
Tubuh Jesslyn terpaku saat mutiara Hazel-nya bersirobok dengan sepasang mata hitam milik seseorang yang pernah mengisi ruang kosong di hatinya. Tubuhnya terpaku, bibirnya membisu. Ada kerinduan di dalam mata hazel-nya yang tertutup oleh rasa kecewa yang begitu besar.
Hal serupa juga di tunjukkan oleh orang itu yang sama terkejutnya dengan Jesslyn. Kontak mata diantara mereka pun tidak terhindarkan. Mereka saling menatap selama beberapa saat, dan Jesslyn lah yang akhirnya mengakhiri kontak mata tersebut.
Tepukan pada bahunya mengalihkan perhatian Jesslyn dari orang itu. "Kau sedang melihat apa?" tanya orang itu yang pastinya adalah Lucas.
Jesslyn menggeleng. "Bukan siapa-siapa, ayo." Dia meraih tangan Lucas lalu memeluk lengan itu dan membawanya pergi dari pusat perbelanjaan.
Lucas sedang menemani Jesslyn membeli beberapa barang. Mereka berdua sama-sama memutuskan untuk tinggal terpisah dari Kakek Qin. Dan lelaki tua itu sudah menyetujuinya.
"Aku baru saja bertemu dengan mantan kekasihku," ucap Jesslyn tiba-tiba. Entah apa alasannya tiba-tiba Jesslyn memberitahu Lucas jika dia baru saja bertemu dengan mantan kekasihnya.
Namun tidak ada tanggapan dari Lucas. Dia bingung harus menjawab apa. Mengatakan jika dia cemburu, itu tidak mungkin karena tidak ada cinta diantara mereka berdua. Mungkin memang lebih baik diam , dari pada salah bicara.
"Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu?" Jesslyn menatap Lucas dengan tatapan bertanya. Sepertinya dia menunggu Lucas mengatakan sesuatu.
Lucas menoleh. Mata berbeda warna milik mereka kembali bersirobok. "Tidak, memangnya apa yang harus aku katakan?"
Jesslyn mengangkat bahunya. "Aku sendiri tidak tahu." dan menjawab singkat.
Keheningan menyelimuti kebersamaan Lucas dan Jesslyn. Mereka sama-sama diam setelah obrolan singkatnya. Tidak ada lagi obrolan diantara mereka berdua. Mereka masih berkeliling pusat perbelanjaan dengan saling diam dan tidak bersuara.
"Bukannya kau tadi ingin membeli hiasan rumah, kenapa malah di lewati tokonya?" tanya Lucas. Dia mencoba mengingatkan Jesslyn yang baru saja melewati toko furniture.
Jesslyn menoleh kebelakang. "Benarkah?" ucapnya memastikan. "Aku pikir masih di depan sana. Aku akan ke sana sebentar, kalau lelah kau bisa menungguku di cafe. Aku akan pergi sendiri." Ucap Jesslyn sambil menunjuk ke belakang.
"Akan aku temani," Lucas menyela cepat. Dan Jesslyn hanya menganggukkan kepala. Kemudian keduanya berjalan beriringan memasuki toko furniture tersebut.
__ADS_1
Banyak barang-barang yang ingin dia beli terutama tempat tidur dan sofa serta masih banyak lagi. Mulai dari lampu tidur, Lampur gantung , hiasan dinding dan meja serta masih banyak lagi yang harus Jesslyn beli. Yang akan mereka tempati adalah rumah baru, jadi wajar jika isinya belum terlalu lengkap.
.
.
"Apa sudah semua dan tidak ada yang kurang?" tanya Lucas memastikan. Jesslyn mengangguk, meyakinkan pada Lucas jika semua yang di butuhkan untuk mengisi rumah baru mereka telah terbeli semua.
"Jika ada kurangnya gampang, lain waktu kita bisa kembali lagi kemari. Yang penting barang-barang inti yang di butuhkan sudah ada semua." Jawab Jesslyn. Lucas mengangguk.
Mereka tidak banyak bicara dan lebih banyak diam. Setelah Jesslyn mengatakan pada Lucas dia bertemu dengan mantan kekasihnya. Lucas menjadi lebih banyak diam , bahkan setelah mereka di dalam toko. Lucas hanya bicara ketika Jesslyn bertanya dan meminta pendapat darinya. Dan dia hanya berbicara seperlunya saja.
.
.
"Apa sudah semua dan tidak ada yang kurang?" tanya Lucas memastikan. Jesslyn mengangguk, meyakinkan pada Lucas jika semua yang di butuhkan untuk mengisi rumah baru mereka telah terbeli semua.
Mereka berdua saling menatap selama beberapa saat. Dan Lucas lah yang mengakhiri kontak mata diantara mereka. Dia beranjak dari hadapan Jesslyn untuk mengambil sebuah vas bunga kristal.
"Sepertinya ini juga bagus. Bagaimana menurutmu?" Lucas berbalik badan kemudian menunjukkan vas itu pada Jesslyn.
Wanita itu mengangguk. "Cantik, kita ambil juga yang ini." Ucap Jesslyn sambil tersenyum lebar. Dia menyukai vas bunga itu, ternyata selera Lucas bagus juga. Pikir Jesslyn.
"Ya, sudah. Ayo ke kasir." Jesslyn mengangguk.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju kasir untuk membayar semua barang yang di beli. Wanita itu sedikit deg-degan karena barang yang mereka beli lumayan banyak. Yang jelas uang yang harus mereka keluarkan juga tidak sedikit.
__ADS_1
"Kau ingin pergi ke mana lagi setelah ini?" tanya Lucas, mereka baru saja meninggalkan toko furniture.
"Bagaimana kalau kita makan dulu, aku sedikit lapar." Ucap Jesslyn dan di balas anggukan oleh Lucas.
Seorang pelayan menyambut kedatangan mereka berdua. Mereka diantar menuju meja dekat jendela pilihan Jesslyn. Pelayan lain datang membawa buku menu untuk mereka, dan pelayan itu juga bertugas mencatat pesanan mereka berdua.
"Itu saja," Jesslyn mengembalikan buku menu yang ia pegang pada pelayan yang berdiri di sebelahnya.
"Tunggu sebentar Nyonya, Tuan." Pelayan itu membungkuk dan melenggang pergi.
Seorang anak kecil tiba-tiba menghampiri meja Jesslyn dan Lucas. Dia memberikan sebuah bunga pada Jesslyn. "Permisi Kakak cantik, ini bunga untukmu. Seseorang memintaku memberikan bunga ini padamu. Katanya, bunga cantik untuk orang yang cantik." Ucap anak kecil itu dengan sangat lancar.
Bukan Jesslyn yang mengambil bunga itu, tapi Lucas dan mengembalikan pada anak kecil tersebut. "Nak, bawa pergi bunga ini dan kembalikan pada pengirimnya. Katakan padanya jika kakak ini tidak bisa menerima bunga darinya, dan ini tips untukmu." Lucas memberikan beberapa lembar won pada anak tersebut. Si anak mengangguk lalu meninggalkan mereka berdua.
Sontak Jesslyn menoleh dan menatap Lucas dengan bingung. "Selama kontrak pernikahan itu belum berakhir. Kita masih suami-istri, dan sebagai suamimu aku tidak suka jika kau menerima hadiah apapun dari laki-laki lain." Ucap Lucas seolah-olah mengerti arti tatapan Jesslyn.
Jesslyn mengangguk. "Aku tahu. Tadinya aku juga berniat untuk menolaknya. Tapi kau sudah mendahului ku. Jadi aku diam saja." Ujarnya. Mana mungkin Jesslyn menerima pemberian pria lain di depan Lucas. Dia masih memiliki pikiran, dan Jesslyn berusaha menjaga perasaan Lucas.
"Permisi Nyonya, Tuan. Ini pesanan Anda berdua." Kedatangan pelayan menginterupsi obrolan mereka berdua.
"Terimakasih," ucap Jesslyn dengan sopan. Bibirnya mengukir senyum tipis. Sedangkan Lucas hanya diam dan tidak memberikan tanggapan apa-apa , atau sekedar berbasa-basi mengucapkan terimakasih. Saat ini Lucas sedang dalam Mood yang kurang baik.
Selanjutnya mereka menyantap makanannya dengan tenang. Tidak ada lagi obrolan di antara mereka berdua. Keduanya sama-sama diam dalam keheningan.
xxx
Bersambung
__ADS_1