Pernikahan 180 Hari

Pernikahan 180 Hari
Bukan Kekasih, Tapi Suami


__ADS_3

Jalanan kota Seoul memang selalu padat ketika hari menjelang siang. Lalu lalang kendaraan pribadi dan umum sudah menjadi pemandangan umum bagi setiap warga yang tinggal di sana.


Di antara kendaraan-kendaraan mewah yang melaju memadati jalanan. Sosok pria tampan terlihat melajukan mobil mewahnya dengan kecepatan tinggi. Disebelah kanannya tampak seorang wanita cantik tengah sibuk berceloteh menceritakan banyak hal.


Pria itu menoleh. Sudut bibirnya tertarik keatas mendengar setiap ocehan yang keluar dari bibirnya. Wajah yang biasanya terlihat datar dan tidak banyak ekspresi dari wajah itu tampak sumringah. Tidak lagi terlihat tatapan dingin dan datar yang selalu Ia perlihatkan, senyum tampak tersungging di sudut bibirnya..


Laju mobil itu melambat lalu berhenti ketika melihat rambu-rambu lalu lintas berganti warna menjadi merah, yang berarti para pengendara harus berhenti.


"Oya Lu, kita akan makan malam di mana?" tanya seorang dara jelita yang pastinya adalah Jesslyn sambil menatap Lucas penasaran.


"Terserah kau saja. Kau tentukan sendiri dimana kita akan makan malam." Jawab Lucas.


Jesslyn tampak berpikir. "Em, bagaimana kalau kita makan malam di kedai langgananku saja? Aku bosan jika harus makan di cafe ataupun restoran bintang lima." Ucap Jesslyn.


Dia memberi usul pada Lucas untuk makan malam di kedai langganannya. Tidak ada penolakan, pria itu menyetujui usul yang diberikan oleh Jesslyn. Mereka menuju kedai yang dimaksud oleh wanita itu.


xxx


"Jangan pegang-pegang!!"


Sammy menyentak tangan Rebecca yang memeluk lengannya dan menatapnya dengan tajam. Mereka berdua sedang fitting gaun pengantin untuk pernikahan mereka akhir pekan ini. Sammy benar-benar tidak ingin menikah dengan wanita itu jika bukan karena terpaksa.


Rebecca bersikap acuh dan terkesan tidak peduli. Wanita itu hanya menatap sekilas kearah Sammy dan pandangannya kembali lurus ke depan.


"Sebaiknya jangan bertingkah dan jadilah anjing yang penurut jika kau tidak ingin berakhir mengenaskan, keberhasilan perusahaan mu untuk lepas dari kebangkrutan, semua tergantung pada sikapmu. Jika kau tidak ingin jatuh miskin dan hidup sengsara, sebaiknya menurut saja dan jangan banyak berulah!!" ujar Rebecca memperingatkan.

__ADS_1


Rebecca berbicara dengan nada yang begitu lirih, hingga tak seorang pun mendengar apa yang dia katakan. Sesekali Rebecca tersenyum pada tamu yang menghadiri pesta pertunangannya dengan Sammy.


Sammy menoleh, menatap Rebecca dengan tajam. Jika bukan karena terpaksa dan tekanan dari ayahnya, tidak mungkin saat ini Sammy dan wanita itu bertunangan. Dan setelah mengembalikan kejayaan perusahaannya, Sammy pasti akan langsung meninggalkannya.


"Sekarang kau boleh tertawa di atas masalah yang tengah dihadapi oleh keluargaku. Tapi lihat saja bagaimana aku akan membalas menanti, setelah perusahaan ku kembali berjaya maka aku akan langsung meninggalkanmu!!" jawab Sammy memberikan ancaman.


Rebecca menyeringai. "Silakan saja jika kau bisa, karena selamanya kau dan keluargamu tidak akan pernah bisa lepas dari keluargaku!!" ucapnya dan pergi begitu saja.


Gyuttt...


Sammy mengepalkan tangannya dan menatap punggung wanita itu yang semakin menjauh dengan tajam. Dia pasti akan memikirkan cara untuk membuat Rebecca membayar semuanya. Bagaimana pun caranya, pernikahan mereka harus batal.


xxx


Lucas menghentikanangkah mobilnya di kedai yang di maksud oleh Jesslyn. Pasangan suami-istri itu pun lekas turun dari mobil sedan mengkilap tersebut lalu memasuki kedai yang tampak sepi tersebut, seperti yang Jesslyn harapkan. Karena lebih nyaman makan saat tidak banyak orang, karena banyak yang melihat membuatnya risih.


Jesslyn mengangguk. "Tentu saja yakin. Kenapa memangnya? Apa kau keberatan untuk makan malam di sini?" tanya Jesslyn.


Lucas menggeleng. "Tidak sama sekali. Ayo masuk," dia meraih tangan Jesslyn lalu membawanya memasuki kedai tersebut. Wanita itu menganggukkan kepala. Jesslyn menatap tangannya yang di genggam oleh Lucas dan tersenyum lebar. Keduanya berjalan beriringan memasuki kedai tersebut.


"Bibi, tolong siapkan yang special untuk kami ya." Pinta Jesslyn pada pemilik kedai.


Wanita paruh baya itu menatap Jesslyn dengan tatapan bertanya. "Nona, sudah lama sekali kau tidak datang ke sini. Dan datang-datang dengan pria yang sangat tampan, apa dia kekasihmu?" tanya wanita paruh baya itu pada Jesslyn.


Jesslyn menggeleng. "Bukan kekasih, lebih tepatnya suami." Jawabnya tersenyum. Jesslyn mengatakan jika Lucas adalah suaminya pada orang lain dengan bangga. Ya, dia memang bangga karena memiliki suami seperti Lucas, jadi tidak salah bila Jesslyn membanggakannya.

__ADS_1


"Jadi Nona sudah menikah? Lalu bagaimana dengan mantan kekasih, Nona? Bagaimana kalian berdua bisa putus? Padahal dulu kalian sangat dekat dan mesra, Bibi benar-benar tidak menyangka jika kalian berdua akan berakhir dengan perpisahan." Ujar wanita itu panjang lebar.


Berkali-kali Jesslyn memberi kode pada Bibi pemilik kedai supaya tidak bicara lagi. Tetapi kodenya malah tidak disadari olehnya, Jesslyn merasa tidak enak pada Lucas, apalagi saat melihat sorot matanya yang tajam.


"Bibi, cukup!! Sebaiknya jangan membahas apapun lagi tentang masa lalu. Aku dan dia berpisah itu artinya kami tidak berjodoh. Bisakah kau siapkan pesanan kami sekarang atau~"


"Kita pergi saja dari sini, aku kehilangan selera!!" tiba-tiba Lucas bangkit dari kursinya lalu menarik Jesslyn meninggalkan kedai tersebut.


"Lucas, pelan-pelan." Seru Jesslyn. Kemudian dia mengimbangi langkah Lucas. "Apa kau marah padaku? Aku benar-benar tidak habis pikir dengan Bibi pemilik kedai, bagaimana bisa dia membahas tentang masa lalu di depanmu yang jelas-jelas sudah aku perkenalkan sebagai suamiku." Ujar Jesslyn penuh sesal.


"Apa orang yang dia maksud adalah, Nicholas?" tanya Lucas dan dibalas anggukan oleh Jesslyn.


"Ya, dulu kami berdua sering sekali datang ke kedai tersebut untuk makan malam. Tidak di sangka jika Bibi pemilik kedai masih mengingatnya, padahal pelanggan tetap nya bukan hanya kami berdua saja." Jawab Jesslyn.


"Aku tidak mau mendengar alasan apapun. Kau tidak boleh lagi pergi ke kedai itu, dan ini adalah perintah yang mutlak!!" tegas Lucas tak ingin dibantah.


Bukannya tersinggung karena dilarang pergi lagi ke kedai tersebut, Jesslyn malah tertawa dengan keras, membuat Lucas kebingungan dan bertanya-tanya..


"Apanya yang lucu?" tanya pria itu.


Jesslyn menggeleng. "Tidak ada. Kau saja yang menentukan di mana kita akan makan malam. Jangan rusak suasana romantis ini dengan wajah cemberut begitu. Aku lebih suka melihatmu tersenyum daripada cemberut." Pinta Jesslyn sambil menangkup pipi Lucas dengan kedua tangannya.


Lucas menurunkan tangan Jesslyn dari wajahnya lalu mengecup singkat bibirnya. Dan Ciuman itu sangat-sangat mengejutkan Jesslyn, terlebih lagi Lucas menciumnya di tempat umum.


"Kita ke restoran langgananku saja. Di sana lebih aman dan tidak ada yang berani tanya macam-macam." Ucap Luca dan di balas anggukan oleh Jesslyn.

__ADS_1


xxx


Bersambung


__ADS_2