
Sammy menghentikan langkahnya saat tanpa sengaja melihat Jesslyn keluar dari sebuah cafe seorang diri. Melihat ada kesempatan emas tak lantas dia sia-siakan begitu saja. Yang perlu dia lakukan hanyalah membuatnya terkesan dan merasa hutang Budi padanya.
Sammy menoleh, menatap sopirnya dengan serius. "Aku butuh bantuanmu." Ucap Sammy .
"Memangnya bantuan seperti apa yang Tuan Muda butuhkan?" tanya Sopir itu.
"Kau melihat gadis itu?" lelaki itu mengikuti arah tunjuk Sammy dan mengangguk. Kemudian Sammy memberikan arahan padanya, sopir itu mengangguk dengan paham. Dia mengerti maksud Tuan Mudanya. "Lakukan tugasmu dengan baik, aku akan pergi sekarang." Ucap Sammy dan dibalas anggukan oleh sopir tersebut.
Sammy menyeringai. Dia sangat yakin jika setelah ini sikap Jesslyn pasti akan melunak, dengan begitu akan lebih mudah baginya untuk bisa dekat dengan gadis pujaannya, dan keinginan semi adalah merebutnya dari pelukan orang yang saat ini bersamanya.
"Satu langkah lagi kau akan menjadi milikku!!"
xxx
Jesslyn meninggalkan cafe tempat dia makan siang bersama Lucas. Dia keluar terlebih dulu karena Lucas masih menerima telfon. Jesslyn tahu batasannya dan dia tidak ingin melewatinya. Dia memiliki privasi dan begitupun sebaliknya, mereka telah sepakat untuk menghargai privasi masing-masing.
Dengan tenang, Jesslyn berjalan kearah parkiran. Dia berencana untuk menunggu Lucas di sana. Baru beberapa langkah Dia berjalan, tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju cepat ke arahnya. "Nona, awas..." Beberapa orang berteriak memperingatkannya.
Sontak Jesslyn menoleh. Pupil matanya membulat sempurna melihat sebuah sedan hitam melaju kearahnya dengan kecepatan tinggi. Tampak di pengemudi sibuk dengan ponselnya dan tidak memperhatikan jalan.
Dan saat itulah Sammy berlari kearahnya sebagai Pahlawan kesiangan. Niatnya adalah untuk menyelamatkannya, dia terluka kemudian Jesslyn merasa bersalah dan berhutang Budi padanya. Sammy benar-benar telah merancang skenarionya dengan sangat sempurna.
Namun sayangnya dia terlambat. Karena seseorang lebih dulu berlari kearah Jesslyn dan menyelamatkannya. Orang itu menarik Jesslyn dan keduanya terguling di tanah,dan itu terjadi dengan sangat cepat.
Sammy hanya mampu diam terpaku di tempatnya. Rencana yang telah dia susun dengan matang malah hancur berantakan dalam hitungan detik saja, siapa lagi biang keroknya jika bukan Lucas. Lucas datang tepat waktu dan menyelamatkan Jesslyn lebih dulu. Ya, Lucas mendahuluinya dan itu membuat Sammy sangat-sangat marah.
__ADS_1
"Sial!! Semua berantakan, kenapa dia harus datang di saat yang kurang tepat?! Gagal lagi gagal lagi, benar-benar sial!!" Sammy marah-marah sendiri, dia benar-benar kesal Setengah mati karena semua rencananya untuk mengikat Celine dengan balas Budi malah gagal total. Sammy berbalik dan melenggang pergi.
Sementara itu ... Panik terlihat di raut muka Jesslyn ketika melihat darah segar terus keluar dari luka di pelipis kanan Lucas, pelipisnya terluka akibat berbenturan batu. "Lu, kau terluka." Seru Jesslyn dengan panik. Dia membantu Lucas untuk duduk.
Lucas menggeleng. "Tidak apa-apa, tidak perlu cemas, hanya luka kecil saja. Apa kau terluka?" tanya Lucas memastikan.
Jesslyn menggeleng. "Tidak, aku tidak apa-apa dan tidak terluka sedikitpun. Sebaiknya kita ke rumah sakit, terus mengeluarkan darah dan harus segera diobati." Ucap Jesslyn namun di tolak oleh Lucas.
Pria itu menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, hanya luka ringan saja. Di mobil ada kotak p3k, sebaiknya kau sendiri saja yang mengobatinya." pinta Lucas dan di balas anggukan oleh Jesslyn.
"Baiklah,"
.
.
Darah tampak di permukaan perbannya, yang menandakan jika luka itu masih baru.
"Kenapa kau tiba-tiba muncul dan menyelamatkanku? Bagaimana jika lukanya lebih parah dari ini? Bagaimana aku harus menjelaskannya pada, Kakek? Bisa-bisa diam malah menganggap ku sebagai menantu yang tidak berguna karena membiarkan suaminya terluka.
Lucas terkekeh. "Mana mungkin dia berani melakukannya. Selama ada aku, tidak akan ada seorang pun yang berani menindas apalagi memarahi mu, bahkan orang itu kakek sekalipun. Jika dia berani melakukannya, itu artinya kakek harus siap untuk berhadapan denganku!!"
Jesslyn terpaku melihat senyum yang tersungging di bibir Lucas. Senyum yang begitu menawan, dan sepanjang dia mengenalnya, baru kali ini Jesslyn melihatnya tersenyum meskipun senyum yang dia tunjukkan tidak lebih tebal dari sehelai tisu.
"Syukurlah kalau begitu. Itu artinya aku tidak perlu menyiapkan mentalku untuk menghadapinya ketika dia tahu kau terluka demi diriku," ucap Jesslyn menimpali.
__ADS_1
"Ya, begitu seharusnya. Kita langsung pulang atau kau ingin jalan-jalan?" tanya Lucas memberi penawaran.
Jesslyn menggeleng. "Kita langsung pulang saja, kau tidak dalam keadaan yang baik. Kau perlu istirahat," jawab Jesslyn dan disetujui oleh Lucas. Karena Lucas terluka, Jesslyn tidak mengijinkannya untuk mengemudi. Dan mobil Lucas dikemudian oleh wanita itu.
Keheningan menyelimuti kebersamaan mereka berdua. Tidak ada obrolan antara Lucas dan Jesslyn, mereka dalam kesibukan masing-masing. seperti Jesslyn yang sibuk dan fokus mengemudi, sedangkan Lucas tampak menutup matanya, mungkin untuk mengurangi pusing yang sedikit mendera kepalanya.
Sesekali Jesslyn menoleh. menatap lelaki yang duduk di sebelahnya, rasa percaya terlihat dari sepasang manik Hazel-nya. Jika saja bukan karena dia, Lucas tidak akan terluka. Dia berlari menyelamatkannya ketika melihat dirinya dalam bahaya tanpa memikirkan keselamatannya sendiri.
"Apa kepalamu pusing?" tanya Jesslyn memecah keheningan.
Lucas mengangguk. "Ya, sedikit." Jawabnya.
"Kalau begitu sebaiknya kau tidur saja, saat tiba di rumah aku akan membangunkan mu." Ucap Jesslyn menimpali. Kembali dia memfokuskan pandangannya pada jalan beraspal di depan sana. Keadaan di jalan cukup legang sehingga dia bisa mengemudi dengan tenang.
Lebih dari tiga puluh menit berkendara, mereka tiba di rumah. Bukan kediaman Qin melainkan rumah mereka sendiri, rumah yang mereka tempati sejak satu Minggu yang lalu. Jesslyn membangunkan Lucas yang sepertinya benar-benar tertidur,dengan lembut dia menyentuh lengannya sambil memanggil namanya.
"Apa kita sudah sampai?" Lucas bertanya setelah matanya terbuka sepenuhnya.
Jesslyn mengangguk. "Ayo turun," dia turun lebih dulu diikuti Lucas yang kemudian juga keluar dari kursi penumpang.
Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam. Tidak ada pelayan maupun penjaga yang siap membukakan pintu ketika mereka tiba di rumah.
Mereka benar-benar hanya tinggal berdua saja, tanpa pelayan maupun penjaga, hanya ada satu security yang berjaga di pagar depan. Bukan tanpa alasan, mereka sama-sama membutuhkan ketenangan. Itulah kenapa mereka sepakat untuk tidak menggunakan jasa pelayan.
xxx
__ADS_1
Bersambung