam memasang dasi. Dan sekarang Jesslyn baru percaya jika di setiap kelebihan pasti ada kekurangan.
"Jangan mencibirku, aku memang tidak pandai melakukannya, itulah kenapa aku tidak pernah memakai dasi ketika pergi ke kantor," Lucas menyayangkan protesnya pada Jesslyn yang baru saja mencibirnya.
Wanita itu menghela napas. Dia melanjutkan kegiatannya. Jari-jari lentiknya dengan sangat ajaib berhasil memasang dasi tersebut dengan sempurna.
"Tidak perlu tersinggung karena yang aku katakan adalah fakta. Bukannya kau memang tidak bisa memasang dasi sendiri dan harus mengandalkan orang lain, sekarang ada aku yang selalu siap untuk membantumu, tapi pikirkan lagi ketika kita berpisah nanti dan aku sudah tidak ada, pikirkan siapa yang akan melakukannya untukmu?!" ujar Jesslyn, kembali dia mengangkat kepalanya dan mengunci mata hitam milik Lucas.
Tanpa mengatakan apapun Lucas menurunkan tangan Jesslyn yang masih memegang dasinya lalu berbalik badan. "Untuk itu mulai sekarang aku harus membiasakan diri untuk melakukannya sendiri, karena tidak selamanya aku bisa mengandalkan orang lain." Ucapnya. Lucas mengambil sepatunya lalu memakainya.
"Ya, benar sekali yang kau katakan. Tetapi sebelum kontrak nikah kita berakhir, sebisa mungkin aku akan melakukan yang terbaik sebagai istrimu." Ujar Jesslyn.
__ADS_1
Gerakan tangan Lucas terhenti setelah mendengar apa yang Jesslyn katakan. Lagi-lagi dia merasakan masak yang luar biasa ketika wanita itu membahas tentang perpisahan mereka, seolah-olah ada rasa tidak rela untuk berpisah dengannya. Tapi mau bagaimana lagi, kesepakatan telah dibuat dan mereka sama-sama setuju untuk berpisah setelah 180 hari pernikahan mereka.
"Sebaiknya kita sarapan sekarang," Lucas beranjak dari hadapan Jesslyn dan pergi begitu saja.
Wanita itu menghela napas. Dia tidak tahu apa yang membuat sikap Lucas tiba-tiba menjadi dingin, apa dia membuat kesalahan atau mungkin salah dalam berbicara? Sepertinya tidak, sebisa mungkin Jesslyn menjaga setiap ucapannya agar tidak menyinggung perasaan Lucas, tapi sepertinya tidak begitu.
Jesslyn mengayunkan kedua kakinya lalu melenggang keluar meninggalkan kamarnya dan menyusul Lucas yang lebih dulu pergi ke meja makan. Dia tidak mau membuat pria itu menunggunya dirinya terlalu lama.
Selanjutnya mereka berdua menyantap sarapannya dengan tenang, tidak ada obrolan di antara pasangan muda tersebut, yang terdengar hanya suara piring dan sendok yang saling bersentuhan.
xxx
"Paman, ada apa Anda meminta saya untuk datang? Sepertinya ada yang sangat penting?"
Pupil matanya membulat sempurna setelah membaca isi perjanjian di dalam kertas tersebut. "Kontrak pernikahan, jadi tanpa sepengetahuan kita mereka berdua membuat perjanjian ini? Pernikahan mereka akan berakhir dalam waktu 180 hari, yang artinya hanya tersisa 3 bulan lagi sebelum mereka berdua benar-benar bercerai." Ujar Tuan Valentino dengan terkejut.
Tuan Valentino menggelengkan kepala. "Tidak bisa, ini tidak bisa dibiarkan. Paman, kita harus melakukan sesuatu, mereka tidak boleh berpisah apapun alasannya, aku tidak ingin memiliki menantu lain selain Lucas."
"Tapi bagaimana caranya? Paman, sendiri bingung." Ucap Kakek Qin dengan bingung.
"Itu gampang, Kakek, Paman, Aku memiliki solusi untuk memecahkan masalah ini," sahut seseorang dari arah pintu. Keduanya menoleh dan terlihat Cris memasuki ruangan.
Kakek Qin membulatkan matanya melihat kedatangan cucu sulungnya yang datang secara tiba-tiba tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Kemudian lelaki tua itu menghampirinya. "Cris..." seru Kakek Qin.
__ADS_1
"Maaf, karena aku pulang dan tidak memberitahumu dulu." Ucap Cris penuh sesal.
Kakek Qin menggeleng. "Bukan masalah. Memangnya solusi apa yang kau miliki untuk mengatasi masalah ini? Kami berdua benar-benar membutuhkan sebuah solusi untuk mengatasi permasalah, Jesslyn dan Lucas," ujar Kakek Qin.
"Kenapa tidak kita bikin mereka berdua melakukannya saja, karena aku sangat yakin jika Lucas dan adil ipar masih belum Pecah telor sampai sekarang. Dan jika kita membantu mereka pecah telur sampai membuat Jesslyn hamil, maka mereka tidak memiliki alasan untuk berpisah. Mereka pasti akan berpikir dua kali untuk mengakhiri pernikahannya, bagaimana menurut kalian?" Cris menatap mereka berdua bergantian
Sangat ekstrem memang, tapi sepertinya itu adalah satu-satunya cara yang paling akurat untuk mengatasi masalah tersebut. Tuan Valentino dan Kakek Qin pun menyetujui usul yang diberikan oleh Cris, sepertinya memang itu satu-satunya cara untuk mempertahankan pernikahan mereka berdua.
"Kalau begitu kau atur semuanya. Masalah ini kami serahkan padamu," ucap Kakek Qin dan di balas anggukan oleh Cris.
Mereka pun merasa lega setelah menemukan solusi untuk mengatasi permasalah Lucas-Jesslyn. Baik Tuan Valentino maupun Kakek Qin sama-sama tidak ingin mereka berdua sampai berpisah.
xxx
"Kau mau berangkat sekarang?"
Lucas mengangguk. "Ya," dan menjawab singkat."Lusa Kau sudah bisa mulai masuk kerja, aku akan meminta barang-barang sekretaris lama dibereskan terlebih dulu," ucap Lucas dan dibalas anggukan oleh Jesslyn..
"Tidak masalah, kapanpun aku siap. Kalau begitu hati-hati di jalan dan jangan mengebut. Oya, aku ada janji dengan Mia untuk belanja bersama, kebetulan banyak bahan-bahan di rumah yang sudah habis." Ujar Jesslyn.
Kemudian Lucas memberikan sebuah kartu pada Jesslyn. "Kalau begitu pakai ini, gunakan uang di kartu ini untuk belanja dan beli apapun yang kau butuhkan. Aku berangkat kerja dulu," kemudian Lucas beranjak dari hadapan Jesslyn dan pergi begitu saja.
xxx
__ADS_1
Bersambung.