
Setelah 30 menit perjalanan, mereka sampai di sebuah restoran mewah yang letaknya tidak terlalu jauh dari kantor Lucas. Mereka pun langsung memasuki ruang khusus yang telah dipesan sebelumnya.
Seorang pelayan datang menghampiri meja mereka berdua untuk mencatat pesanan pasangan suami istri tersebut.
Tampak Jesslyn masih membolak-balik buku menu. Dia sedang mencari menu mana yang hendak di pesan, begitupun dengan Lucas. Lucas mengangkat wajahnya dan menatap Luna penasaran.
"Kau ingin memesan apa?" tanya pria itu.
"Sebentar, aku masih memilih." Jawab Jesslyn. Pelayan tersebut pun masih senantiasa menunggu mereka berdua menentukan menu yang akan di pesan.
Dan pelayan itu pun bergegas pergi setelah mereka berdua menentukan menu apa yang hendak di pesan. Sambil menunggu pesanan mereka tiba, Lucas dan Jesslyn saling berbincang membahas hal-hal kecil yang terjadi sepanjang hari ini.
"Lu, bagaimana kalau setelah ini kita jalan-jalan dulu? Aku ingin pergi ke Namsan Tower," usul Jesslyn.
"Boleh. Seperti pasangan yang lain. Apa kau juga ingin memasang gembok cinta di sana?" tanya Lucas dan dibalas eh bukan oleh Jesslyn.
"Ya, aku ingin mengunci cinta kita di sana lalu membuang kuncinya sejauh mungkin. Karena aku ingin hubungan kita berlangsung selamanya." Tukas Jesslyn.
Lucas meraih tangan Jesslyn lalu menggenggamnya. "Ya, itu juga yang aku harapkan dari pernikahan kita. Aku ingin selalu bersamamu dan menua bersama denganmu." Ucapnya sambil menarik sudut bibirnya keatas.
Jesslyn mengangguk. Dia mengangkat tangan kanannya lalu meletakkannya di atas tangan Lucas yang menggenggam jari-jarinya.
Mereka berdua tampak begitu romantis, padahal sebelumnya hubungan mereka bisa dibilang dingin seperti kutub Utara. Tapi hal tersebut sekarang tidak terlihat lagi dan mereka malah sangat romantis.
"Jesslyn?!" perhatian mereka berdua teralihkan oleh panggilan seseorang yang menyerukan nama Jesslyn. Keduanya lantas menoleh. Pupil mata Jesslyn membulat melihat siapa yang berjalan menghampirinya.
Tanpa menghiraukan Lucas. Dia bangkit dari kursinya lalu menghampiri wanita yang memanggilnya tadi. "Jie-Jie," keduanya kemudian berpelukan.
__ADS_1
"Uh, Baby. Akhirnya kita bertemu lagi, apa kau tahu jika aku sangat-sangat merindukanmu." Ucap Rebecca sambil mengeratkan pelukannya pada Jesslyn.
Jesslyn terkekeh geli. "Kau sangat menggelikan. Sifat seperti kucing sangatlah tidak cocok untuk wanita iblis sepertimu!!" ucap Jesslyn.
Sontak Rebecca melepaskan pelukannya dan menatap Jesslyn dengan sebal. "Jangan keterlaluan kau, Jesslyn Valentino!! Dan asal kau tahu saja, cuma kau satu-satunya orang yang berani memberikan cibiran padaku!!" tukas Rebecca.
Bukannya meminta maaf. Jesslyn malah tertawa mendengar ocehan wanita itu. Dan obrolan mereka berdua diinterupsi oleh kemunculan Lucas. Jesslyn tersenyum, dia menarik Lucas lalu mengenalkannya pada mantan seniornya ketika kuliah dulu.
"Oya, Jie, perkenalkan dia suamiku. Lu, dia Rebecca Jie-Jie seniorku dulu ketika kuliah dulu."
"Kau sudah menikah?" kaget Rebecca. Jesslyn mengangguk. "Kapan?"
Dia tidak tahu menahu bila Jesslyn sudah menikah dan memiliki suami. Wanita itu tidak pernah memberitahunya jika dia telah memiliki pasangan, bahkan undangan pernikahannya pun tidak sampai ke tangannya.
"Beberapa bulan yang lalu. Pernikahan kami dilakukan secara sederhana, aku dan dia sepakat untuk tidak menggelar pesta mewah." terang Jesslyn. "Ngomong-ngomong kau ke sini dengan siapa?"
"Kau sudah memiliki calon suami?" ucap Jesslyn memastikan. Wanita itu menatap Rebecca penuh selidik. "Jangan bilang jika calon suamimu ini bukan orang yang mencintai ataupun kau cintai, tapi orang yang memang terpaksa menikah denganmu?!" tebak Jesslyn 100% benar.
Bukannya tersinggung Rebecca malah tertawa mendengar ucapan wanita itu. Benar-benar tidak berubah sama sekali, Jesslyn masih mengenalinya dengan sangat baik. Rebecca mengangkat bahunya dengan acuh.
"Ya, begitulah."
Jesslyn mendengus. "Kau benar-benar tidak pernah berubah, Jie. kali ini pria mana yang menjadi korban pemaksaan mu? Aku benar-benar penasaran, memangnya ancaman seperti apa yang kau berikan padanya sampai-sampai dia setuju untuk menikah denganmu?" tanya Jesslyn penasaran.
"Panjang ceritanya. Lain kali saja aku ceritakan padamu. Ah, itu dia sudah datang. Sayang, cepat kemari aku ingin memperkenalkan pada seseorang." seru Rebecca pada seseorang yang berjalan menghampirinya.
Pupil mata orang itu yang pastinya adalah Sammy sedikit membulat melihat siapa yang sedang mengobrol dengan Rebecca. Sambil menggepalkan tangannya, Sammy menghampiri mereka bertiga.
__ADS_1
"Lama tidak bertemu, Presdir Qin." Sammy menyapa Lucas setibanya dia diantara mereka bertiga.
Jesslyn sedikit terkejut mengetahui siapa calon suami Rebecca, dia adalah orang yang sama yang pernah bersikap kurang ajar padanya diawal-awal pernikahannya dengan Lucas.
"Aku pikir siapa. Ternyata Tuan Muda dari keluarga, Lim." Jawab Lucas.
Rasa tidak suka begitu jelas terlihat dari sepasang biner mata hitam Sammy ketika menatap Lucas. Ada rasa benci, marah dan cemburu dari tatapan mata itu. Benci karena Lucas selalu selangkah lebih maju darinya, benci karena dia selalu lebih beruntung dari dirinya, dan benci karena Lucas yang mendapatkan Jesslyn.
Rebecca menarik Sammy dengan paksa untuk berdiri disebelahnya. Sepertinya Rebecca tidak perlu memperkenalkan Sammy lagi pada mereka berdua karena ternyata dia dan Lucas sudah saling mengenal.
"Karena kita berkumpul di sini. Bagaimana kalau kita lanjut mengobrol di cafe saja? Biar aku traktir kalian berdua minum kopi." Rebecca menatap pasangan muda itu bergantian.
"Tidak perlu repot-repot mentraktir orang asing. Kita pulang saja," Namun keinginan Rebecca di tentang oleh Sammy. Dia menolak untuk ngopi bersama mereka berdua dan memilih mengajak Rebecca untuk pulang.
Rebecca menyentak tangan Sammy dan menatapnya tajam. "Lepaskan!! Jangan berani-berani kau mengaturku atau aku tidak akan segan-segan padamu!!" ucap Rebecca sambil mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Sammy.
Melihat sikap mereka berdua membuat Jesslyn sangat yakin jika memang tidak ada cinta diantara Sammy dan Rebecca, melainkan karena adanya sesuatu yang memaksa keduanya untuk bersama-sama.
Jesslyn menoleh saat merasakan genggaman pada pergelangan tangannya. Dia menoleh dan menatap Lucas yang sedang memberi kode padanya. Jesslyn mengangguk.
"Jie, mungkin lain kali saja kau bisa mentraktir kami. Kebetulan aku dan Lucas sedang terburu-buru jadi tidak bisa ikut, sekali lagi kami minta maaf," ucap Jesslyn penuh sesal.
Rebecca merasa tidak enak pada Lucas dan Jesslyn. Padahal dia ingin sekali mentraktir mereka ngopi di cafe, tapi Sammy malah menghancurkan niatnya tersebut. "Baiklah kalau begitu. Kalian hati-hati ya di jalan." Ucap Rebecca.
Lalu pandangan Rebecca bergulir pada Sammy dan dia menatapnya dengan tajam. "Ini semua karena dirimu, jika bukan gara-gara kau pasti mereka berdua tidak akan pergi begitu saja. Kau akan tahu akibatnya!!" Rebecca mendorong Sammy dan pergi begitu saja.
xxx
__ADS_1
Bersambung