
"Setelah berpisah, apakah kita masih bisa menjadi teman baik?"
Langkah kaki yang mengiringi pria blonde ini terhenti begitu saja tatkala pikirannya terus berputar pada kata-kata yang sama. Padahal ini sudah satu Minggu berlalu sejak pertanyaan itu keluar dari bibir Jesslyn, tetapi rasanya tetap masih terbayang hingga detik ini.
Lucas menengadahkan kepalanya menatap langit senja yang mulai termakan oleh gelapnya malam. Pandangannya tertuju pada bintang-bintang di langit yang mulai memperlihatkan dirinya satu persatu hingga ia mengingat sesuatu. Ya, dia mengingat bahwa dulu sewaktu dirinya masih kecil, ada yang pernah mengatakan padanya bahwa bintang-bintang adalah perwujudan dari orang yang sudah meninggal.
Biasanya, orang yang sudah meninggal akan naik ke langit dan berubah menjadi bintang untuk mengawasi kita. Lucas tahu, hal ini begitu kekanakan dan rasanya sulit di percaya tapi dapatkah ia mempercayainya? Entah, karena Lucas sendiri tidak yakin dengan hal itu. Dia menganggapnya sebagai dongeng sebelum tidur.
"Presdir," perhatian Lucas teralihkan oleh kedatangan Eric. Kemudian dia berbalik badan dan kembali ke meja kerjanya. "Ini adalah laporan yang Anda minta, silahkan Anda periksa terlebih dulu."
"Nanti saja, aku selesaikan pekerjaanku dulu. Kau boleh keluar. Oya, tolong belikan minuman untuk Jesslyn, dan pastikan orang lain yang mengantarkannya. Aku tidak ingin dia mendapatkan masalah dari orang-orang yang tidak menyukainya, jika yang mengantarkan minuman itu adalah orangku." ujar Lucas dan dibalas anggukan oleh Eric.
"Baik, Presdir." Kemudian Eric membungkuk sebelum melenggang keluar meninggalkan ruangan Lucas, menyisakan pria itu sendiri di ruangannya.
Lalu pandangan Lucas bergulir pada Jesslyn yang tampak sibuk dengan pekerjaannya. Beberapa kali dia menguap seperti menahan kantuk, bahkan.lelah terlihat dari raut wajahnya.
Lucas selalu memperhatikannya, dinding kaca yang menjadi penghalang antara ruangannya dan Jesslyn mempermudahkan dirinya untuk selalu memperhatikannya. Sehingga Lucas tahu siapa saja orang-orang yang suka mencari gara-gara dan masalah dengannya.
Ting...
Pesan singkat yang masuk ke ponselnya sedikit menyita perhatiannya. Lucas hanya membacanya tanpa berniat untuk membalas pesan tersebut, karena itu bukanlah pesan yang penting. Dia menghela napas, Lucas kembali pada pekerjaannya yang sempat tertunda.
__ADS_1
xxx
Jesslyn menatap kedatangan seorang kurir dengan bingung. Dia merasa tidak memesan apapun, tapi tiba-tiba ada kurir yang datang mengantarkan minuman untuknya. Dan ketika Jesslyn bertanya minuman itu dari siapa, kurir itu pun tidak tahu karena tugasnya hanya mengirimkan saja.
Sampai Jesslyn menerima pesan singkat dari seseorang. Jesslyn membaca pesan tersebut. Kemudian Wanita itu menoleh kearah suami kontraknya yang tampak menganggukkan kepala. Sudut bibirnya tertarik ke atas, lalu pandangan Celine kembali pada layar laptopnya.
"Jess, ada bunga dan coklat untukmu." Salah seorang rekan kerja Jesslyn menghampirinya lalu menyerahkan bunga dan coklat padanya.
Wanita itu mengangkat wajahnya dan menatapnya dengan bingung. "Dari siapa?" Jesslyn bertanya dengan penasaran.
Karyawan bernama tag Lisa itu menggeleng. "Aku sendiri tidak tahu. Karena kurir yang datang mengantarkan bunga dan coklat ini tidak mengatakan apapun, selain bilang jika ada kiriman untukmu." Jawabnya.
Lalu pandangan Jesslyn bergulir pada Lucas dan menatap suaminya itu penuh tanya. Dia bertanya melalui bahasa non verbal. Dan tatapan itu seolah-olah berkata Apakah ini darimu juga?' kurang lebih itulah pertanyaan Jesslyn pada Lucas.
"Buang bunga dan coklat itu sekarang juga, bukan aku yang membelinya!!"
Kurang lebih begitulah isi pesan singkat yang dikirimkan oleh Lucas padanya. Ternyata bukan Lucas yang mengirimkan, tetapi orang lain. Pandangan Jesslyn kembali pada Lisa. "Aku alergi pada bunga dan coklat, jadi kau bisa mengambilnya. Bunga dan coklat itu untukmu saja," ucapnya.
Lisa membulatkan matanya dan menatap Jesslyn dengan pandangan memastikan. "Kau yakin ingin memberikan bunga dan coklat ini padaku? Tapi, Jess... Ini adalah coklat yang sangat mahal dan limited edition, apa kau tidak akan menyesal karena memberikannya padaku secara cuma-cuma?" sekali lagi Lisa mematikan.
Jesslyn menggeleng. "Tentu saja tidak. Kau ambil saja , bunga dan coklat itu untukmu." Jawabnya.
__ADS_1
Lisa tersenyum lebar. Segera ia mengucapkan terima kasih pada rekan kerjanya tersebut. "Oke, aku terima coklat dan bunga ini. Ngomong-ngomong terima kasih karena sudah memberikannya untukku." Dia terlihat sangat bahagia. Apalagi itu adalah coklat mahal dan Lisa kebetulan ingin sekali mencicipinya. Coklat yang istimewa yang harganya dua bulan gajinya.
Selepas kepergian Lisa, Lucas menghubungi Jesslyn dan mintanya untuk datang ke ruangannya. Wanita itu memicingkan matanya dan menatap suami kontraknya itu dengan bingung. penasaran kenapa Lucas memintanya untuk datang ke ruangannya, segera berdiri dan melanggar meninggalkan ruang kerjanya.
"Ada apa? Untuk apa kau meminta aku datang kemari?" Jesslyn bertanya tanpa basa-basi. dia hanya ingin tahu alasan kenapa Lucas sampai memanggilnya untuk datang ke ruangannya.
"Apapun alasannya, Aku tidak ingin kau menerima pemberian dari laki-laki lain selama kontrak nikah kita belum berakhir. Jika hanya sekotak coklat dan bunga jelek itu, aku juga bisa membelikannya. Dan aku tidak mau lagi melihat ada kiriman bunga datang ke kantor ini!!" ujar Lucas menegaskan.
Jesslyn mendengus berat. "Kau pikir aku yang meminta bunga dan coklat supaya di kirim padaku?! Bahkan aku sendiri tidak tahu siapa yang mengirim bunga dan coklat itu. Jadi bagaimana aku bisa mencegahnya. Oh, ayolah... kau jangan menyebalkan. Sudahlah, kalau tidak ada hal yang penting sebaiknya aku kembali ke ruanganku saja." Ucap Jesslyn. Dia beranjak dari hadapan Lucas dan pergi Begitu saja.
Dia pikir Lucas memanggilnya untuk datang karena apa. Ternyata hanya untuk membahas mengenai coklat dan bunga, wanita itu terus saja menggerutu tidak jelas, dan karena tidak memperhatikan jalan, tanpa sengaja dia bertabrakan dengan seseorang.
Akibatnya tubuh Jesslyn terhuyung ke belakang dan hampir saja pantatnya berciuman dengan lantai, Jika orang itu tidak menangkapnya dengan cepat pasti sekarang pantatnya sudah berdenyut nyeri.
"Nona, maaf. Apa kau tidak apa-apa?" tanya orang itu memastikan.
Jesslyn menggeleng. "Tidak, aku tidak apa-apa. Maaf, saya harus pergi sekarang." Jesslyn membungkuk kemudian beranjak dari hadapan pria itu dan pergi begitu saja. Pria itu lantas menoleh dan menatap kepergian Jesslyn dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Diam-diam dia menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis.
Kemudian dia melanjutkan langkahnya dan pergi ke ruangan CEO untuk bertemu langsung dengan pemimpin perusahaan. Dia adalah rekan bisnis Lucas yang berasal dari luar negeri, dan kedatangannya untuk membahas tentang kerjasama.
xxx
__ADS_1
Bersambung