Pernikahan 180 Hari

Pernikahan 180 Hari
Teguran Keras Lucas


__ADS_3

Hari Ini, adalah hari pertama Jesslyn bekerja di Qin Empire. Perusahaan yang berkembang pesat dalam bidang industri ini, sudah berdiri sejak lama.


Jesslyn bahkan sudah sangat mengetahui seperti apa sepak terjang Qin Empire. Qin Empire bahkan berada di urutan pertama Perusahaan Besar di Negara Korea Selatan, dan masuk tiga besar sebagai perusahaan paling berpengaruh di Asia.


Tidak hanya terkenal dalam negeri saja, melainkan sudah merambat ke negara-negara lain. Bahkan sudah banyak perusahaan yang mengakui betapa suksesnya perusahaan ini. Dan di hari pertamanya bekerja tentu saja Jesslyn tidak ingin meninggalkan kesan buruk.


"Apa ini?!" Jesslyn mengangkat kepalanya dan menatap bingung seorang wanita yang baru saja meletakkan tumpukan dokumen di atas meja kerjanya.


"Aku yakin kau tidak buta. Ini adalah dokumen-dokumen yang harus kau periksa terlebih dulu sebelum diantarkan pada, Presdir." ucap wanita itu.


Jesslyn menatapnya dengan bingung. "Kenapa harus aku? Bukankah ini adalah pekerjaanmu."


"Jangan banyak protes. Karena ini sudah menjadi pekerjaanmu sebagai orang baru. Kerjakan sekarang atau..."


"...Atau apa?!" sahut seseorang dari belakang. Sontak wanita itu menoleh.


Pupil matanya membulat sempurna melihat siapa yang berdiri di hadapannya. "Presdir," wanita itu menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap Lucas yanga sedang menatapnya dengan tajam.


"Memangnya siapa yang memberimu perintah dan kuasa untuk melakukan sesuatu seenak jidatmu. itu adalah pekerjaanmu Kenapa harus dilemparkan pada orang lain? Tugasnya hanya mengantarkan padaku. Ambil kembali dokumen-dokumen itu sekarang juga dan selesaikan pekerjaanmu sekarang juga atau tinggalkan perusahaan ini!!" Lucas memberikan peringatan tegas padanya. Dia tidak akan segan-segan untuk memencetnya jika masih berani menyulitkan Jesslyn.


Bukan karena Jesslyn adalah istrinya, makanya Lucas melindunginya. Dia hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan, karena itu memang bukan pekerjaan seorang sekretaris.


"Jangan segan-segan untuk melawan jika hal semacam ini sampai terpulang kembali. segera pergi ke ruanganku kita makan siang sama-sama." Pinta Lucas.

__ADS_1


Jesslyn menggeleng. "Itu akan terlalu mencolok. Aku akan makan siang bersama karyawan saja." Dia menolak perintah Lucas untuk segera pergi ke ruangannya. Jesslyn mengatakan akan makan siang di kantin bersama karyawan saja.


"Apa kau masih berani menolaknya jika ini adalah perintah dari atasanmu?!"


Lagi-lagi Jesslyn menggeleng. "Tentu saja tidak. karena perintah atasan adalah hal mutlak yang harus aku lakukan." Jawabnya.


"Nah, itu kau tahu. Segera pergi ke ruanganku sekarang juga. Eric, sudah menyiapkan makan siang untuk kita. Ingat, jika perintah atasan adalah hal yang mutlak, dan kau tidak memiliki alasan untuk menolaknya." Ucap Lucas.


Jesslyn menghela nafas. Sepertinya Dia tidak memiliki kesempatan menang untuk berdebat dengan Lucas kali ini. Dan Jesslyn tidak memiliki pilihan lain selain menuruti perintah dari suami yang merangkap sebagai atasannya tersebut.


Dengan enggan. Jesslyn bangkit dari kursinya lalu mengikuti Lucas ke ruangannya. Dia dan Lucas akan makan siang bersama di ruangan pria itu. Jesslyn mendecih sebal, Dia benar-benar benci jika harus menjadi pusat perhatian seperti ini, orang-orang tengah memandangnya dengan berbagai tatapan yang sulit dijelaskan ketika melihatnya memasuki ruangan CEO.


Ada yang merasa iri, ada juga yang memberikan tatapan seolah-olah ingin menerkam. Dan ini pertama kalinya CEO mereka memasukkan seorang wanita ke dalam ruangannya saat jam makan malam tiba. Sepertinya dia sangat spesial, begitulah yang mereka pikirkan.


"Bagaimana kesan pertamamu bekerja di sini?" pertanyaan Lucas mengakhiri keheningan diantara mereka berdua.


Jesslyn mengangkat wajahnya dan membuat pandangan mereka saling bersirobok. "Menyenangkan, tapi juga menyebalkan. Menyenangkannya karena akhirnya aku memiliki kegiatan, dan menyebalkannya harus berhadapan dengan manusia-manusia licik seperti wanita itu. Itu adalah plus-minusnya." Ujar Jesslyn.


"Aku harap kau bisa bertahan dan menyesuaikan diri dengan suasana di kantor ini. Kau tidak perlu khawatir, aku pasti akan melindungimu dengan baik. Tidak akan aku biarkan siapapun menindas mu," Ujar Lucas.


Jesslyn menggeleng. "Tidak perlu, aku bisa melindungi diriku dengan baik, kau hanya perlu mengawasi saja, tidak perlu sampai turun tangan langsung kecuali keadaan sangat mendesak." Pinta Jesslyn.


Lucas mengangguk paham. "Ya, sudah cepat habiskan makan siangmu, makan yang banyak kau jangan sampai kurus, aku tidak ingin di cap sebagai suami yang buruk karena tidak merawatmu dengan baik." Ujar Lucas.

__ADS_1


Bukannya merasa tersinggung. Jesslyn malah terkekeh mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Lucas. Wanita itu mengangguk. "Baiklah, aku tahu." Ucapnya sambil tersenyum lebar.


Untuk sesaat Lucas diam terpaku melihat senyum itu. Tiba-tiba dia merasakan getaran aneh, mungkin Lucas sudah jatuh cinta pada Jesslyn? Entah, hanya waktu yang bisa menjawabnya.


xxx


"Cris, apakah benar-benar yakin jika cara ini sangat manjur dan efektif untuk membuat mereka berdua tetap bersama?!" tanya Kakek Qin sambil menatap cucu sulungnya tersebut dengan pandangan tidak yakin.


Cris mengangguk dengan mantap. "Tentu saja aku yakin, Kakek. Dan aku yakin seyakin-yakinnya jika cara ini benar-benar efektif, nanti malam kita undang mereka berdua untuk makan malam di sini, dan aku akan melancarkan rencana hebat ku. Dan kau tenang saja, tunggu dan lihat saja bagaimana aku akan membuat mereka berdua tetap bersama hingga tua dan memiliki banyak anak-cucu." Ujar Cris panjang lebar.


"Tapi bagaimana jika Lucas sampai mengetahuinya? Kita berdua bisa habis di tangannya. Kakek, tidak ingin mengambil resiko, masalah ini Kakek tidak mau ikut-ikutan." Tutur Kakek Qin.


Dia tidak ingin terkena masalah oleh cucu bungsunya tersebut. Kakek Qin lebih memilih cari aman dari pada harus menerjang bahaya. Dia angkat tangan pada rencana Cris dan tdiak ikut-ikutan.


"Kakek tenang saja, itu tidak akan terjadi. Kakek percaya saja padaku semua akan baik-baik saja. Ikuti saja permainanku dan jangan mencemaskan apapun, oke." Ucap Cris sambil menepuk bahu kakeknya.


"Baiklah, Kakek percaya pada rencanamu. Tapi ingat, jika terjadi apa-apa jangan libatkan Kakek apalagi sampai mengungkit jika aku terlibat dengan ide gilamu itu. Aku benar-benar tidak ingin berkahir mengaskan di tangan Lucas." Ujar Kakek Qin.


"Iya iya, aku mengerti dan tahu apa yang harus aku lakukan. Jadi Kakek tenang saja, oke."


Kakek Qin sangat ketakutan. Dan Cris memahami betul ketakutannya. Tapi itu tidaklah penting, yang terpenting adalah rencananya berjalan dengan lancar, Luca dan Jesslyn tidak jadi berpisah dan mereka tetap bersama.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2