
Jesslyn membuka pintu ruang inap ayahnya dan menghela napas. Jelas-jelas dia tadi melihat Tuan Valentino duduk santai sambil menikmati anggur Hijau kesukaannya. Tapi saat dirinya masuk Tuan Valentino langsung berbaring. Dia menyembunyikan anggurnya di bawah selimut dan pura-pura menutup matanya.
Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap sang ayah dengan sebal. "Tidak perlu berpura-pura lagi, Pa. Aku sudah melihat semuanya." Ucap Jesslyn dengan nada tidak bersahabat.
Tuan Valentino membuka matanya dan menatap Jesslyn dengan sayu. "Jesslyn, kau sudah datang. Papa, sudah menunggumu dari tadi. Tubuh Papa tiba-tiba lemas dan tidak bertenaga. Jadi bagaimana mungkin Papa hanya berpura-pura." Ujar Tuan Valentino.
Jesslyn menyeringai dan menatap ayahnya dengan sinis. "Benarkah? Jadi Papa benar-benar sakit dan tidak berpura-pura? Hm, begitu ya. ASTAGA... KECOA!!" teriak Jesslyn tiba-tiba dan membuat pupil mata Tuan Valentino membelalak sempurna.
"Ke...Kecoa... Ma...Mana?" kaget Tuan Valentino sambil melompat turun dari tempat tidurnya. Dia tidak lemas apalagi tidak bertenaga. Tuan Valentino terlihat baik-baik saja.
Jesslyn bersidekap dada sambil menatap ayahnya dengan sinis. "Begini ya yang namanya lemas dan tidak bertenaga? Atau jangan-jangan kecoa membuat Papa sembuh dengan cepat?" ucap Jesslyn menyeringai.
Tuan Valentino langsung panik. Dia memutar otaknya dan mencari alasan yang tepat serta masuk akal. Jesslyn bisa curiga padanya jika dia tidak pintar-pintar mencari alasan.
"Eh, benar juga, ya. Tubuh Papa jadi bertenaga dan tidak lemas lagi. Jesslyn, Papa sudah tidak apa-apa dan itu berkat kecoa barusan. Hahaha..."
Jesslyn memutar jengah matanya. "Konyol." Alasan yang sungguh tidak masuk akal, jadi ayahnya hanya bersandiwara supaya dia setuju untuk menikah? Jesslyn tertawa, dia merasa miris dengan dirinya sendiri. Sampai segitunya supaya dia mau menikah dengan laki-laki pilihannya.
"Jesslyn, tunggu!!" seru Tuan Valentino menghentikan Jesslyn yang hendak pergi. "Papa, akan menjelaskannya padamu. Oke, Papa mengaku. Sebenarnya Papa tidak benar-benar sakit, Papa sehat dan hanya berpura-pura. Papa terpaksa melakukannya karena tidak memiliki pilihan lain." Tuan Valentino mengambil napas panjang dan menghelanya.
"Tuan Qin, datang ke rumah meminang mu untuk cucunya. Tanpa menunggu persetujuan darimu, Papa menyetujui dan menerima pinangannya. Dan ketika mendengar jawabanmu hari itu, Papa menjadi panik dan bingung. Papa tidak enak jika harus membatalkannya apalagi Tuan Qin dan Kakekmu bersahabat baik. Jadi Papa terpaksa berpura-pura sakit supaya kau setuju untuk menikah dengan, Lucas. Maafkan Papa, Jesslyn. Papa, benar-benar terpaksa melakukannya." Ujar Tuan Valentino panjang lebar.
Sesal terlihat dari raut wajahnya. Dia benar-benar menyesali perbuatannya. Namun di satu sisi, dia melakukan semua itu demi masa depan putrinya. Karena Tuan Valentino yakin bila Jesslyn akan bahagia dalam pernikahannya.
"Semua sudah terjadi, di sesali pun percuma saja. Jika aku membatalkan pernikahanku sekarang, itu hanya akan membuat keluarga kita malu. Mungkin aku tidak memiliki pilihan lain selain bertahan. Sebaiknya Papa berkemas, kita pulang. Sudah tidak ada alasan Papa tetap berada di sini," ucap Jesslyn.
__ADS_1
Dengan perasaan kecewa. Jesslyn meninggalkan ayahnya begitu saja. Bahkan dia tidak membantu Tuan Valentino untuk berkemas. Jesslyn terlanjur kecewa padanya, dia benar-benar tidak menyangka ayahnya akan berbuat sejauh itu.
xxx
Seorang lelaki muda terlihat memasuki sebuah gedung perkantoran yang memiliki tinggi hingga lebih dari 40 lantai. Laki-laki itu menghentikan langkahnya dan menghampiri bagian resepsionis.
"Apakah Anda sudah ada janji dengan ,Presdir? Jika belum Anda tidak bisa bertemu dengannya, Presdir kami sangat sibuk."
Laki-laki itu menyeringai sinis. "Apa dia sesibuk itu sampai-sampai harus membuat janji terlebih dulu jika ingin bertemu dengannya? Apa dia begitu hebat sampai-sampai orang di persulit untuk menemuinya."
"Jika Anda tidak berkepentingan dan datang hanya untuk membuat masalah. Sebaiknya Anda pergi saja, perusahaan ini terlalu sibuk untuk menerima tamu seperti Anda!!" ucap Resepsionis itu dengan tegas.
Dari cara laki-laki itu berbicara, terlihat jelas jika dia datang dengan tujuan yang tidak baik. Itulah kenapa wanita yang berdiri di balik meja resepsionis itu langsung mengusirnya pergi. Karena dia tahu laki-laki itu datang hanya untuk membuat masalah.
Wanita itu menghela napas. Dia segera melaporkan kejadian ini pada atasannya. Karena jika dia tidak melapor, maka dia akan di salahkan jika terjadi masalah seperti ini lagi. Jadi wanita itu mencari jalan aman dengan melaporkan masalah pada atasannya.
xxx
"Baiklah, akan segera aku tidak lanjuti." Kemudian laki-laki itu memutuskan sambungan telfonnya begitu saja.
"Siapa yang menghubungimu? Memangnya masalah apa yang hendak kau tidak lanjuti?" tanya seseorang yang duduk di balik meja CEO.
Sontak laki-laki bertubuh jangkung dan bertelinga caplang itu menoleh. "Bagian resepsionis. Barusan ada tamu tak diundang yang datang untuk membuat keributan, jadi dia langsung di usir dari perusahaan." Jawab laki-laki itu.
Lelaki itu memicingkan matanya. Menatap sahabat yang merangkap sebagai asisten pribadinya itu penasaran. "Siapa?"
__ADS_1
Si jangkung menggelengkan kepala. "Aku sendiri tidak tahu. Kita bisa melihatnya dari CCTV. Perlu aku putarkan videonya?" tawar si jangkung itu 'Arya'
Laki-laki itu yang pastinya adalah Lucas mengangguk. Dia sendiri penasaran siapa yang datang. Kemudian Arya beranjak dan meninggalkan Lucas begitu saja. Tidak sampai lima menit dia kembali dengan membawa sebuah laptop yang kemudian dia letakkan di atas meja.
"Bukankah dia adalah, Sammy Lim. Tapi untuk apa dia datang kemari dan ingin bertemu denganmu? Apa kau pernah terlibat masalah dengannya?" tanya Arya memastikan.
Lucas menggeleng. "Aku rasa tidak. Tapi bukankah dia memang terkenal dengan reputasi buruknya? Sepertinya dia sengaja datang kemari hanya untuk mencari masalah denganku," ucap Lucas.
"Lalu apa rencanamu? Kau akan membiarkannya atau datang menemuinya?"
"Dia yang butuh denganku, jadi untuk apa aku yang pergi mencarinya? Hanya membuang-buang waktu saja." tukas Lucas menanggapi.
Tiba-tiba Arya berhenti mengoceh saat melihat sesuatu yang berkilauan tersemat di jari manis Lucas. Laki-laki itu memicingkan matanya dan menatap benda itu dengan penasaran. Karena rasa penasaran itu juga, Arya menarik lengan Lucas dan membuatnya terkejut.
"Arya, apa-apaan kau ini?!" bentak Lucas dengan suara meninggi.
"Kau berhutang sebuah penjelasan padaku, Tuan Mida Qin. Apa maksudnya cincin ini menghiasi jari manismu? Seingat ku kemarin kau masih belum memakainya, tapi kenapa sekarang ada benda ini di jari manismu?" tanya Arya menyelidik.
Lucas mendengus geli. Sepertinya dia tidak perlu memberikan jawaban pada Arya. Mengabaikan lelaki itu. Lucas bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku. Yakk...!! Lucas, kau mau kemana?! Lucas, tunggu!!"
xxx
Bersambung.
__ADS_1