
Namsan Tower terlihat lengang, tidak seramai biasanya yang selalu dipadati pengunjung. Udara dingin berhembus pelan, membuat pasangan muda-mudi yang memadu kasih mengeratkan genggaman tangan mereka untuk memberikan rasa hangat pada pasangannya.
Sepasang suami-istri baru saja menginjakkan kakinya di puncak menara. Siapa lagi mereka berdua jika bukan Lucas dan Jesslyn. Usai makan malam, mereka tidak langsung pulang tetapi memutuskan untuk jalan-jalan sebentar.
Pemandangan Seoul malam hari begitu menakjubkan. Kota ini penuh warna, semuanya bisa dilihat dari ketinggian. Cahaya yang berasal dari lampu-lampu terlihat seperti jutaan manik-manik tersebar di langit malam.
"Ternyata Kota Soul sangat indah saat di lihat dari ketinggian." ucap Jesslyn mengakhiri keheningan antara dirinya dan Lucas.
"Apa ini pertama kalinya kau datang kemari?" Lucas menghampiri Jesslyn kemudian berdiri disamping kanannya. Lucas menoleh membuat matanya saling bersirobok dengan mata Hazel milik Jesslyn.
Perempuan itu menggeleng. "Tentu saja bukan. Beberapa tahun lalu aku pernah datang kemari bersama mantan kekasihku untuk merayakan hari jadi kami yang kedua, namun ketika siang hari."
Tiba-tiba Lucas terdiam setelah mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Jesslyn. "Lalu bagaimana hubunganmu dengan mantan kekasihmu itu? Apa kalian berdua putus karena pernikahan ini?" tanya Lucas memastikan.
Jesslyn menggeleng. "Bukan. Hubungan kami telah berakhir jauh sebelum kita menikah. Aku tidak tahu apa sebabnya tiba-tiba dia menghilang dan tidak memberi kabar. Ada yang mengatakan jika dia telah menikahi perempuan lain pilihan kedua orang tuanya. Ada juga yang mengatakan jika dia pergi untuk mengejar cita-citanya. Tapi semua itu tidak pasti karena aku sendiri tidak tahu alasan dia pergi." Tutur Jesslyn panjang lebar.
Wanita itu mengambil nafas panjang dan menghelanya. Dia bertanya-tanya kenapa harus menceritakan masa lalunya padahal Lucas, apakah itu penting? Entahlah, Jesslyn sendiri tidak tahu. Lagipula sudah terlanjur, disesali sekalipun tidak ada gunanya karena sudah terlanjur menceritakan semua padanya.
"Lalu bagaimana denganmu? Apa kau tidak memiliki seseorang yang pernah menempati hatimu?" Jesslyn menatap Lucas penasaran. Tidak adil jika hanya dirinya sendiri yang bercerita, namun Lucas tidak. Dia juga ingin tahu tentang masa lalunya.
Lucas mengangguk. "Tentu saja punya. Namun hubungan kami sudah lama berakhir. Dia tidak tahan berhubungan denganku yang tidak pernah bisa romantis seperti kebanyakan pria di luaran sana. Satu bulan, hubunganku dan dia bisa bertahan. Dia memutuskan hubungan kami lalu pergi dengan ketua OSIS yang jelas jauh lebih tampan dan juga lebih romantis dariku." Terang Lucas panjang lebar.
Lagi-lagi mereka memiliki satu lagi kesamaan. Yakni sama-sama pernah patah hati dan kehilangan orang yang dicintai, meskipun caranya berbeda namun tetap saja itu menyakitkan.
"Sudahlah, sebaiknya tidak perlu di bahas lagi. Diingat pun tidak ada gunanya. Karena masa lalu sampai kapanpun tetaplah masa lalu," Ucap Lucas.
__ADS_1
Lucas tidak ingin membahas lagi tentang masa lalunya, apalagi sudah lama dia melupakan tentang orang itu yang entah bagaimana kabarnya sekarang. Entah baik-baik saja atau tidak, Lucas tidak tahu dan tidak peduli. Karena hal itu bukanlah urusannya lagi.
Pengunjung mulai berdatangan ketika malam semakin larut. Hal yang lumrah, karena semakin malam maka semakin indah pemandangan yang bisa dinikmati.
"Sudah malam, ayo pulang." Ajak Jesslyn dan di balas anggukan oleh Lucas.
"Jesslyn, awas!!" buru-buru Lucas menarik Jesslyn ke pelukannya ketika saat melihat beberapa anak muda berlarian dan harus menabraknya. Jesslyn jatuh ke pelukan Lucas.
Kontak mata di antara mereka pun tak terhindarkan. Insiden tersebut membuat mata berbeda warna milik mereka saling bersirobok. Semburat merah tampak di kedua pipi mereka, buru-buru Jesslyn melepaskan dirinya dari dekapan Lucas lalu menjauh darinya. Dia gugup setengah mati.
Lucas segera menyusulnya. Dia juga tidak memperkirakan akan terjadi insiden seperti itu. Dan jantung Lucas sedang tidak baik-baik saja, mereka sama-sama tidak baik-baik saja.
xxx
Amanda menggeleng. "Tidak, Kakek!! Aku akan tetap di sini dan menunggunya pulang, ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengannya dan tidak bisa ditunda lagi." Tegas Amanda.
Kakek Qin tidak tahu apa yang ingin disampaikan oleh Amanda kepada Lucas. Kakek Qin pun menjadi sangat penasaran, karena belum pernah dia melihat Amanda seserius itu. Mungkin saja benar-benar hal yang penting, sepertinya Kakek Qin memang harus memberinya waktu lagi untuk menunggu Lucas kembali.
"Baiklah kau boleh menunggunya. Tapi setelah urusanmu dengan Lucas selesai, kau harus langsung pulang." Ucap Kakek Qin.
Amanda mengangguk. "Tentu saja, Kakek. Lagipula tidak akan lama kok, apalagi sampai membuang-buang waktu." Tandas Amanda.
Panjang umur. Baru saja dibahas tiba-tiba orangnya datang. Dan kedatangan Lucas membuat senyum di bibir Amanda merekah seketika.
"Lu, akhirnya kau pulang juga. Sudah hampir satu jam aku menunggu kepulanganmu," ucap Amanda. Dia begitu kegirangan melihat Lucas yang sudah pulang.
__ADS_1
"Apa sebagai wanita kau sudah tidak memiliki harga diri? Bisa-bisanya kau menunggu kedatangan pria yang telah beristri?" sahut Jesslyn menimpali.
Namun senyum di bibirnya langsung pudar ketika menatap Jesslyn. Tatapan tidak suka jelas sekali Amanda berikan padanya.
"Memangnya kenapa kalau dia sudah memiliki istri? Masalah bagimu?! Jangan kau pikir hanya karena kau adalah istrinya, makanya kau bisa berbuat seenaknya dan melarang dia untuk dekat dengan wanita lain!!" celetuk Amanda.
"Aku bukanlah istri yang bodoh, yang akan membiarkan suamiku dekat dengan perempuan lain modelan sepertimu. Jangan bermimpi kau bisa mendekati apalagi merebutnya dariku, karena aku tidak akan membiarkannya!!" tukas Jesslyn dengan tegas.
Jesslyn benar-benar memerankan perannya sebagai seorang istri dengan sangat baik. Dia terang-terangan mengatakan pada Amanda jika tidak akan membiarkan Lucas dekat dengan siapapun apalagi sampai di ambil oleh wanita lain. Sedangkan Lucas tampak begitu menikmati pertunjukan tersebut.
"Kau~" Amanda menunjuk Jesslyn tepat di depan mukanya.
Dia kehilangan kata-kata setelah berdebat alot dengan Jesslyn. Ternyata dia tidak mudah untuk ditindas. Amanda benar-benar menemukan lawan.
"Pergi sekarang, tidak baik seorang wanita berada di rumah laki-laki yang telah beristri malam-malam begini. Atau kau ingin aku panggilkan security supaya menyeretmu keluar dari rumah ini?!" ancam Jesslyn bersungguh-sungguh.
Dengan kesal Amanda meninggalkan kediaman Qin. Dia kalah telak dari wanita itu. Ternyata Jesslyn bukanlah lawan yang mudah untuk di hadapi. Dari luar dia terlihat lembut, tapi siapa yang menduga jika sebenarnya dia adalah wanita yang sangat berbahaya.
Sementara itu. Tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menarik sudut bibirnya melihat keberanian Jesslyn dalam menghadapi Amanda. Ternyata Kakeknya menikahkannya dengan orang yang tepat.
.
.
Bersambung
__ADS_1